22.6.17

Selamat Jalan Ayahandaku: Bapak Fransiskus Kota





Bapak Fransiskus Kota
Lahir: Ratewati Ende 01 Desember 1940
Wafat: Tugasoki Ende 22 Juni 2017

Doa Buat Ayah

Ayah...
Kasihmu  yang kudapat tak terbatas
Kesederhanaan dan kesehajaanmu selalu kudamba
Mengukir asa dalam dada

Ayah..,
Warisanmu sungguh tak ternilai
 ilmu yang kau beri membawa aku ke jalan juang
Wujud cinta nan tulus bagi kami sang buah hati

Ayah...
Kini usiamu kian terbenam
Raga terkulai tersapu angin
Kucoba menggoreskan kisah lama
Dari selembar usang tak berharga
Di kala Engkau masih gagah dan tegar
seraya mengingat kisah di masa muda
Mengantarkan aku menoreh angan di masa mendatang

Ayah...
Kasih dan perjuanganmu akan kuteruskan
Sampai raga mengakiri nafas
Hanya untaian doa dan rasa syukur
Semoga Tuhan memberimu usia yang panjang
Namun kini engkau kian tak berdaya
Dalam dambaan kasih anak dan keluarga
Tunggu aku ya Ayah dikala ajal datang menjeputmu.

Namun Ayah....
Lantunan puisiku kini tinggallah duka
Untaian harapku hanyalah nestapa
Kini dikau telah tiada
Meninggalkan mama dan semua anak
Maka kuhanya meniti asa dan air mata

Ayah...
Kini kutuliskan puisi bernada duka
Kulantunkan doa beralur tangis
Aku tahu Dikau menanti putramu yang jauh
Jauh saat matamu memandang namun berpeluk erat
Dikala hati berbalut rasa
Tapi ajalmu datang di saat anakmu berpelu asa
Merangkai harap dalam ujian akhir
Aku tak berdaya Ayah...demi nasib dan cita-cita
yang kau damba yang harus kudapat

Ayah...
tatapan matamu terakhir tak kugapai
Tangisan laramu tak bisa kudapat
Aku jauh mengarungi nasib
Aku terlambat menggapai cita
Karena dikau mendambakan bahwa aku harus belajar

Ayah...
Kugoreskan untaian doa ini
Seraya menyapa dalam ribaan nuraniku
Kutulis puisi mengukir asa dalam angan
Dikau ku kenang dalam dambaan semua anak
Dikau ku puja dalam sayang semua cucumu

Ayah...
Terimalah maaf dari mama
Ampunilah salah dari anak-anakmu
Kiranya Tuhan membalas semua jasamu
Membawamu ke tahta surga nan mulia

Ayah...
Di malam nan sunyi dan sepi
Kutermenung mengarungi rasa
Rasa duka yang yang belum pudar
Rasa lara yang tak pernah padam

Ayah..
Walau ku berharap Dikau menanti
Dalam rasa sayang antara Bapak dan anak
Namun Tuhan sayang Ayah
Dia memanggilmu walau aku masih di Bali
Dia telah menjeputmu menghadap sang khalik
Hanya duka dan laraku boleh berkata:
selamat Jalan Ayah...
Dikau berjalan dalam terang Ilahi
Dikau dibawa menuju Surga Abadi
Bersama Tuhan Yesus dan Bunda Maria serta semua orang kudus.
Amin.


Bapak Fransiskus Kota



10.6.17

"Open Tournament" Siga Rembu Cup 2017 Di Desa Ekoae Wewaria Ende Nusa Tenggara Timur


Foto insert: klub Siga Rembu United Ekoae



Serba Serbi Siga Rembu Cup 2016 dan kita semua menanti perhelatan selanjutnya di tahun 2017.
Picture: Taken by Echol Kirie

Sebelum mendaftar, anda perlu mengetahui gambaran singkat tentang Siga Rembu Cup.

Secara singkat bahwa turnamen sepak bola kaki putra yang diberi nama "SIGA REMBU  CUP" dimana nama Siga Rembu merupakan nama tanah persekutuan adat Ratewati yang pusat pelaksanaan ritual adatnya di kampung adat Tugasoki. 

Turnamen SIGA REMBU CUP yang diselenggarakan di Desa Ekoae, Kec.Wewaria Kab.Ende NTT merupakan inisiatif dari para tokoh muda, para akademisi, para pencinta olah raga sepak bola yang didukung oleh Toko adat atau mosa laki serta pemerintah desa Ekoae yang memiliki tujuan bersama yakni mengolahragakan masyarakat dan memasyarakatkan olah raga khususnya bidang olahraga sepak bola. di sisi lain bahwa ajang ini bisa dijadikan sebagai momen memperkenalkan Tanah Persekutuan masyarakat adat Siga Rembu Ratewati kepada semua lapisan masyarakat khususnya di wilayah kab.Ende.Maka darinya diharapkan dapat melahirkan talenta - talenta berbakat yakni para pemain muda di desa Ekaoae dan akhirnya berkontribusi bagi tim sepak bola daerah kab.Ende dengan selalu mengedepankan pemaknaan warisan tradisi lokal melalui sepak bola.


Perhelatan turnamen tahunan Siga Rembu Cup telah bejalan kurang lebih 3 tahun. Salah satu bukti bahwa turnamen ini memiliki daya pikat yang luar biasa yakni ada begitu banyak klub bola kaki  amatir yang berpartisipasi, tidak hanya yang berada di kecamatan Wewaria namun juga wilayah kecamatan lain misalnya Detusoko, Maurole, Kota Baru, Wolo Waru dan yang lainnya.Adanya antusiasme masyarakat yang cukup tinggi maka sangatlah mungkin suatu saat turnamen ini akan  disponsori oleh pemda kab Ende khususnya bidang terkait yakni Dispora.

Turnamen tahunan ini telah membuktikan keterjaminan keamanan, menjunjung tinggi sportivitas atau fair play sebagai wujud kebersamaan dan persaudaraan yang dibangun melalui sepak bola. hal ini telah ditunjukan oleh panitia penyelenggara dengan kesuksesannya menyelenggarakan semua tahapan pertandingan dari babak penyisihan hingga babak final.Oleh karenanya, dari tahun ke tahun semakin banyak klub sepak bola amatir yang mengambil bagian dalam turnamen ini sebagai wujud bahwa Siga Rembu Cup layak untuk terus diselenggarakan ditengah keterbatasan dana dan fasilitas olah raga.

Sangatlah istimewa bahwa warisan nilai - nilai luhur tradisi adat dan budaya setempat ditransformasikan ke dalam sebuah turnamen sepak bola modern yang penyelenggaraan dijalankan di kampung kecil dengan sistem pengamanan seadanya namun kegiatan pertandingannya tetap kondusif. Secara kasat mata sulit untuk menemukan benang merah antara nilai - nilai tradisi dengan sepqk bola. Namun sebuah terobosan yang patut diapresiasi yakni media pewarisan dan pengenalan tradisi dapat dilakukan dengan berbagai cara yang mudah diperkenalkan secara luas salah satunya adalah penyelenggaraan turnamen sepak bola. Hal ini sangat tidak midah dan bertolak belakang terhadap anggapan dimana selama ini pertandingan sepak bola antar kampung atau desa selalu identik dengan kekacauan dan kekisruhan, sehingga sepak bola tidak lagi sebagai ajang olah raga dan hiburan namun  saat dimana selalu menciptakan permusauhan baik antar pemain maupun para suporter. Maka dari itu, para panitia Siga Rembu Cup berhasil mematahkan anggapan itu dan meletakan suatu image baru bahwa tim lawan dalam sepak bola bukanlah musuh melainkan sebagai sahabat dalam bermain.

Akhirnya, seluruh Ana Mamo Siga Rembu Ratewati mengajak semua para pencinta olah raga sepak bola di kabupaten Ende untuk terus mengambil bagian dalam turnamen ini dengan medaftarkan klub sepak bola amatirnya pada perhelatan SR CUP 2017. Dengan demikian potensi yang ada di daerah akan berkontribusi bagi kemajuan persebakbolaan nasional.

Bagi para pencinta sepak bola terutama tim-tim yang selalu mengambil bagian dalam SR CUP 1 sampai 3 harap bersabar terkait informasi kapan bergulirnya SR CUP IV 2017. Kepastian ada atau tidaknya turnamen berada panitia lokal, mengingat Kab.Ende selaku tuan rumah El Tari Memorial Cup (ETMC) 2017.


Salam Ana Mamo Siga Rembu Ratewati. Tana Siga eo Ria no,o Watu Rembu eo Bewa.

9.6.17

Musik Liturgi VS Pop Rohani

#COPAST
PERBANDINGAN MUSIK LITURGI DAN POP ROHANI.

1 SYAIR
 *Liturgi..  Khsus diciptkn untk.liturgi.bersumbr dri KS  atau  Teks ibadat/misa.sbgai ungkpn iman,hrpn kasih Pada Tuhan
  *Pop Rohani.. Puitis,umumnya memakai bahasa  sehari hari dan  Dan sangt individual.

2. MUSIK
 #Liturgi..Mendukung dan mengabdi pda syair serta demi kepentingan teks itu sendiri.
#pop Rohani... Belum tentu mndkng Syair, kadang bertolak blkng dgn isi syair. Musik seringkali mmbuat suasna mnjdi sentimntal ringan,kurg mntng dn cengeng.

3.FUNGSI /TUJUAN
#Liturgi... musik litrgi adalh suatu bgian yg integral dri pryaan liturgi
(fungsional):
*utk mngiri liturgi mis:perarkn
*mlgukn liturgi,mis: doa syukur/permohonan
*pewartaan  KS, ungkpn Iman
*untuk mmperindh ibadat (mnciptkn suasana perayaan)
#poprohani...tujuan utaMa untk hiburn rohani,untk mmberikn suasna rohani,untk show, bersng seng sja dn ga seringkli bersft komersial.mmng diciptkn untk kperluan luar ibadat

4.SIFAT
#Liturgi. EKLESIAL.....sellu dirayakn bersma sama dengn umt yg hadir (eklesial). Dialog dlm liturgi tdk berttngn dgn kbersmaan ttpi sblknya mngingktknnya
#popRohni. INDIVIDUAL..dibwakn sbgai yanyian solois(maka ad biduan atau artisnya) sesuai dgnsyairnya mnggnkn kta gnti"Aku" bkn "KAMI" atau "KITA". Sift lqgu ini tdk berubh, mskpun dbwkn olh pduan suara

5. ALAT MUSIKKKK
#LITURGI....organ pipa berkmbng sbgi alat khuss ibdt,krna diprcaya suaranya dpt mmriahkn upcra2 Gereja dn mngangkt  hati umat kepda ALLAH dn ke Surga
#PopRohani...sbgai musik hiburan/pop,mnggkn alt musik profan untk mnghdirkn msk ringn, disesuaikn dgn selera massal.......

#LITURGI#

8.6.17

Mengenal Ritual Adat Tahunan Tanah Persekutuan Masyarakat Adat Siga Rembu Ratewati


Gambar insert: Tampak bagian dalam rumah adat (Sa'o Nggua) di Kampung adat Tugasoki Ratewati


Kalender Upacara Adat Tahunan Tanah Peresekutuan Masyarakat Adat "Siga Rembu Ratewati Tugasoki" Desa Ekoae Kecamatan Wewaria Kab.Ende NTT.

1. Upacara Nggua Mbera atau dikenal dengan sebuatan "ka are mbera" (Thanksgiving Ceremony) dilaksanakan pada bulan Agustus sebagai ritual tahunan (Annual ritual). 

Upacara ini disertai dengan Ghia Mbera dan juga Gawi (tandak) sebagai wujud kebersamaan bagi para tokoh adat ( mosa laki) dan juga di antara para penggarap (fai walu ana kalo) yang ada pada tanah persekutuan masyarakat adat Ratewati. 

Dalam acara ini pula ritual adat Ka Are Mbera yang dilaksanakan di pelataran Kuwu (Balai Pertemuan) hanya diikuti oleh laki - laki dewasa baik yang berasal dari 7 klan (Embu lima rua) tanah Siga Rembu atau para tamu undangan yang hadir.Adapun hal yang harus diperhatikan disaat makan bersama yakni tidak boleh batuk, atau bersin.

Pada ritual ini semua jenis pelanggaran baik yang dilakukan oleh mosa laki atau pun para penggarap yang telah ditetapkan sesuai besarnya denda adat harus dikumpulkan.Biasanya jenis pelanggaran yang dilakukan antara lain "Tama sala are" artinya para penggarap menemukan bulir padi (esa are) pada barang bawaan ketika masuk ke kampung adat karena bulir padi atau are ku,i hanya bisa dibawa pada saat upacara Nggua mbera selain masa itu tidak diperkenankan. maka orang yang bersangkutan harus melaporkan kepada pihak mosa laki eko. Apabila tidak jujur atau dengan sengaja maka akan mendapat kutukan dari arwah leluhur misalnya sakit atau bahkan nyawa menjadi taruhan. Oleh karenanya maka dikenakan denda adat berupa babi satu ekor (wawi sa eko). Sehingga semua hewan yang menjadi denda adat harus disembelih pada upacara Nggua Mbera berlangsung.

Ritual Nggua Mbera pada zaman dahulu dilaksanakan sesudah musim panen (padi ladang) namun pada perkembangannya bahwa para penggarap ada yang menggarap sawah sehingga acara ini pun dilaksanakan pada bulan Agustus atau paling lambat di bulan November.

2. Upacara Po,o (Makan Nasi Bambu atau Bamboo rice festival) atau dikenal dengan sebutan " Sewu petu pera bera" artinya keadaan lahan yang panas dan api yang masih bernyala harus dipadamkan seraya memohon diturunkannya hujan serta tanah yang kering dan tandus dibasahinya dengan air. upacara ini dilaksanakan sesudah upacara Nggua Mbera.

Ritual ini untuk menandai bahwa musim tanam telah tiba. Semua lahan yang sudah dibakar dan dibersihkan siap untuk ditanam baik padi maupun jagung atau pun jenis kacang -kacangan serta umbian yang menjadi bahan makanan.Selain itu pula, penggarap juga menanam tanaman umur panjang atau komoditi seperti jambu mete, kemiri, kopi atau kelapa sesuai dengan kondisi lahan yang cocok untuk membudidaya jenis tanaman tertentu.

Pada upacara ini sebagai momen bagi para penggarap untuk memohon berkat dari arwah leluhur melalui para mosa laki agar apa yang akan ditabur dan yang akan ditanam dapat bertumbuh dengan subur dan menghasilkan buah yang baik sehingga hasil panenan melimpah. Pada bagian akhir ritual biasanya salah satunperwakilan dari tokoh adat yakni Mosa Laki Weri melakukan "Solo Gana" atau membuang Bambu bekas yang digunakan untuk memasak nasi tadi dengan cara melemparkan ke 2 belahan bambu tersebut. Apa bila belahan bambu terbuka maka akan menunjukan bahwa keadaan hasil panen pada tahun ini mengalami paceklik atau hasil panenan tidak melimpah dan fai walu ana kalo dilanda musim kelaparan. Sebaliknya, apabila belahan bambunya tertutup maka pertanda hasil panenan tahun ini sangat melimpah dan fai walu ana kalo mengalami kesejahteraan.

3. Adapun upacara lain yaitu sewu api. Upacara ini dilaksanakan di tana ria (tanah suku) yang diselenggarakan oleh mosa laki ria dan juga oleh mosa laki lo,o pada wilayah kekuasaannya atau boge lo,o geto gene.Ritual ini merupakan ritual syukuran akan apa yang dikerjakan pada tanah ulayat tertentu (boge lo,o geto gene) dengan mempersembahkan sesajen sebagai wujud syukur baik kepada arwah leluhur dan juga wujud tertinggi yaitu Dua gheta lulu wula Nggae ghale wena tana (Tuhan yang bertakhta di langit tertinggi dan Allah yang berpijak pada bumi terdalam).

Pada ritual sewu api tidak semua penggarap di tanah persekutuan masyarakat adat Siga Rembu Ratewati turut ambil bagian melaikan hanyalah penggarap yang menggarap lahan di wilayah kekuasaan tana boge lo,o geto gene.Sehingga penggarap yang bersangkutan akan dikenai biaya atau lewajiban untuk membayar upeti berupa beras, arak (moke) dan juga uang untuk membeli babi (wawi wela) sebagai hewan kurban pada upacara terasebut. walaupun ritualnya diselenggarakan oleh mosa laki lo,o maka para mosa laki pu,u wajib diundang untuk menghadiri upacara terasebut atau disebut te topo artinya keutuhan tanah persekutuan yang dilambangkan dengan sebuah pedang atau parang yakni tidak terbagi - bagi yang dimeteraikan dengan hewan kurban yang telah disembelih.

Note:
Gambaran umum ritual adat ini belum lengkap. kali ini admin hanya mencantumkan upacara besar, masih ada rutual lainnya yang tidak tercantum pada halaman ini.Terima kasih.Semoga bermanfaat bagi ana mamo Siga Rembu Ratewati.

9.5.17

Misteri Angka 2 Bagi Pak Ahok (Catatan Ahokers Flores NTT)



Foto: Sidang Vonis Pak Ahok 9 Mei 2017

Misteri Angka 2 Bagi Pak Ahok (Catatan para Ahokers Flores)

Kita  sepatutnya berbangga dan memberikan apresiasi yang luar biasa atas ketegaran  Pak Ahok yg telah menjalani proses hukum yg cukup panjang.Terima Kasih kepada semua pihak terutama Jaksa penuntut dan hakim serta para saksi baik saksi ahli maupun saksi di tempat kejadian yg telah menjalankan tugas negara sesuai kaidah dan undang - undang yang berlaku di Negeri ini.

Tentunya akan ada tanggapan dan reaksi beragam sesudah peristiwa hari ini 9 Mei 2017. Trending topik nasional dan dunia akan bertebaran di media massa, baik media cetak, elektronik dan juga online.Kini "Si Penista Agama itu telah mencapai garis akhir masa persidangan dan terbukti bersalah". Dan ini fakta yg tak terbantahkan yakni vonis 2 tahun penjara.

Bagi para pendukung Pak Ahok tentunya berharap bahwa putusan hari ini menyatakan Pak Ahok bebas, namun di sisi lain jutaan manusia di negeri ini yang menghendaki beliau di penjara dan akhirnya harapan itu terwujud serta terbalaskanlah aksi - aksi organisasi massa yang selama ini berkoar  - koar menuntut keadilan.

Dari peristiwa ini, tentunya Pak Ahok memiliki referensi panjang atas catatan hidup yang dialaminya baik yang bersifat birokrasi maupun kehidupan sosial. Ada begitu banyak peristiwa yang dilalui entah kinerjanya, tutur kata, perjuanganm serta program - program yang direncanakan dan yang telah dilaksanakan selalu menimbulkan pro dan kontra bagi seluruh elemen masyarakat Jakarta. Ada yang mendukung, namun tak sedikit pula yang berjuang untuk meruntuhkan dan menghancurkan bahkan secara esktrim ingin melelenyapkan "si pejuang" yang identik dengan "Si Penista Agama" itu.

Hari ini, angka 2 menjadi sebuah misteri yang sedikit tersingkap. Bagi Pak Ahok, angka 2 adalah angka kerberuntungan di saat pilkada DKI 2012. Dan segala perjuangan di Jakarta selama perhelatan Pilkada, Pak Ahok selalu bergelut dengan angka 2. Mulai dari nomor urut paket, salam 2 jari sampai pada putaran ke 2 pilkada DKI 2017. Hari ini angka 2 dianggap duka dan malapetaka. Akhirnya misteri angka 2 terperanjak pada dirinya yang divonis penjara selama 2 tahun. Sekali lagi angka 2 adalah angka misteri antara pilkada dan proses hukum dengan dakwaan kasus penistaan agama. Angka 2 hari ini mengarungi duka bagi jutaan Ahokers di negeri NKRI tercinta ini.

Namun, apapun keadaanmu Pak Ahok saat ini, tentunya jutaan masyarakat Indonesia masih membutuhkan ide dan kinerjanya untuk membangun bangsa ini. Biarlah masa ini menjadi saat untuk berinstropeksi diri. Perjuanganmu belum berakhir. Maju terus dan teruslah berjuang, karena sesungguhnya anda terlahir sebagai pejuang dan pemenang bukan sebagai pengecut dan  pecundang. Selamat menjalani masa tahanan sebagai bentuk konsekwensi hukum yang harus anda tanggung walaupun kebenarannya telah tersingkap.Viva Pak Ahok. Para Ahokers mendoakanmu selalu.

Catatan Lepas By Wara Cypriano

25.4.17

Pesona Pantai Ena Bara Maurole Menjadi Destinasi Wisata Baru di Kabupaten Ende


Pesona pantai Anabara menarik para wisatawan untuk menikmati keindahan pantai yang selama ini belum dikelolah secara baik. Seperti dilansir oleh @Rumah Terapi Lia RTL  digambarkan bahwa kondisi pantai Anabara perlu diperkenalkan secara luas baik oleh Dinas terkait maupun pemerintah kecamatan dan dess.

Pantai Anabara merupakan salah satu potensi wisata yang masih belum diketahui oleh banyak orang. Pantai tersebut terletak di Kecamatan Maurole, Kabupaten Ende - Flores, Nusa Tenggara Timur.

Keunikan dari pantai ini adalah ketika air laut surut pada sore hari, akan terlihat daratan sehingga pengunjung dapat berjalan hingga tengah laut.

Disuguhi pemandangan Gunung Rokatenda dan matahari terbenam yang sangat indah menjadikan Pantai Anabara merupakan salah satu investasi tempat wisata yang dapat diandalkan.

Sayang Pantai dengan potensi wisata ini masih kurang dipromosikan ditambah minimnya perhatian dari Pemda setempat.

Kalau kamu berkunjung ke Ende - Flores, jangan lupa mampir kesini yah. Tentunya foto dan postingan kamu juga ikut berkontribusi dalam mempromosikan potensi pariwisata di daerah Flores yang kebanyakan masih belum ter-expose baik oleh instansi setempat, media maupun wisatawan (traveler).

Ayo ke Flores! 🏃

Located: Pantai Anabara, kec.Maurole, kab.Ende - FLORES/NTT

#PantaiAnabara
#AnabaraBeach
#EndeUtara
#Maurole
#wonderfulindonesia
#pesonaindonesia
#ende
#floresisland
#pulauflores
#exploreflores 
#nusatenggaratimur 
#Indonesia

10.4.17

Selalu Bersyukur

#COPAS
KETIKA
Aku ingin hidup KAYA...
Aku lupa, bahwa HIDUP itu sendiri adalah sebuah KEKAYAAN.

KETIKA...
Aku takut MEMBERI...
Aku lupa, bahwa SEMUA yang aku miliki juga adalah PEMBERIAN.

KETIKA...
Aku ingin jadi yang TERKUAT...
Aku lupa, bahwa dalam KELEMAHAN.... Tuhan memberikan aku KEKUATAN.

KETIKA...
Aku takut RUGI...
Aku lupa, bahwa HIDUPKU... Adalah sebuah KEBERUNTUNGAN, karena Anugerah NYA.

Ternyata hidup ini sangat indah...
ketika kita selalu BERSYUKUR kepada NYA.

BUKAN..
karena hari ini INDAH kita BAHAGIA, tetapi karena kita BAHAGIA maka hari ini menjadi INDAH.

BUKAN..
karena tak ada RINTANGAN kita menjadi OPTIMIS, tetapi karena kita OPTIMIS maka RINTANGAN akan menjadi tak terasa.

BUKAN..
karena MUDAH kita YAKIN BISA, tetapi karena kita YAKIN BISA maka semuanya menjadi MUDAH.

BUKAN..
karena semua BAIK kita TERSENYUM, tetapi karena kita TERSENYUM maka semua menjadi BAIK.

Tak ada hari yang MENYULITKAN kita, kecuali kita SENDIRI yang membuat sulit..

6.4.17

Holy Week: Why is it called "Holy"?

HOLY WEEK: WHY IS IT CALLED "HOLY"?

Dear brethren in Christ, here you have an infographic which explains why the most important week in the liturgical year is called "holy".

It is called as such as it commemorates  the patent demonstration and summit of Our Lord's Holiest and Immense Love for the entire humanity, a love willing to suffer unto "death, death on the Cross" in order to save us from our sins, and a love which knows no end, conquering death itself with His Resurrection. 

Let us thank God not only with feelings and words, but also with works, taking advantage of the Holy Week to grow in our self-giving to Him, -and for Him-, to His Church and all souls.

Cordially inviting you to like and follow www.facebook.com/Catholicsstrivingforholiness and share our posts to help more people in their Catholic faith and life. Thanks and God bless! Fr. Rolly Arjonillo

N.B. The events described in each day are based on the Gospel of the Holy Mass for each day. The Gospel for the Holy Wednesday Mass recounts how Judas made  a deal with the chief priests to deliver Jesus to them for 30 pieces of silver. The betrayal is initiated and culminates to Jesus' arrest after the Last Supper.

Picture: Explaning why is it called "Holy" Week?



1.4.17

Warga Desa Ekoae Ende Di Serang "Segerombolan Sapi Liar" Inikah Kado 01 April 2017?


Gambar Ilustrasi: www.Google.Com.

Sumber: VOXRATEWATI.Com.
Info terkini: Mengutip Berita yang dilangsir oleh VOXRATEWATI.COM.
Headline Beritanya: Warga Desa Ekoae Diserang "Segerombolan Sapi Liar"...

Warga Desa Ekoae, Kec.Wewaria Kab.Ende Provinsi Nusa Tenggara Timur tepatnya  pukul 11.00 Wita,  pada 01 April 2017 dikejutkan dengan segerombolan "Sapi Liar" yang menyerang pemukiman warga. Begitu banyak korban luka - luka yang dirawat di puskesmas terdekat.

Hal ini dibenarkan oleh  ketua RT Fabianus Keli dan dipertegas oleh kepala Dusun Tugasoki  Bapak Siprianus Lima Raja via telepon yang dikonfirmasikan oleh salah satu  media lokal VOXRATEWATI.Com. Bapak Sipri mengatakan bahwa segerombolan "Sapi Liar" dalam jumlah yang cukup besar menyeruduk beberapa warga yang sedang melakukan aktivitas pertanian mereka.Tidak hanya warga, puluhan rumah pun tidak luput dari amukan ratusan ekor "Sapi Liar" tersebut.Warga yang menjadi korban sontak tidak berdaya karena banyak diantara  mereka adalah ibu - ibu.

Dalam insiden ini, ratusan penduduk desa setempat terpaksa mengungsi ke wilayah pegunungan terdekat yakni Wolopermabha, sementara warga lainnya harus bersusah payah mendaki gunung Mbotu Manu Lela yang merupakan gunung tertinggi di Desa itu dan sebagiannya lagi mengungsi ke gunung Kuru Fata Lalu.

Menanggapi keadaan darurat tersebut Kepala Desa Ekoae Bapak Benyamin Suba menghimbau, agar warga masyarakat Desa itu segera menertibkan hewan ternak mereka masing - masing. 

Hal utama yang menjadi penyebab kedatangan "Segerombolan Sapi Liar" ternyata begitu  banyak hewan ternak dalam hal ini Sapi milik warga yang tidak diikat dan dibiarkan berkeliaran mencari makan sendiri. Sehingga "Sapi Liar" turun gunung dan bergabung dengan hewan ternak milik warga setempat.

Oleh karenanya, Bapak Desa Benyamin Suba sekali lagi mempertegas bahwa pemerintah Desa dan semua elemen serta tokoh adat dan masyarakat dan dinas peternakan akan bersosialisasi tentang PERDES  2017 yang salah satu poinnya adalah akan dilakukan pendataan hewan ternak milik warga dalam waktu dekat. Apabila masih ada hewan ternak yang tidak diikat akan ditindak tegas, kata Kepala Desa berjenggot pirang itu.

Maka dengan kejadian ini, seperti dikatakan juga oleh salah seorang warga yang menjadi korban amukan "sapi liar" yakni Bapak Elias Dua Oro. Beliau sangat menyesalkan dan bahkan trauma dengan peristiwa yang menimpanya ini."Saya baru pulang dari kebun mencari rumput untuk beberapa ekor sapi milik saya, tiba - tiba ada "segerombolan sapi liar" menyeruduk saya dan kepala saya pun terseruduk ke tanah, syukur hanya luka ringan" Kata Dua sapaan akrabnya.

Semoga semua warga di Desa ini semakin sadar akan kepemilikan hewan ternak terutama sapi.Kita bukan hanya bangga dengan memiliki sapi dalam jumlah banyak namun semuanya dibiarkan berkeliaran seolah tak bertuan.Semua tanaman seperti pisang, kelapa, tanaman Jati putih bahkan sampai tanaman di pekarangan rumah habis dimakan oleh sapi kita sendiri, lanjut Bapak Dua dengan wajah cemberut.

Bapak Dua juga menambahkan bahwa "saya teringat dengan apa yang dikatakan oleh P. Frans Funan, SVD mantan Pastor Paroki Kristus Raja Mukusaki bahwa kita sangat keliru dengan memagari tanaman kita seperti kebun jagung atau sawah, sementara tanaman itu tidak bisa berjalan  - jalan sedangkan hewan peliharaan kita yang semestinya harus ditertibkan namun dibiarkan berkeliaran dan tidak diikat.  Maka kejadian ini kami sebagai warga masyarakat dan juga pemerintah Desa, Dinas Perternakan dan Perkebunan harus punya andil terutama menyadarkan masyarakat terkait masalah hewan ternak yang sudah berlangsung belasan tahun di Desa Ekoae. Ini  merupakan peringatan buat para warga semua bahwa kita memilih untuk menertibkan hewan ternak atau mendapat bencana karena kesalahan kita sendiri.

Sebagai bentuk kepedulian terhadap sesama, saat ini sudah banyak warga desa tetangga yang berdatangan untuk memastikan anggota keluarga mereka yang berada di wilayah Desa Ekoae, terutama anak sekolah seperti murid SMP dan SMK. Laporan terakhir yang diterima VOXRATEWATI.Com.""Gerombolan Sapi Liar" Masih berkeliaran di sekitar pemukiman warga.

Ulasan berita oleh Wara Cypriano
SELAMAT HARI SABTU 01 April 2017.
Terima kasih sudah membaca berita di atas maaf ini berita hasil imaginasi karena terobsesi menjadi seorang jurnalis tapi belum tercapai..Hehehhee...
Kado buat Desaku tercinta Desa Ekoae.

Pesan Moral:

Berita fiktif ini sengaja dibuat menanggapi maraknya dan bahkan menjadi suatu kebiasaan bagi warga masyarakat di Desa Ekoae Kec.Wewaria kab Ende NTT membiarkan hewan ternak dalam kondisi "liar" atau dalam keadaan tidak diikat. 

Hal ini dianggap sulit dan bahkan tidak ada upaya untuk menyelesaikan permasalahan soaial yakni terkait dengan hewan ternak terutama Sapi. Banyak ternak besar yang tidak diikat atau dikandangkan sehingga tidak sedikit warga pun yang mengeluhkan bahwa semua tanaman berupa pisang, kelapa, jati putih, jambu mete, kakao bahkan tanaman pekarangan di halaman rumah pun semuanya habis dimakan sapi milik warga sendiri.

Sapi - sapi itu  sengaja untuk tidak diikat dan dibiarkan berkeliaran seolah tak bertuan. Maka atas dasar keprihatinan inilah, saya mengulas sebuah berita fiktif ini. Saya menyadari bahwa hal ini tidak bermaksud untuk menyinggung pihak - pihak tertentu dan semata - mata sebagai wujud kepedulian akan keteraturan hidup sosial masyarakat yang seharusnya mengalami ketertiban, kenyamanan dalam melakukan usaha apapun di bidang pertanian sebagaimana yang dialami oleh masyarakat di desa - desa yang lain. Kondisi ini sebetulnya sudah terjadi belasan tahun yang silam. Entah apa yang menjadi kendala sehingga persoalan ini dibiarkan dan menjadikannya sebagai hal biasa dan terus terjadi.

Sesungguhnya, sebagai generasi muda yang terlahir dari rahim tanah leluhur yang sama yakni di Desa Ekoae, maka saya berani untuk menyuarakan ini walaupun dengan cara yang dianggap kurang memiliki esensi dan asas kemanfaatan.Tapi itulah suatu upaya dan mungkin kisah fiktif ini akan berdampak pada suatu kenyatan hidup. Itulah sesungguhnya pesan moral yang hendak disampaikan dari ulasan fiktif ini, dengan suatu keyakinan bahwa masalah ini pasti bisa diatasi terutama oleh Pemerintah Desa Ekoae sendiri.Semoga bermanfaat.

30.3.17

Traditional Hunting In Soa - Sub District (As A Local Tradition)



Illustration Picture:Courtesy from www. Google.com

The traditional hunting or (Rori Witu) in the local culture of Ngada Regency especially in Soa sub – district still came down to this day. The traditional hunting activities were usually placed in the calendar cycles based on the local culture of local agriculture. This tradition was closely related to people’s beliefs ritual existence being ability wild animal like board (Hui) or Deer (Kogha) that can be damaging for all plants that venture into the local communities to fulfillment their daily needs. This ceremony will be held every year as an annual ceremony. The indigenous hunting tradition in Soa includes several villages namely Mengeruda (Witu Menge), Lo’a (Witu Lo’a) Seso (Witu Welu) and also Libunio village (Witu Nio). This traditional hunting carried out in accordance with the local – based of the lunar calendar. It was usually carried out from June to October in the year. The traditional hunting was held of each village with have the different time. The traditional hunting activity was determined by the traditional leaders (Mori Raghu/Rawu Witu) in accordance with the lunar calendar customs. The traditional hunting had some equipment such as spear (Tuba), barbed spear (Bhou).The barbed spear shaped like a fishhook. The hunters came from all communities of Soa would do hunting and were not restricted to either children or adults. They   usually hunt by using horses (Zara) or on foot. In its effort to obtain the bluish animals the dogs were always accompanying the hunters. All the dogs were deployed to search the boars or deer (Hui no’o Kogha). The hunters were always scrambling by each other, so that no one is getting a whole body of an animal but they had partly such as the head, feet, or hands etc. The hunters scrambled the animals to show their knight stronger. Not all the hunters got the animals if they did not strength to scramble to the other hunters. But, it was always do in hospitality and the spirit of brotherhood.
In every villages, the stages of the traditional hunting (Rori Witu) as general were common. The different thing was the stages of the ritual at night that the next day will do the hunting. One village conducted the traditional hunting was in Libunio. In Libunio village had two main traditional ceremonies such traditional boxing (Sagi Adha) and also traditional hunting as known (Rori Witu Nio). There were several stages that became a series of major ritual that must be held before the implementation of the indigenous hunting. The implementation of the Rori Witu Nio started with cooking rice beans (Ka Nika Lebha). Lebha was a kind of bean as cooked with rice as an opening meal before the traditional hunting day. The next day was continued with the ritual of Pau. Pau ceremony was a ritual in which was of Nio tribal communities (Suku Nio). It was the time that forbidden to carry out agricultural activities such as cutting the trees, or burning of the garden. The people who were trespassed the rule will be penalized by the local leader. A few days later, all adults male go looking the shrimps (Ko Kuza) as the Heza ritual. After that, the next day was followed by the Bato ritual. It was the ritual of eating shrimps. A further ceremony was Sina Oro as the ritual to prepare a segment of bamboo that had been cleaned to be dipped in the river. 
If everything was prepared well, then continued with Bhore Tua. At the night, where the next day will do the hunting, the local leader (Mori Raghu Witu) held the ritual of Pepu. The Pepu ritual was conducted as last preparation of the traditional hunting day. The local leaders asked the rice of bamboo (Mama Toke), and collected the ginger (Pai Lea). The ginger was used to treat that hunters got wound as the traditional medicines. All the things were distributed to the girls who was who completed the ceremony of initiation into adulthood customary (Kiki Ngi’i/Bu’e Muzi) who participated in the day of traditional hunting.  The girls will redeem the existing bush meat on the hunters. In Pepu ritual was also the Mori Raghu prayed and pleaded to the ancestors and the forest watchman in order to collect the deer or boars (Pai Nitu Kogha no’o Hui) in the places that the hunters conducted the traditional hunting. The Pepu ritual was also to prohibit to all the tribal community were not to wash their face, or oiling their hair especially on the first day of hunting.    
When all phases as the series of the indigenous ritual before hunting has been carried out, finally the time of the hunting has come. The Mori Raghu and members gather in the center of village (Kisa Nua) doing the hunt commencement ceremony and marching toward the firebox place (Saka Api) by the traditional singing.  Arriving the Saka Api place, the fire arose by swiped (Pake Zoze) of the dried bamboo (Bheto Rogho) and alang – alang (Keri). This ignited a fire that has been used as a source of fire that used to burn the forest as the place to hunt. The traditional hunting conducted for three days. The hunters did not return to their village but lived in resting area (Loka) during the hunting took place. Returning from the hunting areas, the hunters sang the traditional singing. The meat as their hunting’s got to eat together with the family members of Nio tribal community and its blood smeared on Beso or the point of Mori Raghu (Basa Beso Mori Raghu).  


By Wara Cypriano

Note: This article was adapted from: An interview result conducted by Wara Cypriano with Bapak Adrianus Rato as the local leader of Libunio village)