12.3.17

Pelajaran Hidup (Kutipan)



Seorang pria menikahi seorang gadis cantik. Dia sangat mencintainya. Suatu hari istrinya mendapat penyakit kulit. Perlahan-lahan dia mulai kehilangan kecantikannya. Kebetulan suatu hari suaminya pergi ke luar kota.
Ketika kembali ia mengalami kecelakaan dan kehilangan penglihatannya. Namun kehidupan pernikahan mereka terus berjalan seperti biasa. hari-hari berlalu istrinya kehilangan kecantikannya secara bertahap. Suami buta tidak tahu dan tidak ada perbedaan dalam kehidupan pernikahan mereka. Dia terus mencintainya dan istrinya juga sangat mencintainya.

Suatu hari istrinya meninggal. Kematian istrinya  membuat ia sangat sedih. Dia menyelsaikan semua ritual terakhir dan ingin meninggalkan kota itu. Seorang pria dari belakang memanggilnya dan mengatakan, sekarang bagaimana Anda akan dapat berjalan sendirian? Selama ini istri Anda selalu membantu Anda. Dia menjawab, saya tidak buta. Saya bersandiwara karena jika dia tahu aku bisa melihat keburukan dirinya itu akan menyakiti dirinya lebih dari penyakitnya. Jadi saya pura-pura buta. Dia adalah seorang istri yang baik. Aku hanya ingin membuatnya bahagia.

Pesan Moral: - kadangkala baik untuk kita untuk berpura-pura buta dalam melihat keburukan/kekurangan orang lain agar mereka bahagia meskipun mempunyai kekurangan.

* Tidak peduli berapa kali gigi menggigit lidah, mereka masih tinggal bersama dalam satu mulut. Itulah semangat MENGAMPUNI. Meskipun mata tidak melihat satu sama lain, mereka melihat hal-hal bersama-sama, berkedip secara bersamaan dan menangis bersama-sama. Itulah kesatuan.

 1.Alone I can ''say" but together we can "talk"
 2. Alone I can 'Enjoy' but together we can celebrate
 3. Alone I can 'Smile' but together we can 'Laugh'

  Itulah keindahan Hubungan Manusia. Kami tidak bisa tanpa satu sama lain, TETAP TERHUBUNG

            *KUTIPAN HARI INI*
 Silet memang tajam tetapi tidak dapat memotong pohon, kapak kuat tetapi tidak dapat memotong rambut.

Have a nice day😊

5.3.17

Tradisi Berburu Adat Atau Rori Witu Bagi Masyarakat Adat Soa

        Tradisi berburu adat (traditional hunting) dalam budaya lokal di Kabupaten Ngada khususnya di wilayah kecamatan Soa tetap diwariskan hingga saat ini. Kegiatan berburu adat biasanya ditempatkan dalam siklus kalender berbasis budaya pertanian lokal setempat. Tradisi ini erat kaitannya dengan ritual keyakinan masyarakat akan keberadaan makhluk pengganggu tanaman padi, jagung, kacang-kacangan atau tanaman lainnya seperti babi hutan, atau rusa yang dapat merusak bagi semua tanaman yang menjadi usaha masyakat lokal sebagai bahan pangan dalam pemenuhan kebituhan hidup sehari - hari. Maka upacara ini dilaksanakan setiap tahun sebagai upacara tahunan (annual ritual). Tradisi berburu adat di Soa meliputi beberapa kampung yakni Kampung Mengeruda (Witu Menge), Kampung Lo'a (Witu Loa), Kampung Seso (Witu Welu) serta kampung Libunio (Witu Nio). Berburu adat dilaksanakan sesuai dengan kalender lokal berbasis peredaran bulan. Upacara berburu biasanya dilaksanakan dari bulan Juni sampai Oktober dalam tahun.

             Pelaksanaan upacara adat berburu  pada masing - masing kampung memiliki waktu yang berbeda - beda. Sehingga tidak ada kampung yang melaksanakan kegiatan berburu secara bersamaan . Kegiatan Rori Witu dilaksanakan berdasarkan penetapan kalender adat yakni para tokoh adat (Mori Raghu/Rawu Witu) sesuai dengan peredaran bulan. Perlengkapan berburu yakni tombak (tuba), tombak berkait (Bhou) bentuknya seperti mata kail. Para pemburu biasanya berasal dari semua masyarakat Soa tidak dibatasi baik anak - anak maupun orang dewasa. Mereka biasanya berburu dengan menggunakan kuda (zara) atau dengan berjalan kaki. Para berburu biasanya membentuk kelompok berburu sesuai daerah seasal atau gabungan anggota dari kampung lain yang disebut loka. Setiap loka secara bersama- sama memperebutkan buruan atau pun mempertahankan hasil buruan dari aksi penjarahan yang dilakukan oleh kelompok atau loka yang lain. Dalam usahanya untuk mendapat binatang buruan, para pemburu menyertainya dengan anjing dalam jumlah yang besar. Semua anjing yang dibawa dikerahkan untuk mencari babi hutan (hui) dan juga rusa (kogha). Binatang buruan yang diperoleh biasanya saling berebutan sehingga tidak seorang pun yang mendapatkan satu bagian tubuh secara utuh dari binatang buruan tersebut namun hanya sebagian misalnya ada yang mendapatkan bagian kepala, kaki, atau tangan dan juga bagian yang lainnya.Perebutan ini menunjukan kegigihan dan jiwa kesatria seorang laki-laki. Bagi yang lebih kuat akan mendapatkan bagian binatang buruan sedangkan yang lemah dan putus asa tidak mendapatkan apa - apa.Namun perebutan hanya terjadi pada saat berburu tidak menimbulkan dendam atau permusuhan antara satu dengan yang lain dan semangat persaudaraan  tetap terjaga. 

       Tahapan berburu adat di setiap kampung secara umum memiliki kesamaan. Hal yang berbeda hanyalah terdapat pada tahapan ritual pada malam hari di mana keesokan harinya akan melakukan kegiatan berburu. Salah satu kampung yang melaksanakan upacara berburu adat (Rori Witu/Rori Lako) yakni kampung Libunio. Kampung ini selain melaksanakan ritual berburu adat juga melaksanakan upacara tinju adat (Sagi Adha) atau (traditional boxing). Ada beberapa tahapan yang menjadi rangkaian ritual utama yang harus dilaksanakan sebelum pelaksanaan berburu adat.

      Pelaksanaan berburu adat (Rori Witu Nio) di kampung Libunio dimulai dengan masak nasi kacang (Ka Nika Lebha). Lebha adalah sejenis kacang yang dimasak sebagai nasi yang dicampur dengan beras sebagai makanan pembuka sebelum upacara berburu. Keesokan harinya dilanjutkan dengan ritual Pau. Upacara Pau merupakan suatu upacara di mana masyarakat atau komunitas adat suku Nio dilarang untuk melaksanakan kegiatan pertanian apa pun seperti menebang pohon atau membakar ladang. Apabila ada yang melanggar maka akan dikenakan sanksi adat dari para dari tokoh adat atau mendapat musibah.Beberapa hari kemudian, Semua lelaki dewasa pergi mencari udang atau (Heza/Ko Kuza).Setelah itu, dilanjutkan dengan upacara bato yaitu mengkonsumsi udang. Upacara lanjutannya adalah ritual Sina Oro. Upacara ini yakni para tokoh adat mempersiapkan seruas bambu yang sudah dibersihkan sebgai persiapan untuk dicelupkan di sungai. Sesudah semuanya dipersiapkan, maka dilanjutkan dengan ritual Bhore Tua.Pada malam harinya di mana keesokan harinya akan dilaksanakan kegiatan  berburu maka diadakan upacara Pepu. Upacara ini dilakukan sebagai persiapan di mana Mori Raghu/Rawu (Tokoh adat yang melaksanakan ritual berburu adat) mulai meminta nasi bambu (Mama Toke), halia (Pai Lea) yang dibagikan kepada para gadis yang baru menyelesaikan upacara inisiasi menjadi dewasa secara adat  dalam upacara (Kiki Ngi'i/Bu,e Muzi) yang ikut serta dalam berburu.Para gadis ini akan menukarkan dengan daging hasil buruan yang ada pada para pemburu. Pada upacara pepu juga para Mori Raghu/Rawu memanjatkan doa dan memohon kepada leluhur dan penunggu hutan agar mengumpulkan rusa, babi hutan (Pai Nitu Kogha, Hui) di tempat untuk berburu agar para pemburu bisa mendapatkan hasil buruan. Dalam upacara pepu juga diadakan sumpah agar para pemburu dan semua orang yang melakukan kegiatan berburu untuk menaati pantangan atau larangan untuk tidak melakukan basuh muka, meminyaki kepala terutama pada hari pertama berburu.Hal ini tidak hanya orang yang ikut berburu melainkan juga semua masyarakat komunitas suku Nio.
       
       Ketika semua tahapan adat yang menjadi rangkaian ritual sebelum berburu telah dilaksanakan, maka tibalah saatnya pada hari berburu.Pada hari itu semua Mori Raghu dan anggotanya berkumpul di tengah kampung (Kisa Nata/Nua) melakukan upacara dimulainya berburu dengan berarakan menuju tempat pemasangan api (Saka Api) sambil diiringi nyanyian adat. Sesampainya di tempat Saka Api, Mori Raghu/Rawu menyalakan api secara tradisional dengan digesek (Pake Zoze) sebilah bambu kering (Bheto Rogho) dan alang - alang kering (Keri). Api yang sudah dinyalakan ini dijadikan sumber api yang digunakan untuk membakar pada atau hutan yang merupakan tempat untuk berburu. Pelaksanaan kegiatan berburu selama tiga hari berturut - turut. Para pemburu tidak pulang ke kampung selama masa berburu berlangsung dan mereka bertahan di kemah (Loka) masing - masing sebagai tempat peristirahatan sementara selama kegiatan berburu. Sepulang dari arena berburu, para pemburu menyanyikan yel- yel adat sebagai pertanda mereka mendapatkan hasil buruan. Daging binatang buruan dimakan secara bersama - sama dengan anggota keluarga dan masyarakat komunitas suku Nio dan darahnya dioleskan pada tombak atau panah yang disebut Beso atau tempat Mori Raghu/Rawu ( Basa Beso Mori Witu). Demikian  gambaran umum tradisi berburu adat pada masyarat adat Soa di kabupaten Ngada propinsi Nusa Tenggara Timur. 

Oleh Siprianus Wara

(Diadaptasi dari hasil wawancara dengan seorang tokoh adat (Mori Raghu/Rawu Witu) dari Suku Nio Kampung Libunio yakni Bapak Adrianus Rato pada tanggal 15 pebruari 2017).

Catatan: Artilel ini belum sempurnah.Mohon maaf apabila terjadi kesalahan dalam urutan dan bahasa adat yang tertulis.Semua atensi dan masukan dari para pembaca terutama putra/i dari Soa atau Libunio saya menerima dengan lapang hati demi penyempurnaan artikel ini selanjutnya.Semoga tulisan ini bermanfaat. Salam literasi budaya. 

1.3.17

Misa Hari Rabu Abu: Memaknai Masa Ret - Ret Agung




Foto: Misa Rabu Abu, 1 Maret 2017 Gereja St.Paulus Singaraja Bali.


          Perayaan ekaristi Kudus hari Rabu Abu di Gereja Katholik St.Paulus Singaraja Bali sore ini berjalan khusuk dan khidmat. Ratusan umat memadati ruangan Gereja untuk mengikuti perayaan iman sebagai tanda dimulainya masa prapaskah. Hal ini menunjukan antusiasme umat Katholik Singaraja sangat tinggi. Dari jumlah kursi yang disediakan oleh panitia perayaan semuanya terisi oleh   umat yang hadir. Kursi tidak hanya disediakan dalam gereja namun di halaman gereja, sehingga semua umat yang hadir mendapatkan tempat duduk. Perayaan ekaristi Kudus dipimpin oleh Rm.Roberthus Gaga Nae, Pr dan imanm konselebran Rm.Hans Wijaya Pr. Perayaan ekaristi kudus ini dimulai tepat pukul 18.00 wita. Rm.Ronerth dalam kata pembukaan menegaskan bahwa hari ini kita mulai memasuki masa puasa, masa tobat yaitu suatu masa dimana Gereja meberikan kesempatan kepada kita untuk menghayati nilai -nilai pertobatan melaui berpantang dan berpuasa serta karya nyata dan laku tobat yang kita jalani.Sehingga pada akhirnya kita semua boleh menerima rahmat dan sukacita pada saat merayakan hari paskah Tuhan.

          Dalam permenungan umat yang dihantar melalui  Kotbah singkat yang dibawakan oleh Rm Hans Wijaya, Pr. ada beberapa  hal yang disampaikan dan menjadi permenungan umat dalam perayaan ini yang diambil dari perikop bacaan 1 dari nubuat Yoel: 2:12-18 dan bacaan 2 dari surat pertama rasul Paulus kepada jemaat di Korintus:5:20-6:2 dan dipertegas dalam injil Mateus : 6:1-6.16-18. Rm.Hans sapaan akrabnya menegaskan bahwa Hari Rabu Abu tidak hanya menjadi perayaan rutinitas tahunan Gereja Katholik namun lebih pada penghayatan akan kesadaran umat akan imannya yang  harus terus tumbuh dari waktu ke waktu yaknk iman akan Yesus Kristus sang putera Allah yang hidup. Ditegaskannya juga bahwa Para umat perlu memaknai momen ini akan eksistensi dirinya sebagai pribadi yang berdosa. Ada banyak cara yang dapat dijalankan umat dalam hal berpantang dan berpuasa, misalnya mewujudkan niat dalam semangat melayani, memberi, menghilangkan satu kebiasaan buruk atau dosa yang semuanya mengarahkan dirinya kepada suatu pertobatan sejati.

      Makna perayaan ini bagi umat Katholik Singaraja secara khusus dan seluruh dunia secara umum adalah sangatlah mendalam dan memiliki konsekwensi besar dalam perubahan sikap dan cara hidup sehari - hari.Hal ini sekali lagi dipertegas oleh Rm Hans, Makna perayaan ini selain sebagai dimulainya masa prapaskah namun lebih dari itu, umat Katholik dihantar dalam berpantang dan berpuasa yang harus dijalaninya sebagai bentuk metonoia atau berbalik dari suatu kebiasaan buruk atau dosa dengan menimba rahmat Tuhan dan mengikuiNya atau membangun sikap mati raga dalam pembaharuan diri akan sikap konsumerisme dan cinta diri yang sempit. Para umat menjalaninya sesuai dengan niat yang dibangun selama 40 hari ke depan. Masa 40 hari yang dimulai hari ini, sampai jatuhnya hari paskah atau selama 44 hari termasuk hari minggu hingga puncaknya di hari jumad agung yakni hari djmana Kristus wafat di kayu salib. Maka masa ini disebut juga masa ret - ret agung dimana semua umat menjalani masa mati raga dan semangat mengampuni, memberi dan bersyukur atas karya penebusan, maka dirinya juga akan diampuni Tuhan dan sesama. Hari Rabu Abu merupakan hari dimana dalam perayaan ekaristi umat diberi tanda salib di dahi dengan abu. Hal ini sebagai simbol pertobatan dan kerendahan hati. "Koyaklah hatimu dan jangan pakaianmu" artinya kita harus membangun niat akan sebuah pertobatan terhadap kesalahan dan dosa yang telah kita perbuat baik kepada diri sendiri, sesama bahkan kepada Tuhan. Hari Rabu Abu juga sebagai perayaan yang mengingatkan kita akan tradisi gereja misalnya dalam kitab Ester dimana umat Israel menaburkan debu di atas kepala atau seluruh badan mereka sebagai tanda penyesalan, tangisan dan juga pertobatan akan setiap kesalahan yang telah mereka perbuat. Maka dari itu sebagai umat tebusan Allah kita melandasi masa pertobatan kita dengan apa yang ditegaskan oleh Yesus bahwa murnikan hati kita dengan pertobatan yang tulus.
   
           Lebih lanjut dalam kata penutup kotbahnya Rm. Hans, menegaskan buah pertobatan adalah kegembiraan sejati. Sukacita dan kegembiraan dilandasi iman yang teguh akan Yesus Kristus yang mengorbankan dirinya dengan memanggul salib ke gunung Kalvari demi menebus dosa - dosa kita. Pemenuhan kegembiraan kita yakni sukacita di saat merayakan paskah Tuhan. Maka dari itu, dalam kaitannya pembukaan masa prapaskah bagi kita umat keuskupan Denpasar hendaknya benar -benar menghayati buah pertobatan yang kita jalani. Di tahun ini pula Keuskupan Denpasar mempersiapkan diri untuk melaksanakan Sinode ke IV pada bulan November 2017. Sehingga sebagai umat sangat diharapkan bahwa dalam keluarga kita masing - masing marilah kita membangun sikap untuk menghayati karya nyata melalui tema Aksi Puasa Pembangunan (APP) KWI 2017 yakni Keluarga Berwawasan Ekologis. Tema yang diusung ini memberikan tanggungjawab besar kepada semua keluarga katholik di keuskupan ini seluruh Indonesia untuk menjaga keseimbangan alam dalam hidup dan karyanya sehingga kelestariaannya benar-benar dapat dijaga dengan baik demi kelangsungan hidup kita di dunia ini.

Selamat memasuki masa prapaskah, kasih Tuhan dan laku tobat yang kita jalani mengantarkan kita pada pertobatan sejati.Tuhan Memberkati.

By Wara Cypriano
Salam Rakats Singaraja

Foto Tambahan:Diambil dari postingan komsos Paroki St.Petrus Negara Bali 


Foto tambahan:Diambil dari halaman akun Fb @Eronewou.

28.2.17

Waspada Daerah Rawan Longsor:Jalur Lintas Flores KM 17 Wolotolo Ende Flores NTT


Foto:Koleksi pribadi yang diambil saat melintasi daerah ini akhir bulan pebruari 2017.




     Para pengguna jalur lintas Flores patut waspada walaupun puncak musim penghujan di bulan januari dan pebruari hampir berakhir. Jalur lintas utama pulau Flores yang menghubungkan Labuan Bajo - Larantuka seringkali mengalami hambatan yakni terjadi tanah longsor tepatnya di KM 17 - 20 di Desa Wolotolo Kab.Ende. Maka patutlah diwaspadai agar para pengguna jalur ini harus selalu mengikuti up date berita baik dari sumber resmi atau pemerhati sosial secara pribadi agar anda sekalian tidak terjebak longsoran di daerah ini.

     Untuk kondisi saat ini ,jalur utama ini tetap aman dan bisa dilalui yang terpantau pada akhir bulan pebruari lalu.Walaupun keadaan demikian, kondisi tanah yang labil dan mudah longsor maka bisa saja terjadi tanah longsor walaupun tidak diakibatkan oleh air hujan di saat musim hujan. Oleh katena itu para pengendara tetap berhati - hati baik pengguna roda dua maupun roda empat yang melintasi daerah ini.

            Demikian sekilas info, meski sudah diketahui oleh semua pihak adanya daerah rawan longsor, maka sangatlah perlu kita membagi informasi agar selalu waspada bagi semua pengguna jalan, baik kendaraan pribadi maupun pengguna jasa angkutan umum. Dengan demikian keselamatan dan perjalanan kita tidak terhambat dikarenakan kekurangan informasi. Semoga bermanfaat.

By Wara Cypriano

14.2.17

Jembatan Darurat Ratemangu yang menghubungkan Ekoae-Tugasoki Ambruk.Tugasoki: Asa Memiliki Jembatan Di Tahun 2018



Keadaan jembatan darurat yang ambruk 17 Januari 2018


Foto:Seorang siswa SDK Ekoae sedang melintasi jembatan gantung Sungai Ratemangu.
Tampak jembatan gantung dengan besi topangan seadanya



Melawan lupa: ulasan iseng di awal 2017 lalu kini akhirnya terjadi.Alokasi dana desa yang katanya sudah p1 (skala prioritas pertama hanyalah wacana belaka.

Harapannya, di tahun 2018 yang digadang - gadang tahun pokitik akan membawa angin segar agar para politisi tidak hanya menyebar janji hampa tanpa ada realisasi.

Tugasoki, malang benar nasibmu, rahimmu kaya akan sumber daya alam ( hutan, material seperti batu, pasir bahkan sumber mata air berlimpah.Namun, nasib penghunimu bagaikan di padang sahara yang gersang dan tak berair..



 
Tugasoki:Asa Memiliki Jembatan (Catatan Di Awal Tahun 2017)

 
        Pada awal bulan pebruari tahun 2017 yang lalu, Seperti biasa saya memanfaatkan waktu liburan untuk berkunjung ke kampung halamanku yakni kampung Tugasoki yang terletak di desa Ekoae Kecamatan Wewaria Kabupaten Ende Flores NTT. Tugasoki merupakan sebuah dusun kecil yang memiliki warga kurang dari 50 KK. Sebagai dusun yang boleh dikatakan sedikit terpencil, pola kehidupan masyarakatnya masih menganut semangat gotong royong, bela rasa dan penuh keakraban. Kesederhanaan dan kesehajaan hidup terpancar lewat interaksi sosial yang meliputi berbagai sisi kehidupan sehari-hari. Semua rutinitas dan keseharian hidup masyarakatnya belum terkontaminasi oleh persaingan seperti yang dialami masyarakat perkotaan baik dari sisi ekonomi, pendidikan, dan juga gaya hidupnya.Pola laku hidupnya masih alami dan memegang teguh akan nilai-nilai luhur tradisi setempat.Itulah yang saya alami sebagai seorang generasi yang terlahir dan dibesarkan di rahim tanah persekutuan ratewati dusun Tugasoki ini. Namun hal yang sedikit ada perubahan yakni angka partisipasi kasar anak untuk bersekolah baik dari TK, SD, SMP, SMA bahkan perguruan tinggi yang dari tahun ke tahun terus meningkat.Di sisi lain juga perkembangan teknologi, pemenuhan akan sandang, pangan dan papan sudah mengarah pada kemajuan seperti dialami masyarakat di daerah lain.Semuanya sudah tentu selalu mengarah pada perubahan yang positif atau membangun generasi ke arah yang semakin baik.
         
             Dari pelbagai perubahan yang sudah mulai dialami ini, ada beberapa persoalan sosial yang hingga saat ini belum terselesaikan. Dusun Tugasoki sebenarnya tidak bisa dikatakan Dusun terpencil apalagi terbelakang bila dibandingkan dengan wilayah dusun -dusun lain yang berada di wilayah kabupaten Ende. Hal ini dibuktikan dengan radius dari jalan utama lintas Flores jalur Pantai utara kurang dari 2 Km. Dusun ini merupakan sebuah dusun yang memiliki potensi kekayaan yang luar biasa baik dari warisan Budaya, kekayaan alam seperti hasil hutan, sumber material;batu alam, pasir, serta kaya akan sumber mata air. Daerah ini juga memiliki hasil komoditi perdagangan seperti kopi, Kemiri,jambu mete dan kakao. Tugasoki memiliki kekayaan alam yang memberikan berkah bukan saja bukan saja bagi warganya sendiri namun juga bagi warga sekitarnya.Nyatanya hasil kekayaan alam menjadi sumber eksploitasi bagi pemenuhan kebutuhan pembangunan seprti rumah, jalan atau jembatan, gedung atau fasilitas umum bagi masyarakat di desa Ekoae dan juga desa-desa lainnya. Selain kekayaan alam, Dusun Tugasoki juga sebagai tempat yang menjadi pusat penyelenggaraan semua seremonial adat dalam wilayah tanah persekutuan Siga Rembu Ratewati tepatnya di kampung adat Ratewati Tugasoki.

           Namun dari semuanya, sayang seribu sayang, potensi yang dimiliki Dusun ini seolah tak diperhatikan oleh semua elemen baik masyarakat, tokoh adat, tokoh agama apalagi pemerintah Desa sampai Pemerintah daerah Kabupaten Ende, bahkan Dusun ini tidak jelas perekamannya walaupun secara de facto masuk dalam peta wilayah desa Ekoae. Banyak persoalan yang dihadapi masyarakat di dusun ini dari tahun ke tahun tidak terselesaikan. Ini merupakan kategori kesenjangan sosial akut. Kesenjangan ini merupakan fenomena kesalahan berjamaah dan akhirnnya menjadi persoalan biasa yang tidak memiliki dampak apa-apa terhadap masyarakat namun kenyataanya terbalik.Kesenjangan Ini juga bisa dikatakan proses pembiaran berlanjut dari waktu ke waktu telah dianggap sebagai sesuatu yang biasa -biasa saja. Ada beberapa persoalan yang semestinya dapat ditangani dan diselesaikan secara cepat dan tepat namun dibiarkan bertele-tele alias saling lempar bola panas. Dengan demikian hal ini bisa dikatakan peran para pemangku adat, tokoh agama dan terlebih pemerintah desa boleh dikatakan gagal.Pemerintah desa menganggap bahwa masyarakat dusun Tugasoki sebagai masyarakat yang minim SDM namun hanya kaya SDA dan kurang memberikan aspirasi yang lawan arus serta hanya setuju akan apa yang menjadi kebijakan bersama walaupun masih banyak kekeliruan. Sangat ironis dan sangat disayangkan.
       

        Adapun persoalan bersama yang dialami oleh masyarakat Dusun Tugasoki yang sebenarnya juga tanggung jawab pemerintah desa hingga saat ini belum terselesaikan;
@ Pengelolaan Sumber Air Bersih yang serampangan
    Dusun Tugasoki memiliki potensi sumber air bersih yang sangat memadai.Kemampuan debit air ini bisa dijadikan sumber irigasi dan bahkan  PDAM.Namun kenyataanya sumber ini dikelolah asal -asalan atau belum memenuhi standar pengerjaan yang memadai.Misalnya pipanisasi yang tidak sesuai dengan rekomendasi teknisi yang diakui (air langsung dialirkan dari sungai alam dan menjadi sumber air minum warga) akibatnya di musim penghujan pipa tersumbat oleh material banjir dan airnya kotor otomatis tidak bisa dipakai oleh masyarakat. Maka sejatinya perlu bak penampungan atau cara bagaimana agar menghindari hal ini).

@ Pengajuan Tender Instalasi Listrik kepada CV yang tidak sesuai prosedur.
Dusun Tugasoki merupakan wilayah Desa Ekoae yang secara faktual dalam peta lokasi tidak terpisahkan dari dusun lain di wilayah desa tersebut.Namun kenyataannya ketika sampai saat ini dikatakan wilayah ini tidak termasuk dalam peta wilayah terutama dalam masalah instalasi listrik pra bayar beberapa waktu lalu.Lantas demikaian apa peran pemerintah desa yang telah melakukan pengumpulan biaya meteran pelunasan biaya meteran pada masyarakat dusun Tugasoki pada waktu 5 tahun lalu? Banyak alasan teknis yang tidak dipahami oleh masyarakat. Ironisnya lagi di tahun 2017 ini masyarakat dikenakan biaya meteran yang baru dan dikenakan biaya tambahan yang mengikuti harga meteran tahun 2017.Wah-wah alih -alih mau dapat aliran listrik masyarakat dibodohi oleh kesalahan prosedur yang tidak lain dilakukan oleh pemerintah desanya sendiri.Sesudah itu, keadaan ini berlarut-larut dan membiarkan masyarakat untuk berjalan sendiri.Masyarakat terus mendapat harapan palsu tanpa adanya realisasi.Malang benar nasib warga kampung Tugasoki.

@Jembatan Gantung Lowo Ratemangu mengandung resiko terencana.
Kekayaan alam dari rahim tanah persekutuan Siga Rembu Ratewati dari waktu ke waktu terus digerus.Namun apa balasannya? jalan dusun dibiarkan bebatuan dan berlubang, dan parahnya lagi tidak ada jembatan penghubung yang menghubungkan akses jalur utama warga dusun ini menuju pusat kegiatan umum baik bidang rohani, pemerintahan, pasar dan perdagangan, akses menuju sekolah bagi anak anak baik tingkat taman kanak -kanak maupun pendidikan menengah. Keadaan seperti ini terus dibiarkan dan tidak adanya  perjuangan dari tokoh adat, agama dan pemerintah desa serta kabupaten. Para siswa/i dari TK sampai SMK bahkan kendaraan roda 2 dan 4 melintasi jembatan gantung reot itu.Tanpa disadari bahwa bahaya akan keselamatan jiwa terus mengancam di saat warga melintasi jembatan ini. Ibarat air susu dibalas dengan air tuba.Para politisi mengumbar janji manis disaat Pileg atau juga pemilihan kepala daerah yang semuanya tinggal janji belaka.Wah wah kasihan sekali para penerus bangsa sampai jaman semodern ini masih berjuang melewati jalan berbatu, berlumpur bahkan melewati jembatan yang mengacam nyawa demi meraih cita-cita untuk menuntun ilmu.Warga dusun ini bagai tikus mati di atas ribuan karung padi.Kekayaan alam dimiliki hanya dieksploitasi tanpa adanya perbaikan infrastruktur jalan dan jembatan yang memadai bagi warga yang empunya kekayaan itu.

@Masalah Hewan Ternak
Belum ada atau lemahnya Perdes terhadap suatu keteraturan hidup sosial menjadikan dusun Tugasoki sebagai padang hewan ternak baik di musim hujan maupun panas.Daerah pemukiman atau kampung warga menjadi tempat berkeliaran hewan ternak yang seolah tidak bertuan.Potensi alam yang kaya dan tanah yang subur kini menjadikan dusun ini bahkan desa ini gersang bak padang pasir.Sangat ironis dan menjengkelkan.Suatu fenomena hidup yang tidak terarur.Kebijakan antar dusun kesannya dibuat sendiri -sendiri walau dalam wilayah desa yang sama.Misalnya dusun Jitapanda sebagai salah satu dusun di wilayah desa Ekoae memiliki kebijakan dusun yang luar bisa yakni semua hewan ternak ditertibkan.Hal ini terbalik dengan dusun Tugasoki dan Ekoae.Semua hewan ternak dibiarkan mencari makan sendiri.Masyarakatnya bangga memiliki hewan ternak yang banyak namun merugikan banyak orang.Semua jenis tanaman pekarangan habis dilahap.Kemajuan ekonomi masyarakat lesu tak bergairah.Sangat miris menyayat hati.Kesimpulannya adalah lemahnya penyelenggaraan pemerintah desa yang pada akhirnya timbulnya ketidakteraturan hidup sosial masyarakat terutama pada pelestarian, keamaman dan kenyamanan lingkungan tempat tinggal bagi semua masyarakat dusun dan desa.9

     Dari realita hidup di atas, pertanyaanya; Siapakah yang harus bertanggungjawab atas semua ketimpangan yang dialami oleh Dusun Tugasoki atau desa Ekoae? Secara sederhana dan akal sehat kita boleh berkata bahwa semuanya merupakan tanggungjawab kita bersama warga dusun Tugasoki dan semua jajaran pemerintah desa, tokoh agama dan adat.Kolaborasi tiga tungku seharusnya menjadi dasar pijakan bagi semua masyarakat. Marilah kita berbenah dan mendengar seruan para generasi muda. Mereka semua tentu tidak memiliki materi untuk berbagi, tidak memiliki kekuatan untuk melawan, namun secara moril dan ide -ide dapat mereka berikan kepada pembangunan, perbaikan tata kelolah dusun dan desa demi tercapainya masyarakat Dusun Tugasoki dan Desa Ekoae yang sejahtera baik secara jasmani maupun rohani. Dan pada akhirnya para generasi muda kita akan kaya dalam pengetahuan, kuat dalam karakter, tangguh dalam iman serta tulus dalam berkarya sehingga terciptanya kerukunan, keharmonisan dan keseimbangan antara alam, manusia dan lingkungan sekitar kita yang semuanya akan kembali kepada Sang kuasa ilahi yakni Tuhan sendiri. Marilah kita satukan tekat, mewujudkan tanah persekutuan Siga Rembu Ratewati, Tana eo ria no,o watu kai eo bewa, pati muri pawe tebo no,o mae...we ndu leka embu welu no,o mamo moi.Pu,u mulu du limba leta.

Oleh Wara Cypriano
     
Note:
Catatan ini hanya merupakan bentuk refleksi sosial akan apa yang dialami baik secara pribadi maupun terwakili oleh masyarakat Dusun Tugasoki. Apapun itu semuanya berdasarkan fakta.Mohon maaf apabila banyak hal yang mengganjal rasa dan dannpikiran berbagai lapisan masyarakat di Dusun Tugasoki secara khusus dan desa Ekoae secara Umum. Semuanya hanya ada satu tujuan yakni kemajuan, kemakmuran dan keselarasan hidup bagi kita semua.

17.1.17

Catatan Mahasiswa Semester Akhir



Gambar Ilustrasi:koleksi pribadi.

****Kesuksesan dimulai dari sini...kata orang sih..namun bagi para mahasiswa baik program strata 1 atau pascasarjana hampir memiliki pengalaman yang sama ketika memasuki semester akhir tapi bukan akhir semester ya..heheee..Apa yang menjadi kegalauan bagi para mahasiswa.....Mungkin anda pernah mengalami seperti  pengalaman berikut;

1.Selalu mengejar target..Seringkali apa yang direncanakan    selalu  meleset alias tidak tercapai..Rencana ditempuh 8      jadinya 10 semester atau 4 jadi 6 dan sebgainya.

2. Pertimbangan keadaan finansial yang pas-passan
    Seringkali keuangan sebagai alasan utama sebagai salah     satu faktor penghambat jalannya perkuliahan misalnya       biaya kuliah dan hidup sehari  - hari kian  mahal.

3. Takutnya dibilang mahasiswa tidak mampu secara               akademis.
    Adanya anggapan bahwa kalau seorang mahasiswa itu
    Selesainya tidak tepat waktu maka muncul beragam             anggapan misalnya otak kurang mampu, kuliah tidak           jelas dan sebagainya.

4. Takut diputus pacar dan dicap mahasiswa bertitel
    (MA) alias mahasiswa abadi.
    Bagaimanapun masa dan urusan pacaran merupakan
    kedua urusan yang diprioritaskan.

5.Kalau yang sudah berkeluarga katanya kangen anak            tetapi melalui istri atau suami hehehh atau bagi yang            jomblonya diperpanjang masa aktif sampai 2018 takut          stoknya habis.Itulah beragam alasan klasik yang muncul.

6.Teman-teman baikku atau genk sudah banyak yang              selesai, saya jadinya seperti orang ketinggalan kereta.
   Adanya kegalauan individu disaat ditinggal pergi para          sahabat.

7. Ini yang paling utama, kalau kelamaan jadi  mahasiawa      lowongan pekerjaan sudah habis terisi..Apakah hal ini          pernah terpikirkan atau saat ini sedang anda alami... N N

***Namun oh namun...

      Dari begitu banyak alasan di atas semestinya sebagai mahasiswa perlu  juga menyadari bahwa apa yang diharapkan seringkali berbeda dengan realita yang dihadapi..Mungkin saja alasan utama yang perlu disadari yaitu dari sisi akademisnya;

1.Judul yang diajukan selalu belum diterima dengan               pelbagai alasan, topik ini sudah banyak yang diteliti, atau   kurang luas kajiannya, atau implikasinya tidak ada dan       lain-lain.

2.Kalau sudah di terima judul belumlah cukup, ternyata          kemampuan merumuskan  masalah dan tujuannya yang      pas-passan jadinya stagnan  di proposal.Bisa saja hal ini      diyerjadi berminggu - minggu disesuaikan dengan                kesibukan pembimbinnya masing  - masing.

3.Ketika semuanya beres dalam seminar dan revisi                  proposal penelitian masih ada tahap selanjutnya yang          menanti, dan ini perlu ketelitian dan ketabahan.

4.Ketika Proposal selesai, maka mulailah dengan kesulitan      membuat instrumen penelitian.

5.Disaat penelitian,  sangat menentukan jauh atau                    dekatnya setting penelitian jauh bahkan di luar daerah         harus bolak-balik yang membutuhkan, biaya tenaga dan     waktu yang maksimal.

6. Sesudah penelitian dilanjutkan dengan pengolahan data,     analisis, reduksi dan display data, belum lagi pendekatan     penelitian kualitatif, kuantitatif atau R&D makin ribet..

7.Ketika semuanya selesai saatnya siap untuk sidang dari        pra, utama dan  pasca ujian lumayan puyeng.

8. Finally...Aku diwisuda....hahahha.. khayal dan kenyataan   beda tipis alias 11: 12

***Ternyata oh ternyata...

Mau mendapatkan gelar Sepeda alias S.Pd dan Motorpeda alias M.Pd..atau Dokar alias Doktor tidaklah mudah dan gampang...Yang gampang dan mudah ketika orang bertanya..Sudah selesai kah? dijawab belum...Kok lama ya, ya, ya..Itulah kami mahasiswa..

***Maaf dari ujung ke pangkal kembali ke pucuk                         semuanya bikin bingung...hu..hu..hu..
      Tulisan ini hanya merupakan ungkapan untuk                       melampiaskan kepenatan di waktu mengerjakan Thesis       tanpa bermaksud menyinggung siapapu.

#Resolusi2017hargamati
#AgustusatauNovembermasihtandatanya????
   Kalau stoknya banyak pasti masih bisa ditawar...hahaha..
   Catatan malam ini depan kompor hock 24 sumbu..sampil    goreng tempe & tahu. (Inspirasi dari rasa lapar)***
   Biarlah menjadi momen yang bisa dikenang di hari tua.

   By Wara Cypriano
         



15.1.17

TANAH PERSEKUTUAN "SIGA REMBU RATEWATI"

TANAH PERSEKUTUAN "SIGA REMBU RATEWATI"
Kuwu (Rumah musyawarah bagi pemangku adat atau Mosa Laki sebagai pusat semua kegiatan ritual adat di Kampung adat Tugasoki Ratewati.

A .Gambaran Umum

       Kehidupan masyarakat suku Lio di kabupaten Ende Flores NTT dari generasi ke generasi terus mengalami perubahan.Hal ini seiring kemajuan zaman yang senantiasa mewarnai hampir semua sisi kehidupan masyarakatnya. Tatanan nilai - nilai luhur adat dan tradisi yang dianutnya memiliki makna tersendiri baik secara tersirat maupun tersurat berupa aspek - aspek kearifan lokal yang harus dilestarikan secara bersama - sama. Ada begitu banyak bentuk ritual adat yang dijalani oleh masyarakat suku Lio baik bagi masyarakat Lio utara dan juga selatan yang dalam kenyataannya ada kesamaan baik secara nomen klatur ataupun tahapan ritual adatnya namun pemaknaan serta penyelenggaraan ritualnya tetap berbeda. Sehingga, semua seremonial adat yang dilestarikan pada suku Lio secara faktual sama-sama mendiami satu wilayah besar namun terdiri dari 2 wilayah yakni Lio utara dan juga Lio selatan. Kekayaan ritual adat warisan leluhur ini, memiliki nilai tradisi yang tampak dalam bentuk budaya yang diwariskan dari generasi ke generasi. Warisan budaya ini juga memiliki makna mendalam bagi setiap masyarakat yang mendiami di wilayah tanah persekutuan masing  - masing. Tanah ulayat juga memiliki sistem hierarkis dalam adat baik sebagai pemangku adat atau mosalaki dan juga para penggarap atau Fai Walu Ana Kalo. Ini merupakan perwujudan hak dan kewajiban yang harus dijalani oleh masyarakat adat pada tanah persekutuan yang ditempatinya.
 Salah satu tanah persekutuan yang ada di Ende Lio bagian Utara Kab.Ende yakni tanah persekutuan masyarakat adat di "Tana Siga Watu Rembu Ratewati" yang pusat penyelenggaraan ritual adatnya bertempat di Kampung adat Tugasoki Ratewati Desa Ekoae, Kec.Wewaria Kab.Ende. Tanah persekutuan pada masyarakat adat Tugasoki Ratewati memiliki luas wilayah yang cukup besar, yang meliputi Desa Ekoae, Desa Ratewati di Molutangga, Woimite, Oto Rajo, Elokepo, Detu Ete dan beberapa kampung yang ada di sekitarnya. Wilayah tanah persekutuan masyarakat adat "Siga Rembu Ratewati" dikepalai oleh seorang kepala Suku yang secara hierarkis memiliki kekuasaan dan wewenang yang diwariskan secara turun temurun. Seorang kepala Suku tidak bisa diangkat atau "Wake Kepala Suku" dari orang yang bukan ahli waris "iwa dara luru" namun jabatan ini merupakan sebuah jabatan luhur yang diwariskan secara turun - temurun yang memiliki nilai historis dari generasi ke generasi yang bearsal dari keluarga yang sama atau "Mata pi welu pi". Oleh karenanya, seorang kepala suku adalah seorang yang diangkat secara sah berdasarkan hukum adat yang menjadi pedoman  yang telah diwariskan oleh para leluhur sejak jaman dahulu hingga saat ini.Tanah persekutuan ini terdiri dari 7 klan utama atau disebut "Embu Lima Rua" Yakni Embu Kana, Embu Kaki, Embu Mbonggi, Embu Jobhi, Embu Pokekore, Embu Wolo, Embu Kengge dan Embu Karo. (Nama - nama ini masih diklarifikasi mohon maaf jika ada kekeliruan).Maka ke 7 klan inilah sebagai ahli waris tanah persekutuan "Siga Rembu Ratewati".
             
            Dalam sistem hierarkis, selain kepala suku ada pula tokoh adat atau para pemangku adat atau disebut "Ata Mosa Laki". Mosa laki artinya tokoh adat yang memiliki jabatan, fungsi dan kekuasaan atau wewenang serta menguasai atau mengepalai sebuah wilayah atau tanah ulayat sebagai warisan dari nenek moyangnya yang disahkan secara adat dan diakui oleh masyarakat adat, atas dasar jasa-jasa atau pengorbanan leluhur yang telah disahkan secara hukum adat sehingga dinobatkan sebagai Mosa Laki. Para mosa laki terdiri dari 2 yakni "Mosa Laki Ria" dan "Mosa Laki Lo,o". Jabatan mosa laki yang dijabat saat ini merupakan jabatan yang diwariskan oleh para leluhurnya tanpa adanya pertimbangan kepandaian, pendidikan atau persyaratan lainnya seperti jabatan publik kepemerintahan namun Jabatan Mosa Laki adalah mutlak artinya bukan didasarkan atas kepandaian atau kekayaan atau hasil pemilihan suara terbanyak akan tetapi tugas dan amanat yang harus diterima sebagai warisan leluhur. Apabila hal ini tidak dijalankan secara baik, maka musibah atau bahkan nyawa menjadi taruhan karena dibenci oleh arwah leluhur karena tindakan yang melawan hukum adat yang telah diwariskan oleh para leluhur sejak dulu.
     
       Para Mosa Laki juga memiliki aturan adat yang sama, sebagaimana yang menjadi pedoman dan berlaku di tanah persekutuan masyarakat adat "Siga Rembu Ratewati". Para Mosa Laki yang memiliki kekuasaan atas tanah ulayat yang ukuran kecil disebut "Boge Lo,o Geto Gene". Mosa laki yang menguasai tanah ulayat ini memiliki wewenang untuk melaksanakan upacara "Sewu Api" bersama para penggarap tanah di wilayah kekuasaanya yaitu masyarakat adat yang mengolah, dan memiliki tanah sebgai milik pribadi atau keluarga yang disebut "Fai Walu Ana Kalo". Para Fai walu ana kalo atau penggarap, wajib memberikan upeti sebagai bahan persembahan atau sesajen bagi arwah leluhur dan roh halus atau nitu dalam bentuk "Manu eko, moke boti, are wati". artinya membawa 1 ekor ayam, arak 1 botol dan juga beras. Upacara ini di tandai dengan penyembelihan hewan kurban berupa seekor babi atau disebut "Wawi Wela". Seekor babi yang disembelih oleh Mosa Laki atau tuan tanah dalam hukum adat setempat memiliki makna bahwa semua yang kita peroleh baik tanah garapan dan juga tanaman yang ada di atas tanah mendapat berkat dari arwah leluhur serta menjaukannya dari semua hama dan gangguan mahkluk lain yang tidak terlihat. Semua upeti ini sebagai bentuk syukur atas lahan yang digarap dan memohon berkat agar hasil panenan melimpah "Tembu bhondo wesa wela". Oleh karena itu, eksistensi Mosa Laki dan Fai walu ana kalo dalam masyarakat adat di wilayah tanah persekutuan " Siga Rembu" memiliki hubungan timbal balik yang harus dijaga sebagai warisan leluhur. Hal ini ibarat sebuah kerajaan harus memiliki wilayah kekuasaan dan juga warga masyarakat yang mendiami, mengolah serta memelihara apa yang menjadi warisan leluhur atau "Eo Embu Welu Mamo Moi" artinya para leluhur mewariskan semuanya untuk kesejahteraan masyarakat adat sampai masa anak cucu kita.


Foto insert oleh Anton Kirie
Tampak deretan para Mosa Laki mengenakan busaqna kebesaran, Ragi Mitr, lesu tege, peru mbae


B. Sistem Hierarkis Tokoh Adat Atau Mosa Laki di "Tana Siga Watu Rembu".
      
         Dalam wilayah tanah persekutuan masyarakat adat "Tana Siga Watu Rembu" secara hierarkis tokoh adat atau "Mosa Laki" terdiri dari;

  1. Mosa Laki Pu,u atau Mosa Laki Ria

      Mosa Laki Pu,u (Ine Ema) artinya sebagai orang tua dalam hierarkis adat baik bagi para Mosa Laki maupun para masyarakat adat. Mereka memiliki wewenang untuk mengkoordinir semua jalannya pelaksanaan upacara adat yang diselenggarakan baik secara tahunan atau ritual adat khusus yang berpusat di kampung adat atau "Nua Pu,u Ratewati Tugasoki". Upacara itu yakni "upacara Nggua Mbera" atau dikenal Lai Kapi peri Mbera atau upacara syukur panen yang dilaksanakan sesudah masa panen padi ladang. Ada juga upacara "Po,o" atau makan nasi bambu. Upacara ini merupakan ritual makan nasi bambu yang di bakar sebagai upacara memasuki masa untuk pembukaan lahan baru dan musim menanam telah tiba. Upacara ini disebut juga "Sewu Petu Pera Bera". artinya yang masih terbakar dipadamkan, panas terik diturunkan hujan, agar "Tembu bhondo Wesa Wela" artinya semua tanaman yang ditanam dan bibit yang ditaburkan dapat bertumbuh dengan baik dan memberikan hasil panenan melimpah. Mosa Laki pu,u atau Laki Ria ini, memiliki kekuasaan dan tanggung jawab yang besar akan keberlangsungan kesejahteraan para penggarap atau "Ana Kalo Fai Walu We Muri Bheni Tebo no,o Ma,e. Artinya mosa laki sebagai penghubung kepada nenek moyang atau arwah leluhur akan segala suka duka para penggarap atau masyarakat adat memohon berkat agar mereka menganugerahkan kesejahteraan hidup bagi semua masyarakat adat baik secara lahir maupun batin. Para Mosa Laki Pu,u memiliki 3 tokoh Mosa Laki yang dianalogikan dengan seekor babi dimana bagian ekor, kepala dan badan. Ke 3 mosa laki ini memiliki tugas dan fungsi sebagai berikut;

 a. Mosa Laki Eko atau bagian ekor (Eko Tau Wenggo/sebagai penunjuk jalan  atau arah)

Mosa Laki Eko yaitu Mosa Laki yang memiliki fungsi untuk melaksanakan upacara Nggua Mbera dan Po,o yang dijalankan secara bersama-sama dengan Laki Weri. Mosa Laki Eko memiliki fungsi sebagai penunjuk, pengatur dalam memberikan arah bagi semua pelaksanaan ritual adat. Mosa laki eko melaksanakan "Pere Nggua" yakni upacara menentukan jadwal hari pelaksanaan upacara "Nggua Mbera". Dalam upacara ini, Mosa Laki Eko didampingi oleh istri atau yang menjadi ahli waris.

  b.Mosa Laki Weri atau bagian kepala untuk makan (weri atau kuba tau  ka/ngaju/Melakukan ritual dan memanjatkan doa dalam bahasa adat baik dengan simbol maupun perkataan)

Mosa Laki Weri memiliki peran sebagai tokoh pemberi sesajen atau "Tau Pati Ka Embu Mamo" saat upacara berlangsung. Laki Weri juga sebagai penyembeli hewan kurban. kalau hewan kurban berupa babi atau kambing disebut "Wela" sedangkan hewan besar seperti kerbau atau sapi disebut "Taga". Laki Weri juga berhak menyembelih hewan kurban saat "Sewu api" di tanah Ria atau tanah suku. Tugas dan tanggungjawab yang diemban oleh Laki Weri tidak bisa dilimpahkan kepada mosa Laki Ria atau Laki Boge Lo,o Geto Gene.Laki Weri selalu dilengkapi dengan pedang atau parang adat untuk menyembelih hewan kurban (Topo Wela atau Taga).

  c. Laki Ria Bewa Yaitu Mosa Laki ("Tau Timba Tato"/ Sebagai Hakim adat).

Mosa Laki Ria Bewa yaitu Mosa Laki yang memiliki fungsi dan wewenang sebagai penengah atau hakim apabila terjadi perselisihan atau sengketa di antara Laki Eko dan Laki Weri atau Laki Pu,u dan Laki Lo,o atau juga Laki Lo,o dengan Laki Lo,o. Laki Ria Bewa bersama Laki Eko dan Laki Weri bersama  - sama memiliki fungsi dan tugas dalam menyelesaikan persoalan di antara para penggarap terkait sengketa lahan atau masalah lainnya jika meminta penyelesaian secara adat. Pada awalnya "Laki Ria Bewa" tidak ada dalam sistem hierarkis Mosa Laki. Namun dalam perkembangannya, ada suatu ketimpangan akan pelaksanaan persoalan terutama peraoalan di tubuh mosa laki pu,u. Maka diangkatlah seorang mosa laki "Ria bewa". Mosa laki Ria bewa diangkat yang didasarkan atas pengorbanan keluarga dan telah diakui bahwa keturunan dari keluarga tersebut untuk menjadi mosa laki Ria bewa. Sehingga, jabatan mosa laki Ria bewa diwariskan hingga saat ini. Dengan demikian dalam tubuh mosa laki pu,u terdiri dari laki eko, laki weri dan laki ria bewa.


2. Laki Lo,o atau Mosa Laki Boge Lo,o Geto Gene

Mosa Laki lo,o dalam sistem hierarkis tokoh adat tanah persekutuan "Siga Rembu" memiliki hak, tugas dan kewajiban yang berbeda beda terhadap pelaksanaan ritual adat. Mosa laki ini, memiliki tanah ulayat yang terbatas atau luas tanahnya kecil. Mosa laki lo,o juga memiliki eksistensi yang sama denga mosa laki pu,u dalam hal ini sebagai warisan leluhur dan dilanjutkan oleh keturunan yang berhak untuk menjabat mosa laki.Ada beberapa tanah ulayat yang menjadi kekuasaan laki lo,o yakni;

  a. Laki tana Detu Wula Lawi Luja

     Mosa laki tanah Detu wula lawi luja memiliki tugas dan fungsi untuk menentukan renovasi rumah adat yakni tempat atau balai pelaksanaan sidang para mosa laki dan pusat kegiatan ritual disebut Kuwu. Kuwu adalah rumah adat yang dijadikan tempat atau balai pertemuan para mosa laki. Kuwu ini secara adat dimana di dalamnya terdapat beduk besar atau "Lamba Ine" dan yang kecil atau "Lamba ana". Masing - masing atribut ini ditandai dengan penyembelihan kerbau yang besar dan kecil serta sepasang gong. atau disebut "Nggo ine no,o ana (gong besar dan kecil)". Maka mosa laki ini memiliki sebutan "Tau je wunu lele ngaki biri ture" artinya ketika rumah adat dalam keadaan kotor atau bocor maka direnovasi dan dibersihkan atau "Tau pake pela pi ata dua" Eo beta tau gebi eo bira tau leki". Tanah kekuasaannya terletak di bagian selatan nua tugasoki atau kampung tugasoki.

   b. Laki Tana Kesu Kaki

Mosa laki tana Kesu kaki memiliki peran dan fungsi sama seperti laki lo,o yang lain yakni mendukung pelaksanaan kegitan ritual adat, bersama-sama dengan laki tana detu wula lawi luja. Tanah ulayatnya meliputi oto rajo, elokepo, detuete.Mosa laki ini juga berhak untuk melakukan "Sewu Api" di tanah ulayatnya.

 c. Laki Tana Lana Bata

Laki tana Lana Bata sama seperti laki lo,o yang lain dan memiliki kewenangan terbatas. tanah ulayatnya meliputi kampung Tugasoki dan Ekoae. Tanah sebelah barat berbatasan dengan kali mati dan sebelah kali mati merupakan wilayah tanah Dio Rango di Jitapanda. Laki Lana tana Bata berhak untuk mengadakan "Sewu api" di tanah ulayatnya atau di saat pembuatan rumah baru atau peletakan batu pertama, sebagai mosa laki "Wela Wawi".Artinya hewan kurban berhak disembelihnya.

 d. Laki tana Loka Reta

Laki tana Loka Reta memiliki tugas dan fungsi dalam sistem hierarkis yakni sebagai hubungan kemasyarakatan (Humas) atau disebut " Si,i To,o Kuni Mbana" artinya apa yang ditugaskan dijalankan, apa yang diperintah dilaksanakan". Laki tana Loka menjadi kaki tangan Laki Ria. Laki tanah Loka tidak bisa diminta oleh Laki boge lo,o geto gene yang lain misalnya memberitahukan upacara sewu api di tanah persekutuan. Laki Tana Loka Reta posisinya di antara para Laki Lo,o adalah sama. Laki tana Loka Reta memiliki tugas, untuk menyampaikan atau mengabarkan akan diadakan upacara adat seperti Nggua Mbera dan Po,o atau pertemuan para Mosa Laki baik kepada Ana Kalo Fai Walu atau antara  para Mosa laki serta para mosa laki tetangga pada tanah persekutuan lain atau disebut "Aji Ji,e Ka,e Pawe". Para mosa laki Aji Ji,e Ka,e Pawe biasanya diundang untuk menghadiri upacara adat terutama acara Nggua Mbera dan Sewu Api (Po,o). Biasanya yang diundang mosa laki aAji Ji,e Ka,e Pawe yakni Mosa laki Kelitembu, Anarepi, Aegana, dan juga dari Aenggaja Sebagai "Bu Tenga Paso Dalo". Laki tana Loka memiliki tanah ulayatnya sendiri yaitu dikenal tanah Loka Reta atau Tana Lowo Mude.

 e. Laki Tana Wolo Sambi

Mosa laki ini memiliki wewenang dan fungsi yaang sama dengan mosa laki lo,o yang lain dan tanah ulayatnya meliputi bukit wolo sambi.Laki tanah ini juga berhak melakukan "Sewu Api".


3. Ata Dua Nua (Para Tetua Kampung)

Ata dua nua dalam tradisi adat di tanah peraekutuan Siga Rembu Ratewati memiliki kewenangan yang diakui oleh masyarakat adat dan juga para mosa laki. Para tetua kampung ini memiliki kewewenang yang terbatas. Para tetua kampung tidak memiliki tanah ulayat atau wilayah kekuasaan. Dalam sistem hierarkis mosa laki maka tetua kampung tidak termasuk dalam tubuh mosa laki. para tetua kampung dalam istilah adat disebut "Tau penu seru, Eo bapa tau tamba, eo kura tau benu". para tetua adat wajib diundang dan hadir disaat upacara adat, karena merupakan tokoh penting. Apabila para mosa laki memberikan mandat menjalankan suatu misi maka tetua adat harus bersedia dengan jujur dan adil menjalani semuanya atau "Ma,e kebe lewe". Ada macam macam fungsi dan tugas tetua adat yakni ada yang menyusun "Tau sodha susu nama bapu". Menjadi "sodha" disaat "Gawi Nggua Mbera" atau pengiring tarian adat di saat "Iya Mbera" yaitu nyanyian adat dilakukan untuk menyampaikan semua warisan leluhur di tanah persekutuan. Iya Mbera berupa nyanyian dan syair gaib yang menujukan kesakralan dalam upacara. Iya mbera dilakukan oleh tetua kampung sesuai denga warisan yang dimiliki. Upacara yang diikuti oleh tetua kampung misalbya pada malam ka are mbera pada upacara "Nggua Mbera". Atau sewu api atau upacara adat lainnya.

C. Busana Adat

   1.Busana Adat Mosa Laki

Para mosa laki baik laki Ria maupun Laki Lo,o wajib       mengenakan Ragi Mite yaitu kain bewarna dasar hitam, Peru atau selempang dan juga Lesu yaitu pengikat kepala sebagai simbol kewibawaan seorang mosa laki. Maka dalam istilah adat dikenal Ragi Pi, Lesu Tege, Peru Mba,e.Di kepala diikat Lesu didada dibalut slempang dan mengenakan sarung Ragi. Perlengkapan utama ini selalu dikenakan oleh mosa laki dalam setiap upacara adat.Maka pakaian adat mosa laki ini sebagai simbol pakaian kebesaran we,e kita nga no,o waka, kita kile we nggenggu.Ketika para mosa laki mengenakan pakaian kebesarannya akan nampak kesakralan, kewibawaan dan representasi para leluhur yang hadir dalam setiap momen ritual adat.

2. Busana Adat Masyarakat Umum atau masyarakat adat Fai Walu Ana Kalo

Para penggarap pada umumnya untuk laki-laki mengenakan Ragi mite pada saat menghadiri upacara adat seperti Gawi Nggua Mbera dan juga upacara adat lainnya.Mereka tidak mengenakan Lesu dan Peru. Bagi para perempuan mereka mengenakan Lawo yaitu sarung beraneka ragam motif dan warna serta Lambu yaitu tenunan sederhana yang dipakai pada saat Gawi Nggua Mbera. Maka ketika upacara adat berlangsung pakaian adat inilah yang membedakan Para Mosa laki dan penggarap atau masyarakat adat biasa.


D. Upacara Adat

Wilayah tanah persekutuan tana Siga Rembu Ratewati memiliki beberapa upacara adat yang diselenggarakan setiap tahun. Semua rangkaian acara ini memiliki hakikat dan makna tersendiri bagi Para Mosa Laki dan juga  "Ana kalo fai walu"  atau para penggarap dan masyarakat yang mendiami tanah persekutuan tersebut.
   
  1. Nggua Mbera

Nggua Mbera adalah upacara syukur Panen dimana semua "Embu lima rua" atau 7 klan masyarakat adat yang mendiami wilayah tanah persekutuan  Siga Rembu yakni rumah adat di kampung adat Tugasoki.Ke 7 klan ini adalah Embu Kaki, Embu Mbonggi, Embu Poke Kore, Embu Jobhi, Embu Wolo, Embu Kengge, dan Embu Kana.Semua anggota klan mengadakan syukur atas panenan dan hasil kerja selama setahun. Para penggarap mempersembahkan hasil kerja mereka kepada Sang Pencipta "Dua Gheta Lulu wula, Ngga,e Ghale Wena Tana"Tuhan yang bertahta di langit yang tertinggi dan Allah yang berpijak pada Bumi terdalam, Embu mamo, atau para leluhur dan juga "Nitu ji,e dan re,e" atau roh jahat dan roh baik serta semua makluk ciptaan Tuhan yang kelihatan dan tak terlihat. Dalam upacara ini hanya kaum laki-laki yang ikut makan atau "Ka are Mbera" baik kaum masyarakat adat di dalam kampung atau tamu undangan yang menghadiri upacara Nggua, sedangkan kaum wanita tinggal di rumah klannya masing-masing.

   2. Po,o ( Makan nasi Bambu)

Upacara po,o merupakan ritual adat yang dilaksanakan sesudah upacara Nggua Mbera. Upacara ini dilaksanakan sebagai tanda memulainya musim tanam yakni merupakan upacara pendinginan atau "Sewu petu pera bera".We tembu bhondo wesa wela atau semua bara panas dipadamkan dan panasnya terik matahari didinginkan, agar Semua tanaman yang ditanam dan bibit yang ditabur dapat tumbuh dengan baik dan mememberikan hasil panenan melimpah. Sesajen atau upeti yang harus dipersembahkan yakni"manu eko, moke boti, are wati" Ayam, arak dan beras. Upacara ini merupakan upacara tahunan yang wajib dilaksanakan sama halnya dengan upacara Nggua Mbera.

  3. Sewu Api

Sewu api ini dilaksanakan oleh mosa laki pada tanah ulayat kecil atau tana ria dan tana boge lo,o geto gene yang dijalankan sesuai jadwal masing-masing. Penggarap yang menggarap lahan di tanah ulayat tersebut wajib memberikan upeti kepada mosa laki sebagai sesajen kepada arwah lelubur dan semua mahkluk yang kelihatan maupun tak kelihatan. Setiap penggarap yang menggarap pada beberapa tanah ulayat misalnya di beberapa tana boge lo,o geto gene maka yang bersangkutan wajib memberikan upeti sesuai dengan ketentuan dalam tanah ulayat masing - masing.

Demikian beberapa gambaran umum, hierarkis mosa laki, upacara adat dan pakaian adat sebagai pelengkap dalam pelaksanaan acara adat yang disampaikan dalam artikel ini.


Foto insert oleh Don Kirie


Note:

Semoga Artikel di atas bermanfaat bagi pelestarian budaya lokal khususnya di tanah persekutuan "Siga Rembu Ratewati". Tulisan ini belumlah sempurna dan mohon maaf jika istilah adat yang digunakan kurang tepat..semua atensi, usul saran serta kritikan yang membangun saya menerimanya dengan senang hati sebagai bahan pelengkap artikel ini.

Oleh: Wara Cypriano.

SUMBER: AYAHANDAKU BAPAK FRANSISKUS KOTA RETA

Mosa Laki Tanah Ulayat "Boge lo,o geto gene" Tana Loka Reta.

Data ini disampaikan secara lisan beberapa tahun yang lalu, maklum masih banyak yang lupa..

Wujud dedikasiku Foto dokumen pribadi : Bapak & Mama serta Kakak laki - lakiku yang sulung.




13.1.17

BENA TRADITIONAL VILLAGE

           Bena is a village that is situated 10 km from Bajawa the capital of Ngada regency. The village consists of two parallel rows of traditional high thatch - roofed houses. Highly visible in the center of the village are "Ngadhu" and "Bhaga" pairs of shrines. One of each clan is of the village representing the clan's ancestors. The " Ngadhu" is an anthropomorphic  umbrella -like pole embodying the male ancestor of a clan. The truck is decorated with carvings and it topped with warriors - like figure.
     
         The "Ngadhu" symbolized fierceness and virility. The "Bhaga" is a female ancestor clan shrine. It is a small hut with a thatch - roofed that resembles a miniatur of a traditional house. It symbolizes the santuary of the house and female body. The "Bhaga" offers enough space for one or two person to hold rituals for female ancestors.

          Bena village offers an awesome of sight are megalithic formation in the center of village.Megaliths are means to connect with the supranatural realm and to communicate with the ancestors, often by animal sacrifices. Bena village give a majectic vista as the cultural tourism spot in Ngada regency.

By Wara Cypriano


Note: The article above is adapted from some sources.It gives a little bit information about Bena traditional village.Thanks for reading.

12.1.17

Dero; Ngadanese (Soa Sub-District) Traditional Dance




Libunio Village in Soa Ngada











Dance is movement of the art, and will become more alive if accomplished by traditional and modern music. One of the Ngadanese traditional dance is Dero. The Dero dance as one comes from Soa sub - district in Ngada regency.  Tne Dero dance aims to honour the ancestors, to give thanks for harvest, and build a strong fraternal bond. Dero dance usually performed on Sagi customary or traditional indigenous boxing. The basic movement of the Dero dance is to join hands to form a circle and then move together -equal right and left bacward and then forward to the music

The dancers can from within village or outside the village. To dance Dero the dancers can use the tradirional costumes for man or woman. Nowadays, every person can dance Dero using the modern music instruments and movements can be varied. The Dero dance can be performed in is a formal or informal event such as on a wedding party or the thanks giving day.The dancers can come from teens, or adult. The Dero dance is as mass dance and popular around the village, or in a regency.The people are very familiar to this dance.


By Wara Cypriano

Mega Proyek Lintas Tugasoki - Molutangga Ende Dalam Mimpi



Mega Proyek Lintas Tugasoki - Molutangga
Ende dalam mimpi...

Maaf ini trial blogspot..


NGADANESE TRADITIONAL COSTUMES


     

       Ngadanese traditional costumes from were a hand woven fabric made cotton. Nganese traditional costume for man Sapu Lue. The Sapu is like  a long sarong and Lu'e is like a scarf as worn on the man shoulder cross the chest. The Sapu Lu'e has some accessories which are used as in complete one. For man there are Boku ( dark brown). It is manner assembling a cone head wounds as a cap. To rope the Boku it is a Mari Ngia (dark red). The Mari Ngia is a kain by a piece of scenery special as the emblem crown and serves as a barrier or the binder of Boku. There is also a Keru. It is used as a bel. It is woven in a special way and patterned horse that serves as the barrier of Sapu. The man also wears a Lega.It is relieved with Lua or goat's hair/fur is a basket woven in a special shape by accessories horsehair on the left spine, right and bottom, and given a rope to be hung on the shoulder. As a symbol of gentleman there is a Sau or parang fitted with accessories in the form of white horse hair on the handle and a tail made from chicken feathers circuit is called Rega Sau.

       Ngadanese traditional coatume for woman is called Lawo Butu. It is the handspun cotton, natural dyes, shells, beads warp, and beadings. On the head is a Medo Lado. It is a head dress made from bamboo sticks ornate of white horse hair. There is also a Maringia as worn by the man. The is also a pair of traditional earings. To rope the Lawo there is a Keru. It is used as a belt. The woman also wears the Kasa Sese. It is a pair of yellow cloth worn crossed on the chest to back. There is also a Butu Bae. It is a necklace made of beads. Ngadanese traditional accessories for woman also a Dhegho. It is like a bracelet made from an elephant ivory and the hand of a woman there is also a the chicken feather is called Lua Manu or the white horse hair is worn while performing a tradktional dance in a formal ceremony.

NOTE: The article above is adapted from some sources. It can give a little bit information about Ngadanese traditional costume.If you have any comments, please some submitted on the colum of comment.Thank you for reading.

By Wara Cypriano

   
   

9.1.17

SAGI IS A TRADITIONAL BOXING IN SUB-DISTRICT SOA NGADA EAST NUSA TENGGARA

                                           SAGI
(TRADITIONAL BOXING IN Sub-DISTRICT SOA NGADA, EAST  NUSA TENGGARA)

Sagi is a traditional boxing ceremony held in sub - district Soa Ngada regency.
Sagi is a part of yearly thanksgiving celebration to the ancestors. In additional, Sagi is a means of communication as well as strenghten the social bonds among villagers. This is a cultural attraction which has been passed on for generation. The event is held periodically on certai dates and move from one village to another. The Sagi or traditional boxing also serves the two men racing each other in the center of of an open field, wearing traditional sarongs, their upper body bare.

The boxer hands are covered with a local kind of glove (kepo). The Kepo is always made from palm fibers glued together with a sticky liquid made out of palm sap. A wild crowd gathers around the arena and cheer for their heroes. A strike is a strike back. The Sagi action is about 2 or 3 minutes. The rounds depend on the readiness of the boxers. 

This event is starting from Mengeruda, Piga, Tarawaja/Wulilade, Libunio, Masu and Loa. This event is usually held from March until June as anually event. The series of ceremony must be done by local leader is called "Mori Raghu Sagi". Tje first step of ceremony is the local leader hangs the Siri and Pinang (areca nut) "Teo Heu" on a menhir made from wood (Peo) continued eating Siri Pinang and get meals ( Nalo).

The ritual contains singing in local language or (Tau Pata). The next part of time conducting the traditional dance (Dero). These rituals are singing and danxing as a mass ritual. Tne location is where the Dero conducting is called (loka) or a field for mass dancing. The Dero runs in one time in the evening. The villagers or families use this moment for engaging the couple which done tne ritual is called (Idi Weti) or offer tne Siri Pinang as a symbol of engaging for the couple. Tne next day Sagi is held in the inner part of village (Kisanata). This area is used for two groups on the east and west part of village (Ulu Eko). In Kisanata the Melo or Ye of tne local boxers. The personal of Sagi ceremony are the boxers (Ata Sagi), Two people as the guards ( Sike/Zo) of the boxers. They have a responsibility of safety boxers. The Sike should be balance and do not have a block of two boxers, they should be fair. The other one is a refree (Dheo Woe) as the leader on the match or Sagi. The closing ceremony is in the afternoon which cut the coconut (Kela Nio) is called Sogo. In the Sogo time the light should not be turned on. Sogo means that villagers want to know the harvest for the next year in a good or bad result.

Adapted from Https:Indahnyaflores.blogspot.co.id.2013

By WARA CYPRYANO
English Education Department
Postgraduate Study Program
Ganesha University of Education

28.10.16

Voice of the voiceless



VOICE of the VOICELESS...
SUMPAH PEMUDA ALA PEMUDA RATEWATI

Sumpah kalau Tugasoki teraliri listrik!
Sumpah kalau Tugasoki dibangun jembatan Sungai Ratemangu!
Sumpah kalau Ende bisa!

Sebuah Refleksi Hari Sumpah Pemuda 28 Oktober 2016.

Seseorang  yang tidak berada  di daerahnya atau sedang berada di tempat lain dengan memiliki seribu alasan tertentu  tidak menjadikan dirinya  bisa memungkiri bahwa dia tidak dilahirkan, dibesarkan, dibentuk oleh adat, tradisi, lingkungan sosial budaya  dimana dia bearsal. Namun dari sanalah  menjadikan dirinya sebagai pribadi yg  menjadi pertanda bahwa orang itu berasal dari tradisi, adat budaya tertentu dan dapat dg mudah dikenali oleh orang  lain dimanapun dia berada. Sama halnya jg bahwa seorang yg dilahirkan dibesarkan di tanah Ratewati dan berdomisili di tempat  bahkan di kabupaten lain  tidaklah menjadikan dirinya melupakan tanah kelahiran, adat budaya namun jg menjadikan semuanya itu sbg fondasi yg terus dipertahankan sampai akhir hayat dan berani mengatakan bahwa saya orang Ratewati. "Berpikirlah dalam skala global  dan bertindaklah dlm kelokalanmu". Benar jg ungkapan ini. Kita tdk hanya memikirkan kemajuan daerah lain namun jg harus berorientasi pd dukungan  kemajuan tanah leluhur kita sendiri sejauh tdk mengabaikan satu dg yg lainnya. Apa pun yg dilakukan di luar sana pasti selalu memikirkan apa, dan bagaimana; daerah, adat budaya, masyarakat, generasi muda kita sendiri walaupun tanpa dirasakan,dialami dan dihargai oleh mereka yg kita pikirkan.

Dalam relevansinya dg momen ini, sebagai seorang tokoh muda yg terbentuk dlm kesederhanaan,jauh dari hiruk pikuk kemajuan, menapaki lorong ruang dan waktu di dusun kecil Tugasoki Ratewati, desa Ekoae, Kec.Wewaria Kab.Ende Flores NTT, terngiang dlm benak dan hati kecil bahwa persoalan penerangan dan infrastruktur jalan yg belum teratasi di dusun kecilku itu. Warga dusun Tugasoki dg jumlah KK kurang dari 80 menjadikan kami masih terisolir oleh akses penerangan dan jalan. Ada begitu banyak hasil bumi yg digerus dari daerah ini seperti material lokal(pasir, batu) kekayaan hutan. Dusun kecil ini merupakan pusat pelestarian dan pelaksanaan ritual adat tanah persekutuan TANAH SIGA WATU REMBU, TANAH EO RIA WATU EO BEWA yg hanya dikenal dan dikenang di saat para kontraktor atau pimpro  datang menyampaikan ijin kepada tokoh adat untuk  pengambilan kekayaan material yg terkandung dalam rahim tanah ulayat ini namun sesudah itu hilang bak ditelan bumi. Semuanya tak sejalan dg pembangunan infrastruktur strategis seperti dialami oleh daerah2 lain sampai zaman semodern ini, sungguh rasa menyayat hati. Mungkin saja salah satu faktor utamanya yakni Sumber Daya Manusia (SDM) putra/i ratewati yg belum memadai, alias Ya Baik Tuan.,Tei ro baru tau..terima apa adanya dan menikmati apa yg ada. Itulah kenyataan yg dialami hingga saat ini.

Tidak terlepas dari kenyataan di atas maka perlu disadari bahwa salah satu faktor  kemajuan suatu daerah adalah kemampuan menajemen tata kelolah pemerintahan yg transparan, akuntabel, dan memiliki etos kerja yg tinggi. Kerangka pengelolaan yg mumpuni jg tdk terlepas dr peran seorang kepala daerah dan semua SKPDnya. Kemampuan pemerintahan daerah harus dibuktikan dg kemajuan, pemerataan, kesejahteraan dan  pembangunan pada semua sisi kehidupan daerah jika tidak mau dinilai gagal. Alasan klasik bahwa keterbatasan dana, rendahnya PAD, skala prioritas pembangunan semua itu semestinya perlu ditinjau kembali. Kab. ENDE memiliki potensi daerah yg cukup menjanjikan baik pertanian, perkebunan, perikanan dan jg hasil hutan. Sangat ironis jika daerah yg memiliki kekayaan alam yg luar biasa menjadi isolasi ditengah ketakterjangkauan akses jalan dan penerangan. Berbenahlah maka akan berdampak pada pemerataan dan kesejahteraan daerah agar kategori tetinggal bisa kita tinggalkan.

Bentuk keprihatinan inilah tidaklah heran jika Kab. ENDE masih tergolong daerah tertinggal.Sangat miris namun terus dinikmati. Wah wah sudah masuk dlm kategori tertinggal tapi ngotot  memperebutkan agar  Ende sebagai ibu kota propinsi Flores. Lucu dan menggelikan. Tapi apapun semuanya itu Ende tetaplah My Mother Land. Rasa keakuan akan Ende terus mengusik ketika ada begitu banyak tulisan atau artikel yg memuat sisi kesenjangan dlm tataran pengelolaan pemerintahan daerah baik dlm skala regional maupun nasional.

Maka bolehlah  kita membaca komentar di bawah ini...

 Walaupun Ngada tidak termasuk dalam zona ini, tapi masih terpendam rasa prihatin "My Mother Land" Ende Sare Lio Pawe"  ada dlm kategori ini..Reformasi  mental dan transparansi pengelolaan roda pemerintahan pada tataran birokrasi di Kab. Ende harus segera dilakukan. Dari tahun ke tahun masih stagnan alias "saya masih seperti yg dulu".Pemerataan pembangunan, peningkatan infrastruktur jalan, dan penerangan masih jauh dari harapan.

Kiranya pemerintah daerah Ende perlu belajar  dari mekanisme kerja kabupaten tetangga yakni Ngada. Sangat tdk logis kalau melakukan studi banding ke kab yg ada  di Jawa atau Bali yg ujung2nya menghabiskan budget daerah. Bersahabatlah dan belajarlah pd sesama saudara kita karena Ngada  adalah salah satu Kabupaten di Pulau Flores yg tidak termasuk dlm kategori daerah tertinggal.Ini bukan menggurui namun suatu prestasi yg musti dicontohi oleh kabupaten2 lain termasuk kab.Ende.Pembangunan dari desa telah terwujud dalam memasuki 1 dekade ini. Ya, adaptasi program bahkan adopsi pun bolehlah sejauh masih sejalan dg amanat undang2 dan kemampuan PAD kita. Itu aja ko repot kata tokoh pluralisme Indonesia. Seringkali merasa gengsi namun tak berdaya. semunya itu bukan karena sentimen  atau mengkritisi tanpa dasar akan tetapi  ada satu tekad agar  Bonum commune bisa tercapai.
Bacalah artikel di bawah ini walaupun #latepost..

By Wara Cypriano