22.2.19

Rm Frans Magnis Suseno

VOXRATEWATI.Com. By Wara Cypriano

Repost dari akun Fb Gregorius Triyogo Prabowo

Nama lahirnya Maria Franz Anton Valerian Benedictus Ferdinand von Magnis.

Ia mendapat status warga negara Indonesia pada 1977, setelah 16 tahun tinggal di Indonesia. Lahir di di Eckersdorf, Silesia, Jerman bagian timur (kini wilayah Polandia), keluarga Magnis pernah sengsara karena perang. Ayahnya, Dr Ferdinand Graf von Magnis sempat bertahun-tahun ditahan tentara Uni Sovyet. Keluarganya, harus terusir dari tanah kelahirannya.

Magnis kecil adalah keturunan bangsawan. Sulung dari enam bersaudara ini lahir pada 26 Mei 1936 dari rahim Maria Anna Grafin von Magnis. Mereka tinggal di kastil Eckersdorf. "Kami memiliki tanah 10 ribu hektar," ujar Magnis.

Pada 1945, mereka mengungsi ke Cekoslowakia barat, di tempat neneknya. Tapi, mereka lalu harus pindah ke kamp pengungsian. Hingga pindah ke Jerman barat. Keluarganya bisa kumpul lagi pada 1948 di Jerman barat,setelah ayahnya dilepaskan dari tahanan perang.

Dengan keluarga yang kental dengan Katolik, mendorong Magnis muda untuk bergabung dengan Jesuit. Saat bergabung ke dalam Jesuit, artinya ia harus keluar dari keluarga. "Saya juga membuat pernyataan, bahwa saya tak akan mengklaim apapun dari keluarga," kata Magnis. Orang tuanya sangat menerima pilihan Magnis.

Ada tiga negara yang sebenarnya bisa menjadi lahan pengabdiannya saat itu. Indonesia, Jepang, atau Zimbabwe. "Tapi saya tertarik dengan Indonesia," ujar Magnis.

Berawal dari surat-surat yang dikirimkan ke pendahulunya, Magnis mengetahui cerita tentang Indonesia. Pada Januari 1961, Magnis mendarat di bandara Kemayoran, Jakarta. Di matanya, Jakarta saat itu laiknya desa besar. Jalanan masih lengang. Seturut ingatannya, hanya ada satu gedung tinggi di Jakarta. "Gedung PLN setinggi dua lantai di timur lapangan Gambir," ujarnya mengenang.

Empat purnama kemudian, ia menuju Kulon Progo, Yogyakarta.

Di komunitas Jesuit mengharuskan ia belajar bahasa Jawa dulu sebelum bahasa Indonesia. Walau sempat kesusahan belajar bahasa Jawa, tapi Magnis muda merasakan keramahan di desa Boro, Kalibawang. Dalam tiga belas bulan, ia bisa menguasai bahasa Jawa. Dalam sehari, ia bersosialisasi tiap sore dengan warga sekitar. "Dalam bahasa Jawa, semua pertanyaan bisa dijawab dengan inggih (iya)," ujarnya sambil tersenyum.

Lewat sosialisasi itu, ia mulai mengenal budaya orang-orang biasa. "Saya sangat senang," ujarnya.

Tak diduga, ia menemui Katolik di Jawa yang berpadu dengan budaya lokal. Misalnya shalawatan Katolik, orang-orang menyanyikan soal Abraham, soal penciptaan dalam bahasa Jawa.

Kebiasaannya jalan-jalan dan bersosialisasi ini seturut hobinya mendaki gunung. Gunung Gede, Jawa Barat sudah ia daki 20 kali. Suatu malam, ia pernah mendaki gunung Gede sendirian. Di depannya, ada rombongan pendaki. Magnis lalu menyalip rombongan itu. Mereka kaget dan megap-megap susah napas. Dengan postur tinggi dan putih, Magnis menjadi makhluk asing di gunung. "Saya dikira hantu. Tapi tetap saya salami mereka," kata Magnis.

Pada 1977, Magnis muda mengantongi status Warga Negara Indonesia, Magnis ingin mengganti nama agar menjadi Indonesia. Ia buang 'von'. Karena ia masuk lewat Jawa, ia ingin nama yang terdengar Jawa. Magnis ingin mengambil nama dengan awalan Su (berarti Baik).

Lewat rekannya, Romo Kuntara Wiryamartana, Magnis minta dicarikan nama. Salah satunya Suseno. "Kok enak didengar," kata Magnis. Mulai saat itu, namanya berubah menjadi Franz Magnis-Suseno.

Belakangan, setelah bertemu dengan dalang Ki Manteb Sudarsono, Magnis mendapat cerita, jika nama itu merujuk nama wayang Karna Basuseno, tokoh kurawa. "Itu nama wayang kesukaan saya," ujar Magnis.

Magnis tak hanya berkutat dengan kehidupan Katolik dan Jawa. Ia dekat juga dengan kalangan pemikir Islam seperti Nurcholish Madjid (Cak Nur) atau Abdurrahman Wahid (Gus Dur).

"Gus Dur adalah salah satu manusia yang paling penting dalam hidup saya," kata Magnis. Magnis bertemu Gus Dur di sebuah seminar pada 1983, di Semarang, Jawa Tengah. Kebetulan mereka mendapat satu kamar. Selama dua jam, Gus Dur menjelaskan kepada Magnis, harusnya Konferensi Wali Geraja Indonesia menerima Pancasila sebagai asas tunggal. Mereka bahkan sempat tergabung bersama dalam Forum Demokrasi, saat iklim intelektual Orde Baru didominasi oleh ICMI (Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia).

Kedekatan Islam dan Katolik menurut Magnis terjalin sudah lama. Pada masa genting 1965, Islam dan Katolik cukup dekat melawan komunis. Menurut Magnis, komunis tak pernah bersedia berkoalisi memajukan bangsa. Magnis, yang menulis disertasi tentang ideologi Marxisme yang mendasari komunisme melihat, sejak dari ideologi dan praktik, komunis hendak merebut kekuasaan dan mendirikan diktator partai.

"Saya gembira saat komunis jatuh," ujarnya.

Tapi, Magnis tak sependapat dengan penilaian Marxisme yang berdasar stigma. Marxisme menurutnya adalah salah satu pemikiran filosofis yang paling berpengaruh dalam abad 20. Komunisme juga pernah menjadi kenyataan di Indonesia. Menurutnya, penilaian komunis harus berdasar informasi. Maka, Magnis menulis tiga buku tentang Marxisme.

Walau sudah lebih 80 tahun usianya, Magnis tak ketinggalan zaman. Ia tetap akrab dengan teknologi. Isu di media massa ia ikuti dengan tiga gawai; ponsel, ponsel pintar dan tablet. Juga satu komputer meja untuk menulis. "Semuanya sumbangan dari umat," kata dia.

Sebagai seorang pastor Jesuit, Magnis tak punya harta pribadi. Seumur hidupnya, bahkan ia belum pernah memiliki rekening bank.

Tak heran, ia tak tergiur dengan hadiah dan harta. Saat diganjar Bakrie Award 2007, Magnis menolak. Hadiah sebesar Rp250 juta tak ia terima karena solidaritasnya kepada warga Porong, Sidoarjo, Jawa Timur.

Hidup tanpa memiliki harta, justru membuatnya dilimpahi semacam kebebasan di komunitas Jesuit. "Kami hidup bersama, sama sekali tak kekurangan, juga tak berlebihan," kata dia.

Kini,di usia lewat 80tahun,Magnis tetap bugar badannya. Ia tetap kuat naik tangga.Dalam sepekan,ia beroleh raga 4-5 kali naik sepeda statis. Urusan santapan, ia tak punya pantangan. "Kuncinya, jangan banyak makan," ujar penyuka bakso dan nasi goreng ini.

Tapi ia tetap waspada dengan penyakit. Di usia senja, pendengaran telinga kanannya mulai butuh bantuan. Jika berbincang, lawan bicara kerap ia ajak duduk di sebelah kiri.

Usia, mungkin juga akan menuntaskannya dari jabatan struktural sebagai dosen dan Ketua Yayasan Sekolah Tinggi Filsafat Driyakara, Jakarta.

Walau hayatnya panjang, Romo Magnis tetap merasa kekurangan waktu. Ia ingin tetap menulis buku dan berbicara di berbagai forum. Ia ingin melanjutkan bukunya Menalar Tuhan. Selain menulis, kesibukan Magnis adalah berbicara dalam forum-forum. Dalam setahun, diundang dalam 90-100 acara. Artinya, dalam dua pekan sekali, ada saja undangan untuk berceramah. Tak heran jika dari tangannya lahir ratusan artikel, dan 30-an buku.

Enam puluh enam tahun tinggal di Indonesia, Magnis tak pernah terpikir melepas status warga negara Indonesia.

“Saya bangga dan senang sebagai orang Indonesia," kata dia.

Re Share dr WAG
Foto dr sesawi.net

18.2.19

Sang Motivator Sejati, Jeremy Emanuell Udjan Menyapa Ribuan Siswa/i Kelas XII Di Kota Bajawa

VOXRATEWATI.Com. By Wara Cypriano

GET THE FUTURE (Railah Masa Depan Anda)
 with Jeremy Imanuell Udjan

Powered by STKIP CITRA BAKTI NGADA
Foto insert: sumber Fan Page STKIP CItra Bakti Ngada

Di tengah kesibukan dan kepenatan menjalani segudang rutunitas dalam menghadapi UASBN dan UNBK pada bulan Maret dan April mendatang, siswa/i kelas XII SMA/SMK di daerah Bajawa dan sekitarnya mendapatkan sentuhan motivasi dan spirit serta berjuang bersama untuk melewati serangkaian tahapan ujian akhir mendatang.

Pada momen langka ini, STKIP CITRA BAKTI NGADA yang merupakan satu-satunya pendidikan tinggi di Kabupaten Ngada menyapa putra putri generasi Ndaga dengan mengusung sang motivator nasional Jeremy Emanuell Udjan, yang juga selaku pendiri J-SMART Public Speaking and Motivation. Antusiasme  ribuan siswa/i memadati aula SMANSA Bajawa pada minggu 17/02/2019. Pada kesempatan ini hadir pula Para guru pendamping dari berbagai sekolah.Para guru dan siswa pun larut dalam kegiatan penguatan dan motivasi tersebut.

Penguatan dan motivasi bagi siswa/i kelas XII SMA dan SMK " Get the Future" atau Raihlah Masa Depan Anda, memiliki satu tujuan yakni memenangkan Ujian Nasional 2019. Tegas Pak Jeremy, bahwa mulai hari ini berhentilah belajar untuk menjadi kaya karena apalah artinya jika anda kaya namun tidak bahagia. Sentuhan motivasi ini lebih menekankan agar siswa/i selalu fokus akan apa yang menjadi cita-cita hidup mereka masing-masing.


Suatu hal yang perlu disadari bahwa kodrat manusia sejak usia 0 - 25 adalah kerja. Gelombang kehidupan atau the wave of life  manusia selalu berubah. Rentangan usia 25-60 adalah kerja dan usia 60  ke atas menikmati sisa hidup. Perlu disadari bahwa hidup hanyalah sekali atau "Life is one way ticket" jadi kualitas hidup harus diperjuangkan dan terus menerus diperjuangan agar mencapai pada apa yang menjadi tujuan hidup kita.



Dalam kaitannya dengan ujian akhir baik UASBN maupun UNBK 2019, siswa/i diteguhkan dengan menanamkan sebuah anggapan bahwa itu semua hanyalah sebuah "ulangan" bukan ujian. Hal ini agar para siswa tidak terbebani dengan kata "Ujian" yang pada esensinya hanyalah sebuah "ulangan". Maka harus yakin bahwa kita harus maju, just move on, keep moving. Hadapilah segala persoalan belajar dengan senyum walau senyum tak pernah menyelesaikan masalah hidup kita. Tapi perlu diingat bahwa dari sebuah senyuman memungkinkan kita untuk mencari solusi. Masalah butuh penyelesaian bukan dihindari.

Pada closing statement, STKIP CITRA BAKTI Ngada selaku sponsor kegiatan tersebut menghadirkan Ketua Yayasan. Wilfridus Muga,SE.,M.Pd selaku ketua yayasan berkesempatan membagi tips sukses bagaimana membangun sebuah lembaga pendidikan tinggi satu-satunya di Ngada. Selaku pengelolah, STKIP Citra Bakti menawarkan sejumlah beasiswa dan discount biaya kuliah untuk beberapa Prodi. "Jika adij-adik berminat untuk melanjutkan pendidikan ke STKIP Citra Bakti, itu artinya kita sama-sama membangun Ngada, dan jika tidak berminat tidak apa-apa, kalu sudah selesai kuliah pulanglah ke Ngada dan marilah kita sama-sama menbangun Ngada, tandas Pak Fridus sapaan akrabnya. Rangkaian kegiatan ditutup dengan pertunjukan musik prodi musik yang tergabung dalam Citra Bakti Band dan pembagian brosur STKIP Citra Bakti kepada seluruh siswa/i yang hadir**

Catatan Lepas Guru Pendamping Siswa/i kelas XII SMAK Regina Pacis Bajawa.

15.2.19

"Komersialisasi Cinta" Di Hari Kasih Sayang

VOXRATEWATI.Com.

By Wara Cypriano

"Komersialisasi Cinta" di hari Kasih Sayang

Gambar ilustrasi: Google picture


Hingar bingar perayaan "Valentine's Day" menyisahkan sejuta kenangan. Pelbagai cara dilakukan untuk mengabadikan momen ini. Kemeriahannya seolah-olah tidak akan dirayakan kembali walau pun selalu dirayakan tanggal 14 Februari tiap tahunnya. Anak-anak, remaja bahkan orang tua larut dalam euforia perayaan ini. Entah apa makna dan bagaimana sejarah hari kasih sayang yang jelas semua orang merayakannya dengan aneka cara. Ada yang saling tukar kado berupa cokelat, atau kembang mawar merah bahkan ada yang memberikan hadiah istimewah berupa mobil,rumah atau barang berharga lainnya. Atau juga menjadikannya hari pernikahan agar momen tak terlupakan (unforgettable memories) ini terus dirayakan.

Di sisi lain kemeriahan hari Kasih Sayang juga tidak sedikit menyisahkan kisah pilu bahkan tragis yang berujung pada kematian entah akibat kecelakaan, bunuh diri karena putus cinta, bahkan terjadi keretakan rumah  tangga akibat pemaknaan hari kasih sayang yang kebablasan. Ada yang gembira namun ada juga yang terlarut dalam kegalauan. Para orang tua misalnya menjadi was-was apabila anak gadis atau remaja putranya merayakan bersama pasangan bicaranya (Pacar) atau teman sebayanya. Fenomena ini tidak saja melanda kawula muda bahkan juga tak sedikit banyak pasangan yang bukan suami istri merayakan hari kasih sayang di hotel-hotel sambari "mengobral cinta" bersama teman bukan pasangannya. Itulah kejadian nyata yang dari tahun ke tahun terjadi, bukan saja berkurang namun terus meningkat.Pertanyaannya adalah, apa sih makna hari Kasih sayang bagi saya, anda dan kita semua?
***
Dalam tradisi awal hari kasih sayang dikatakan bahwa upacara pemujaan dewa cinta dalam mitologi Yunani atau juga dalam tradisi gereja Katolik yang dilandasi oleh penghayatan iman St.Valentinus atau juga kisah lain yang melatarbelakangi lahirnya tradisi ini, sehingga tidak sedikit dari kelompok tertentu yang menolak perayaan hari kasih sayang ini karena identik dengan ritus agama tertentu. Itu semua merupakan kebebasan pribadi apakah mau merayakannya atau tidak. Maks dari itu, ada sekelumit gambaran tentang tradisi hari Velentine dalam Gereja Katolik. (Sumber: Katolisitas Indonesia) Ada 2 orang Santo di dalam Gereja Katolik yang bernama Valentinus, yaitu St. Valentinus Roma dan St. Valentinus dari Terni. St. Valentinus yang pertama adalah seorang uskup yang berasal dari kota bernama Terni yang terletak sekitar 60 mil dari Roma. Ia ditahbiskan menjadi Uskup Terni oleh Paus St. Viktor I sekitar tahun 197 M. Atas perintah Prefek Plasidus, ia juga ditangkap, didera, dan dipenggal kepalanya, dalam masa penganiayaan Kaisar Klaudius II. St. Valentinus yang pertama adalah seorang Imam Katolik dan dokter yang berasal dari kota Roma. Ia bersama seorang awam berkeluarga yang sekarang sudah dianggap sebagai Santo oleh Gereja Katolik yaitu St. Marius menolak dekrit Kaisar Klaudius II yang melarang pernikahan di Romawi selama peperangan.

Mereka berdua pun berinisiatif menikahkan banyak pasangan. Namun inisitatif Mereka malah diketahui oleh Kaisar Klaudisius dan akhirnya mereka kemudian ditangkap dan dipenjarakan. Mereka selanjutnya dijatuhi hukuman mati dengan disiksa, hingga akhirnya dipenggal pada tanggal 24 Februari 269 di Via Flaminia. Paus Santo Julius I dilaporkan membangun sebuah gereja dekat Ponte Mole untuk mengenang St. Valentinus dari Roma. Relikui St. Valentinus dari Roma saat ini berada di Gereja Santo Praxedes. Dia menjadi martir pada tanggal 14 Februari tahun 269. Setelah itu Paus Gelasius I (496 M) secara resmi menetapkan Pesta St. Valentinus yang jatuh pada tanggal 14 Februari, beberapa orang bingung akan siapa yang dimaksud oleh Paus Gelasius I karena St. Valentinus dari Terni dan St. Valentinus dari Roma mempunyai nama yang sama dan dilain pihak karena hidup pada masa pemerintahan Kaisar Klaudius II yang juga mengalami kemartiran di tempat yang sama, di Via Flaminia.

Beberapa orang ada yang mengatakan bahwa tidak ada hubungannya antara St. Valentinus dengan Hari Valentine kecuali ada fakta, tertentu bahwa St. Valentinus yang hidup pada abad ke-3 menjadi martir pada tanggal 14 Februari. Pada tanggal 14 Februari, di kota Roma ada sebuah tradisi di mana para laki-laki menarik undian dari sebuah wadah yang besar, yang berisi nama para wanita yang akan menjadi pasangan mereka dalam berbagai bentuk perayaan pada tanggal tersebut, untuk menghormati dewi cinta Romawi yang bernama Februata Juno. Pada masa itu beberapa Iman Katolik mengutuk dan kebiasaan tersebut karena apa yang mereka lakukan tersebut tentu saja dalam bentuk penyembahan berhala. Salah satu Imam Katolik yang terlibat dalam hal ini adalah St. Valentinus.

Pada masa itu pula, Bangsa Romawi terlibat dalam banyak peperangan, sehingga Kaisar Klaudisius menarik banyak pria-pria Romawi untuk bergabung ke dalam medan pertempuran. Banyak dari pria-pria ini tidak mau meninggalkan kekasih yang mereka cintai. Hal ini membuat Kekaisaran Romawi sulit untuk merekrut tentara.

Kaisar Klaudius pun akhirnya murka dan memerintahkan ke seluruh daerah bahwa tidak boleh ada lagi upacara pernikahan. Sehingga ada seorang Imam yang bernama St. Valentinus yang merasa kasihan kepada pasangan-pasangan yang dipaksa untuk berpisah. Hingga di suatu hari, St. Valentinus dengan diam-diam menyatukan sebuah pasangan dalam suatu janji suci perkawinan. Dan segera terjadi banyak pernikahan di Roma seolah-olah dekrit kaisar di atas tidak pernah dikeluarkan. Dan akhirnya berita ini sampai ketelinga otoritas romawi. St. Valentinus pun lalu dijatuhi hukuman mati. Ia dipenjara, dipukul beramai-ramai, kemudian dilempari batu lalu dipenggal di Via Flaminia. Sekali lagi sebenarnya tidak ada hubungan antara perayaan hari kasih sayang dan St.Valentinus tapi kenyataannya orang selalu mengaitkannya.(*** Wikipedia Indonesia 2018)

 ****
Oleh karenanya, perayaan hari kasih sayang selalu menjadi momen yang ditunggu-tunggu terutama bagi kaum remaja namun juga ada momok dan kegalauan berlandaskan kasih sayang dari orang tua yang selalu memikirkan dan berjuang agar putra putrinya terhindar dari tindakan yang menjurus pada sebuah tindakan amoral bahkan kriminal.

Kini, hari kasih sayang atau Valentine's Day selalu diidentik dengan hari komersialisasi cinta. Makna cinta sebenarnya yang mengandung nilai ketulusan, komitmen, saling support, bela rasa kini sudah mengarah pada perilaku negatif, makna cinta saat ini  berwawasan sempit selalu mengandung konotasi negatif. Hal ini serupa dengan apa yang dimuat di berbagai media cetak dan elektronik. Begitu banyak kejadian memilukan pasca perayaan hari kasih sayang bahkan menjadi viral dan trending topic di berbagai media. Maka sejatinya komersialisasi cinta di hari kasih sayang benar adanya. Cinta berorientasi sex atau cinta meminta bukti. Perasaan cinta tidak lagi dipandang berharga dan suci. Banyak orang mengambil keuntungan di momen ini namun tidak sedikit juga yang mengalami kepedihan tak berkesudahan yang diakibatkan oleh hari kasih sayang. Bagai dua sisi mata uang, minus malum, untung rugi, kebahagiaan kesedihan, kerukunan perpecahan, kesejahteraan kemelaratan. Maka dari itu Perlu disadari bahwa kasih sayang itu hanya bisa dihayati dengan landasan cinta tanpa batas (endless love) bukan dengan kemewahan lahiriah semata atau dorongan nafsu sesaat. Jadikan diri kita sebagai sumber dan pelaku cinta sejati karena sesungguhnya cinta sejati tak pernah berganti warna.
("Do the small things with the great love" Mother Theresa.

Catatan lepas pasca hari Valentine.

11.2.19

Rm Mangun Wijaya

VOXRATEWATI.Com. By REPOST:
IN MEMORIAM "ROMO MANGUN"

Foto insert:sumber RD Joko



"......Pendidikan berfungsi, antara lain, mengurangi dan menyingkirkan halangan-halangan yang ada dalam masyarakat, sehingga setiap orang dengan inteligensi sederhana saja dapat mencapai suatu tingkat kecerdasan yang mencukupi untuk mengurus dirinya sendiri dan bertanggung jawab sendiri atas apapun yang dilakukannya...."

Hari Senin Wage 22 Juli 1963, Monseigneur Albertus Soegijapranata wafat dalam pelukan sang murid kesayangannya: Romo Mangunwijaya.

Sang Pahlawan Nasional itu wafat di Susteran Pusat Penyelenggaraan Ilahi di Heerlen negeri Belanda. Sang guru seolah-olah menunggu untuk berpamitan dari sang murid yang sekitar satu jam sebelumnya datang dari Jerman.

Berselang hampir 36 tahun kemudian, hari Rabu Legi 10 Februari 1999, Mangunwijaya wafat di pelukan Mohamad Sobary, salah seorang sahabat baiknya. Dia wafat sebagaimana keinginannya “sebagai guru sekolah dasar, ketika sedang dalam tugas, di antara orang-orang yang menyayanginya, di antara manusia lintas suku agama ras dan antar golongan, dan tidak terlebih dulu merepotkan orang lain.”

Soegijapranata adalah sosok berpengaruh besar bagi Mangunwijaya. Dia merupakan figur pembeda  kedua yang ikut mengubah perjalanan sejarah hidup Mangunwijaya.

“Soegijapranata paling berkesan bagi saya. Beliau guru saya. Kalau harus menyebut guru-guru saya yang berpengaruh, nama pertama yang saya sebut adalah Soegijapranata. Saya jadi begini, antara lain, juga oleh hikmah-hikmah pelajaran yang saya terima dari beliau.”

Uskup Soegijapranata yang mentahbiskan Mangunwijaya menjadi romo tahun 1959. Tahun itu juga dia memberi tugas kepada Mangunwijaya untuk belajar arsitektur. Kala itu Vikariat Semarang sedang membangun banyak gereja, dan memerlukan seorang imam yang juga ahli dalam pembangunan.

Sebagai persiapan, Romo Mangun mulai memasuki Institut Teknologi Bandung (ITB). Berada satu tahun di Bandung, dia kemudian bertolak ke Aachen Jerman pada tahun 1960.

Tugas belajar arsitektur di Jerman menghadirkan bukan sekedar ilmu arsitek yang menjadi ‘kesaktiannya’ dalam berkarya. Namun menghadirkan ‘momen berlian’ yang kelak berpengaruh signifikan dalam jejak pengabdiannya. Karena di sini dia bersua dengan dua sosok yang kelak menjadi bagian pengambil kebijakan di Republik Indonesia tercinta: B. J. Habibie (Presiden Republik Indonesia ke 3) dan Wardiman Djojonegoro (Menteri Pendidikan dan Kebudayaan saat Romo Mangun mulai mengeksplorasi konsep pendidikannya).

Kedua orang ini menjadi sahabat dekatnya. Saking dekatnya, kepada B. J. Habibie Romo Mangun menyapa Mas Rudy. Sebuah sapaan yang menandakan kedekatan. Sementara Wardiman pernah berkunjung ke SD Eksperimental Kanisius Mangunan, ini sekolah yang didirikan Romo Mangun berada di desa, padahal sekolah di kota saja jarang punya kesempatan mendapat kunjungan dari seorang menteri.

Mayor Isman, komandannya ketika menjadi anggota Tentara Republik Indonesia Pelajar (TRIP) merupakan sosok lain yang mengubah sejarah hidup Mangunwijaya.

Tatkala selesai berperang dan keluar dari hutan, Mangunwijaya mendengar pidato Mayor Isman yang justru di telinganya terdengar jauh lebih berdentam bertalu-talu dibanding suara dentuman meriam tentara Belanda. Gaung pidato itu dia bawa sampai ke rumah, ke bilik tidurnya, membuatnya tidak bisa tidur, memaksanya mengubah haluan hidup, dan memproklamasikan keinginannya untuk total mengabdi bagi nusa bangsa tercinta. Terutama menemani rakyat kecil dan mereka yang terpinggirkan.

Gaung pidato sang komandan memicu gelora di nuraninya dan tekad bulat di jiwanya. Gaung itu tidak hanya bergema di bilik tidurnya, tidak berhenti dalam satu dua hari lalu menguap, tetapi terus mengalir.

Mengalir deras membahana merobohkan semua cita-cita dan cintanya yang tumbuh terdahulu di benaknya. Itu terus mengalir semasa hidupnya dan terus bahkan sampai ketika dia masih mengemban tugas menyumbangkan pikiran dalam seminar perbukuan “Meningkatkan Peran Buku dalam Upaya Membentuk Masyarakat Indonesia Baru” tanggal 10 Februari 1999, hari Sang Burung Manyar wafat. Sejak mendengar pidato itu, Mangunwijaya bukan lagi orang yang sama dibanding sebelum mendengar pidato.

Mayor Isman dan Monseigneur Soegeijapranata, dua sosok hebat yang berkontribusi membentuk komitmen hebat Romo Mangun dan membangun kualitas dirinya menjadi, sebagaimana ucapan Gus Dur, “Romo Mangun itu salah seorang Bapak Bangsa Indonesia. Dia patut mendapat kehormatan semestinya.”

Cerita Ado Bintoro salah seorang muridnya mereaktualisasi kenangan tentang Romo Mangun. Ado Bintoro pernah tinggal bersama Romo Mangun di rumahnya yang artistik di Gang Kuwera 14, Mrican Sleman Yogyakarta. Ado mengisahkan, 

“Kalau mau  mengenang Romo Mangun, tak pernah ada  habisnya, selalu ada saja cerita-cerita yang menarik atau kadang lucu, ada pula yang merenyuhkan, semuanya patut dijadikan contoh teladan. Semisal, suatu ketika, pada  hari Minggu sehabis makan pagi, saya melihat Romo merenung, duduk di lincak bambu, beliau memandangi anak asuhnya yang belum lama kehilangan bapaknya yang meninggal karena sakit. Nama anak itu Yani. Romo Mangun memperhatikan Yani yang sedang bermain tanah yang dibikin gundukan menyerupai makam. Entah apa yang sedang Romo pikirkan.”

Ado Bintoro memberanikan diri mendekat.

“Permisi Romo.”

“Eh… ada apa?” Romo sedikit terkejut.

“Romo sakit ya?” tanya Ado Bintoro, basa-basi.

“Ah.. tidak kok.” Lalu Romo mengajak Bintoro memperhatikan. “Itu lo sedang memperhatikan Yani. Anak itu mungkin ingat bapaknya, atau masih merasa kehilangan, sepertinya belum percaya kalau bapaknya tiada.”

“Diajak masuk sekolah lagi, gimana, Mo?”

“Sudah, tadi malem saya bujuk dia sekolah. Cuma geleng-geleng, jadi saya tak tega untuk memaksa, wong namanya anak seusia dia masih labil. Toh, dia baru kelas satu SD.  Biarkan dulu saja, ditunggu saja sampai dia betul-betul tenang dan bahagia dengan sendirinya. Tapi yang saya herankan, kok belum ada salah satu pun guru yang nanyakan keadaan-nya.” Ujar Romo, menyesali.

Romo Mangun adalah sebuah kenangan. Namun bukan kenangan yang gersang dan menggersangkan. Dia inspirasi subur dan menyuburkan yang melintasi sekat-sekat, menembus tembok-tembok pembeda. Seperti kata-kata Gus Dur, “Romo Mangun mampu menembus sekat-sekat formalisme dan simbiolisme. Dia sentuh setiap manusia dengan ketulusan cinta kasihnya yang terpancar dari keimanan dan keyakinannya. Inilah yang menyebabkan Romo Mangun mampu hadir dalam hati setiap manusia.”

NB:
Buku "XXI" (RJK, KANISIUS).

Yusuf Bilyarta Mangunwijaya, seorang imam diosesan Keuskupan Agung Semarang, adalah splendor veritatis – yang penuh dengan warna-warni pelangi kemanusiaan.

Pergulatan hidupnya tercermin dalam beragam karya monumental. Novel "Burung Burung Manyar" (1979) menyabet penghargaan The South-East Asian Award (1986).

Sentuhan arsitektur yang berbasis masyarakat terpinggirkan di tebing Kali Code  telah membuatnya dianugerahi Aga Khan (1990-1992). Belum lagi, kepeduliannya terhadap karya pendidikan dasar dan orang-orang miskin. Ia jugalah yang mendirikan Dinamika Edukasi Dasar (DED). Untuk itulah, bagi saya sendiri, Romo Mangun itu “Hari”, :hadir untuk memberi."

A.
Sebuah Sketsa Profil.

‘’Rumah saya seperti rumah dukun. Banyak orang berdatangan, untuk mengeluh atau minta saran,’’ kata Romo Mangun. Mereka yang berdatangan adalah para mahasiswa, dosen, atau para tetangga, apa pun agamanya.

Kediamannya berupa sebuah rumah panggung, berdinding gedek, terletak di lembah yang berhimpitan dengan jembatan Gondolayu, Yogyakarta. Berdekatan dengan rumahnya terdapat sederetan rumah serupa, yang dihuni tuna wisma, pemungut sampah, tukang becak, dan anak-anak penyemir sepatu.

Tempat tinggal “orang buangan’’ yang tertata rapi itu adalah hasil rancangan Romo Mangun - arsitek lulusan Rheinisch - Westfaelische Technische Hochschule, Aachen, Jerman Barat.

Ia adalah putra sulung dari 12 bersaudara, anak dari pasangan Julianus Sumadi Mangunwijaya dan Serafin Kamdiyah. Ia lahir di Ambarawa pada tanggal 6 Mei 1929. Kedua orang tuanya adalah guru, sedangkan kakeknya adalah petani tembakau.

Sekolah formalnya dimulai di Muntilan, tetapi ia terpaksa tidak dapat melanjutkan pendidikan di sekolah tersebut karena sekolah tersebut bubar ketika Jepang memasuki Indonesia. Semasa remaja, ia sempat bergabung dengan Tentara Pelajar. Saat itu Romo Mangun tergabung dalam Batalyon X yang dipimpin Mayor Soeharto, mantan Presiden Indonesia.

Dalam seluruh hidup Romo Mangun, satu hal yang tidak dapat dipungkiri adalah pilihan keberpihakannya kepada rakyat, terutama kaum miskin, lemah, miskin, dan tersingkir. Sejak awal, sikap ini menjadi pilihan hidupnya. Pilihan keberpihakan ini diawali dengan pengalamannya di kota Malang.

Waktu itu, ada perayaan penyambutan Tentara Indonesia. Semua mengelu-elukan tentara sebagai pahlawan. Lalu Mayor Isman mendapat giliran berpidato. Mayor Isman mengatakan,
“Kami bukan pahlawan. Kami bukan bunga bangsa. Kami bukan madu bagi rakyat. Karena kami sudah membunuh, kami sudah membakar, kami sudah berlumuran darah dan melakukan hal-hal yang kejam ... Sebetulnya kami ini bukan
pahlawan. Yang pahlawan adalah rakyat jelata, petani-petani yang menghidupi kami. Jika Belanda datang, kami lari. Memang
bukan karena pengecut, melainkan karena kekuatan tidak seimbang. Tapi rakyat tidak bisa lari. Mereka yang menjadi korban, diperkosa, dibakar rumahnya, ditembak. Mereka yang
berkorban, tetapi yang menjadi pahlawan bukan rakyat.”2

Pengalaman ini membuat Romo Mangun tergugah untuk membalas budi kepada rakyat. Usaha pembalasan budi kepada rakyat itu ditempuhnya dengan menjadi imam praja (baca: diosesan). Ia lebih memilih menjadi imam praja karena ia ingin bekerja langsung di tengah rakyat.

Bagi Mangun, menjadi imam adalah sebuah cara untuk berusaha menjadi jembatan antara manusia dan Tuhan. Pada tanggal 8 September 1959, ia ditahbiskan menjadi imam oleh Mgr. Soegijapranata, SJ.

Dalam sebuah wawancara, Romo Mangun mengakui bahwa status imamat memang memberi banyak kemudahan baginya, tapi ia ingin menjadi manusia biasa saja. “Yang berat justru untuk tetap bertahan sebagai manusia biasa. Sebab pastor itu ‘kan seolah-olah kasta tersendiri. Mudah membuat orang menjadi sombong. Karena itulah orang seperti kami harus selalu aware jangan sombong.”3

Tadinya, ia memang hanya ingin menjadi pastor desa, tetapi uskupnya menginginkan agar ia melanjutkan studi. Ia lalu masuk Institut Teknologi Bandung dan Sekolah Tinggi Teknik di Aachen, Jerman. Gelar insinyur sipil diraihnya pada tahun 1966. Selain menjadi arsitek dan pastor, ia juga menjadi dosen luar biasa Jurusan Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada.

Seiring perjalanan waktu, orang-orang mengenalnya sebagai novelis, kolumnis berbagai surat kabar dan majalah, pekerja sosial, budayawan, dan tokoh besar yang mencintai orang miskin.

Selama hidupnya, Romo Mangun memang banyak terlibat dalam persoalan-persoalan masyarakat. Ia berkiprah di banyak tempat demi hidup masyarakat yang lebih baik. Pengalaman hidupnya di Code (Yogyakarta), Gigrak (Gunungkidul), Kedungombo (Boyolali) mengungkapkan betapa ia peduli terhadap persoalan-persoalan kemanusiaan.

Hasratnya untuk terlibat dalam mengangkat harkat dan martabat manusia membuatnya juga tidak dapat melepaskan diri dari persoalan-persoalan kehidupan orang-orang di sekitarnya. Dengan demikian, dia pun berpolitik. Komentar dalam buku Politik Hati Nurani mengatakan demikian: “Romo Mangun memang berpolitik, tapi bukan politik dalam arti mencari kekuasaan dan mempertahankannya dengan segala cara. Ia menampilkan hati nurani sebagai bagian integral dari perpolitikannya. Politik harus menggunakan hati nurani dan hati nurani sendiri juga harus dipolitikkan untuk mencapai kesejahteraan masyarakat luas dan demi keadian bagi seluruh lapisan.”4

Romo Mangun sendiri menghabiskan sisa hidupnya di Gang Kuwera, Jalan Gejayan, Yogyakarta. Saat ini bekas rumah tinggal sekaligus kantornya ini digunakan sebagai kantor Yayasan Dinamika Edukasi Dasar, sebuah yayasan yang didirikannya.

Akhirnya, ia menghembuskan nafas akhirnya pada hari Rabu Legi, 10 Februari 1999, ketika ia diminta menyampaikan gagasan dalam seminar perbukuan dengan tema Meningkatkan Peran Buku dalam Upaya Membentuk Masyarakat Indonesia Baru di Hotel Le Meridien, Jakarta. Banyak kalangan yang merasa kehilangan atas kepergiannya.

Berbagai komentar dari tokoh masyarakat, termasuk Mantan Presiden BJ Habibie, menunjukkan bahwa bangsa ini telah kehilangan seorang tokoh yang menjadi suri teladan. Jenazahnya dimakamkan di Seminari Tinggi Kentungan, Yogyakarta. Meskipun ia telah pergi, namun nilai-nilai kemanusiaan yang diajarkannya tidak akan pernah hilang, bukan?

B
Refleksi Teologis

1.
Sugi, Suka Berbagi.

Tindakan politik Romo Mangun sungguh didasari pengalaman mistiknya dengan Allah. Ia sungguh-sungguh berpolitik. Ia membangun negara yang demokratis. Ia ingin betul-betul
tidak ada orang yang disingkirkan dalam pembangunan negara. Apa yang dilakukan Romo Mangun adalah tanggapan kenabian terhadap kenyataan yang bobrok.5

Kiranya tidak berlebihan, kalau Jennifer Lindsey menilai bahwa Romo Mangun adalah hati nurani bangsa. “Orang agung yang bijak di dunia ini memang jarang dan Romo Mangun adalah salah satu di antaranya.

Beliau adalah salah seorang cendekiawan Indonesia terbesar, seorang yang amat mencintai negaranya dan dari rasa cinta tersebut berani bicara sebagai hati nurani bangsa.”6

Saya pribadi kalau mengingat Rm Mangun, jadi teringat seorang supir bernama Sugi (kebetulan Romo Mangun juga pernah menjadi supir ketika ikut dalam Tentara Pelajar). Saya mengenal Mas Sugi ketika bertugas pastoral di Kolese Gonzaga Jakarta, sekitar tahun 2002. Bagi saya, “Sugi” bisa berarti suka berbagi. Saya juga melihat bahwasannya Rm Mangun juga suka berbagi.

Dalam bagian refleksi teologis ini, saya membaginya dalam tiga bidang besar sebagai berikut.

a. Romo Mangun sebagai Guru:
Romo Mangun bukan hanya seorang rohaniawan, tapi ia juga adalah seorang tokoh yang mencoba membagikan pemahaman betapa pentingnya pendidikan dasar bagi masyarakat, terutama pendidikan bagi rakyat kelas bawah. “Anak-anak miskin yang tanpa sepengetahuan mereka terlempar lahir di kalangan kumuh itu, itulah yang sebetulnya lebih memerlukan pertolongan dan
dari pengalaman itu saya mengambil kesimpulan bahwa prioritas selanjutnya yang ingin saya kerjakan adalah mengabdi kepada pendidikan dasar anak-anak miskin,” kata Romo Mangun.

Di sinilah, Rm. Mangun mencoba untuk keluar dari lingkaran setan: dampak kekuasaan yang termanifestasi melalui kurikulum yang sarat dengan pengetahuan namun miskin dalam pemaknaan. Karena itu, dengan memanfaatkan sebuah SD Kanisius Mangunan, Sleman yang hampir mati, pada tahun 1994, Rm. Mangun mengadakan terobosan (groundbreaking)
dengan tiga sasaran.

Pertama, Rm. Mangun menciptakan kurikulum yang khas. Kepedulian dan kedekatannya dengan wong cilik telah mendorongnya untuk mengangkat kemiskinan sebagai laboratorium eksperimental untuk mengentaskan anak miskin.

Kedua, sebagai partner kerja dari SDKEM, Rm. Mangun juga mendirikan Dinamika Edukasi Dasar (DED) yang berperan sebagai think tank untuk mendukung dari program-program pembelajaran di SDKEM. Di DED inilah berbagai persoalan pendidikan pada tingkat pendidikan dasar diangkat, didiskusikan, dibagikan, dipahami secara bersama, disikapi secara kritis, dan akhirnya dicarikan solusinya.

Ketiga, Rm. Mangun juga tidak enggan menggandeng berbagai rekan, mengembangkan jaringan, dan menyebarkan temuan-temuan dalam berbagai eksperimen tersebut ke berbagai forum.

Sebagai seorang pendidik, ia juga pernah berpendapat bahwa beberapa daya yang harus dikembangkan, yaitu: daya kognitif (daya nalar), cita rasa dan kemampuan afektif (rasa, intuisi dan hal-hal yang berhubungan dengan perasaan), kemampuan untuk saling berkomunikasi (bergaul, bekerja sama, teratur, tenggang rasa), kesehatan raga, dan hati nurani (sikap atau semangat tolong menolong, setia kawan, sopan, dan cinta kasih).7

Pendidikan daya yang terakhir inilah, “pendidikan hati nurani”, dapat dilakukan melalui komunikasi iman (bukan melulu agama) dalam kehidupan, dialog, percakapan, dan lebih-lebih perbuatan. Tujuan komunikasi iman ini adalah untuk menumbuhkan sikap dasar yang benar, hati nurani yang peka terhadap segala yang baik, adil, benar, senang menolong, dan membuat orang lain gembira, sekaligus memekarkan watak yang menolak segala yang buruk, menghina teman yang miskin, cacat, atau lambat belajar misalnya.8

Di sinilah, saya mengangkat pernyataan Ignatius Haryanto, dalam kata pengantar buku Politik Hati Nurani. Ia menulis: “Sosok Mangunwijaya yang pasti bukanlah seorang politikus dalam arti seorang yang memimpin partai, memimpin sekelompok massa, dan memperjuangkan suatu kepentingan bersama. Romo Mangun mengerti soal politik, dan dalam arti luas ia juga berpolitik, namun ia mendasari politiknya lewat pengabdian pada kemanusiaan. Profesinya sebagai seorang rohaniwan mau tidak mau mempengaruhi option yang dipilihnya tersebut. Dengan seluruh karya sosialnya, Mangun menunjukkan bahwa ia bergerak atas dasar panggilan nurani kemanusiaan ... Hati nurani bukanlah hal yang terpisah dari kehidupan politik, bahkan justru
kegiatan politik harus memiliki Hati Nurani jika perpolitikan hendak berlangsung abadi dan mendapatkan simpati dari rakyat.”9

Secara imani, Romo Mangun mengajak kita melihat bahwa berbagai pengalaman hidup yang dijumpai dalam hidup keseharian dapat diangkat dan dimaknai dengan adanya kepekaan hati nurani. Barang-barang bekas bisa dibawa ke kelas untuk menumbuhkan kesadaran tentang makna kreativitas, perlunya konservasi alam, dan kepedulian terhadap sesama.

Bagi Rm. Mangun, kemiskinan bukan alasan untuk merasa pesimistis, gagal, dan tidak berprestasi. Bukankah Tuhan juga datang sebagai orang miskin di sebuah kandang Betlehem? Romo Mangun bahkan pernah juga mengatakan, “Yang utama adalah berbuat adil untuk membela orang kecil dan solider terhadap yang menderita ... demi perdamaian dunia, kemanusiaan, keadilan sosial, dan kemerdekaan.”

Menurutnya, iman adalah tindakan, ya tindakan yang membuat manusia menjadi lebih manusia, menjadi lebih punya hati nurani.10

b. Romo Mangun sebagai Sastrawan:
Dalam khasanah sastra Indonesia Romo Mangun dikenal sebagai seorang penulis novel yang produktif. Sampai di akhir hidupnya ia telah menulis puluhan novel. Beberapa karya satranya antara lain: Romo Rahadi (1981), Burung-burung Manyar (1981), Ikan-ikan Hiu, Ido, Homa (1983), Roro Mendut, Genduk Duku, Lusi Lindri (1983-1986), Balada Becak (1985), Burung-burung Rantau (1992), Balada Dara-dara Mendut (1993), Durga Umayi (1994), Tak Ada Jalan Lain (1999), Pohon-pohon Sesawi (1999).

Membaca novel Romo Mangun berarti juga membaca humanisme. Dalam pandangan Ahmad Syafii Maarif, semua napas dan roh novel-novel Romo Mangun menunjukkan sosok multidimensionalitas pribadinya.

Melalui novelnya, Romo Mangun mencurahkan pandangannya tentang kemanusiaan dan kebangsaan. Ia menulis cerita dengan cara yang sangat jelas dan memakainya sesuai kebutuhan. Kadang seorang Mangun bergaya, seperti seorang kakek yang bercerita dengan menyenangkan kepada cucunya, misalnya dalam Burung-burung Manyar yang diselipi unsur jenaka dan riang, walaupun ada novel yang tergolong ”sulit” dicerna, seperti Durga Umayi.

Trilogi roman sejarah Rara Mendut dan novel petualangan Romo Rahadi bisa dibilang merupakan novel-novel yang paling nyaman dan mengasyikkan.

Tidak berbeda dengan penulis besar dalam sastra Indonesia, seperti Pramoedya Ananta Toer dan Sutan Takdir Alisjahbana, Mangunwijaya di hampir semua karyanya juga bercerita tentang keindonesiaan, tentang terbentuknya bangsa Indonesia. Keindonesiaan ditulis melalui pemikirannya yang kritis. Tanpa gentar ia mengungkap sisi lain dari kebanyakan kisah-kisah sejarah yang luput diceritakan. Misalnya, meski kini bangsa Indonesia sudah lama mengenyam kemerdekaan dan tidak lagi dikungkung penjajahan fisik, tetapi cerita Durga Umayi tetap relevan. Kolonialisme gaya baru, modernitas, dan kapitalisme global kini yang memperkosa Indonesia.

Dalam novel “Ikan-ikan Hiu, Ido, Homa”, sikap Mangunwijaya terhadap penjajahan jelas terlihat. Ikan hiu, ido, dan homa ialah proses makan dan dimakan. Ikan besar (hiu) memakan ikan kecil (ido), ikan kecil (ido) memakan ikan lebih kecil (homa).

Bagi saya, membaca karya Romo Mangun juga mengantar kita belajar memahami persoalan-persoalan kunci dunia melalui pengalaman Indonesia, seperti kolonialisme, modernitas, dan identitas yang kini menjadi pemecah belah manusia. Tampak jelas, bahwa Romo Mangun mengomunikasikan imannya lewat pelbagai tulisan yang dia hasilkan bukan?

c. Romo Mangun sebagai Arsitek:
Sebagai seorang arsitek, Romo Mangun mempunyai keistimewaan dalam dunia arsitektur Indonesia.

Hasil karya Mangunwijaya dapat menjadi contoh hasil ekspresi yang jujur dan kreatif dari jiwa dengan semangat option for the
poor: keberpihakan kepada kelompok lemah dan terpinggirkan.

Erwinthon P. Napitupulu, arsitek muda yang tengah mendokumentasikan karya-karya Mangunwijaya mengatakan di tengah diskusi yang digelar Dewan Kesenian Jakarta dalam rangka memperingati 80 tahun kelahiran Romo
Mangun di Goethe Institute, Jakarta, “seperti juga pada banyak aktivitasnya di bidang politik, pendidikan dan sastra, karya  Mangunwijaya di bidang arsitektur bukanlah menjadi tujuannya.

Baginya, arsitektur menjadi media  perjuangan untuk mencapai tujuan yang sesungguhnya, yakni kemanusiaan.” Mangunwijaya sebagai arsitek, misalnya, terlibat langsung dalam konflik sosial di Lembah Code ketika muncul rencana penggusuran.

Dia menggunakan arsitektur untuk membantu meredam konflik tersebut. Dia juga sempat mendesain perahu dan perpustakaan terapung untuk menjawab persoalan ketika terjadi ketidakadilan di Kedungombo (1989-1993).

Sejauh ini, tercatat 82 karya Mangunwijaya. Karya arsitektur Mangunwijaya menekankan kesederhanaan dalam penggunaan bahan bangunan. Dalam pembangunan, digunakan material dan tenaga kerja setempat. Bangunan menjadi kontekstual sehingga sesuai dengan kondisi Indonesia.

Contoh lain, dalam desain-desain rumah ibadah seperti Gereja, ciri yang menonjol ialah keterbukaan bangunan sehingga Gereja menjadi bagian dari komunitas setempat. Romo Mangun sendiri telah berhasil meraih dua kali IAI Award dan Aga Khan Award untuk ketiga buah karyanya, yakni: Perkampungan
Kali Code, tempat ziarah Sendang Sono, serta Biara Trapis Gedono.

Buah karyanya sarat dengan pesan, baik dari segi konsep maupun teknik, dan kerap disebut sebagai “Arsitektur Nusantara” karena tidak harus mengacu ke gaya-gaya arsitektur tertentu. Mangunwijaya (1985) selalu  mengingatkan lewat bukunya “Wastu Citra”, bahwa ternyata bangunan punya citra tersendiri, mewartakan mental, dan jiwa pembuatnya. Ternyata pula bila sang arsitek hendak berarsitektur sebaiknya ada kecenderungan lebih mendalami yang berhubungan dengan mental, kejiwaan, serta kebudayaan setempat.

Di tengah kiprahnya berkarya, beliau masih prihatin terhadap bidang arsitektur yang lebih banyak berpihak pada orang mampu daripada orang tidak mampu sehingga hal ini mendorong beliau dengan sadar melepaskan atribut keprofesian atau melepas embel-embel IAI di belakang namanya.

Kepedulian beliau ini dapat kita lihat dari hasil karyanya sebuah perumahan untuk kaum papa di Kali Code, Yogyakarta. Jelasnya, lewat pelbagai karyanya inilah, Romo Mangun sungguh membagikan imannya yang mau bersolider dengan masyarakat sekitarnya.

C.
Epilog

Sebagai penutup, saya kutipkan sepenggal sajak indah dari nenek moyang kita, yang dituliskan kembali oleh Mangunwijaya dalam bukunya Wastu Citra (hal 2):

“Kang ingaran urip mono mung jumbuhing badan wadag lan batine, pepindhane wadhah lan isine ...” (Yang disebut hidup sejati tak lain adalah leburnya tubuh jasmani
dengan batinnya).

Gereja pun diajaknya mencapai hidup sejati, maka Mangunwijaya pun dengan lantang menyerukan hati nurani kemanusiaan kepada seluruh warga Gereja.

“Di Asia, khususnya di Indonesia, manusia kecil, lemah, miskin umumnya tidak dihargai. Yang dihargai ialah mereka yang kaya dan berkuasa ... Hukum rimba: siapa kuat, dia
menang. Hukum ini nyata hidup dalam keseharian manusia, yang juga masih dianut oleh umat Katolik Indonesia.”11

“Kelakar adalah kelakar, tidak perlu diambil serius 100 %. Namun, setiap rohaniwan Gereja Katolik (yang nota bene terkenal sebagai agama yang kaya raya dan kuasa) sedikit banyak telah “terperangkap” dalam suatu sistem yang memang memberinya kesempatan dan fasilitas besar untuk memberi kepada kaum miskin, tetapi sangat menghalangi dia untuk menjadi kaum miskin.”12

Tampak jelas, keberpihakan Romo Mangun kepada kaum miskin adalah sesuatu yang digulat-geliati seumur hidupnya terus-menerus. Hidup Romo Mangun seakan-akan menjadi sebuah usaha yang tiada henti untuk memperjuangkan kaum miskin, lemah, kecil, dan tersingkir ini.

Jelaslah dia benar-benar mencari hidup yang sejatinya, dan bisa jadi bagi banyak orang, Romo Mangun memang “hadir untuk memberi”.

======

“Memanglah ada dua paradigma dan pengertian dan pengartian dasar politik.

Yang pertama lebih terkenal dan biasanya dikira satu-satunya, yakni politik dalam aspek kekuasaan; penyelenggaraan kekuasaan, pemilihan, pertahanan, perebutan, penikmatan, pelestarian, status quo kekuasaan, dan seterusnya; pendek kata, segala yang menyangkut power atau kekuasaan; termasuk kekuasaan mental, spiritual, rohani, agama, yakni yang berciri pemaksaan atau hegemoni kehendak oleh pihak yang lebih kuat kepada yang lemah.

Lazimnya khalayak ramai mengartikan politik melulu dalam arti pertama ini sehingga ada ucapan yang terbang di mana-mana: “politik itu kotor”.

Namun bagi orang terpelajar, ada politik berparadigma ke-2 yang sebenarnya lebih asli dan otentik, bisa ilmiah tetapi dengan praksis, ataupun sesuai kodrat alam manusia dan masyarakat, (tetapi kurang terkenal populer), yakni politik dalam arti: segala usaha demi kepentingan dan kesejahteraan umum; jasmani dan rohani.

Bukan untuk kepentingan golongan saya atau faksi dia, atau partai itu atau umat agama tertentu, akan tetapi demi kepentingan dan kesejahteraan umum, semua warga bahkan universal semua bangsa, tanpa pandang siapa dan golongan, luas; misalnya, sila ke-2 (kemanusiaan yang adil dan beradab), sila ke-5 (keadilan sosial bagi seluruh rakyat).

Juga demi perdamaian, kemerdekaan dan nilai-nilai moral, kebenaran, dan sebagainya demi tata hidup bersama yang membangun iklim budaya mulia, budi pekerti tinggi, yang menyemarakkan kesetiakawanan dan menumpas egoisme, individualis maupun kolektivisme yang mencekik serta penghapusan hukum rimba survival of the fittest, dan sebagainya, dan seterusnya. Ini politik dalam arti asli kodrat alami, demi kehidupan dan penghidupan bersama yang sejahtera umum atau politik dalam dimensi moral dan iman." (YB. Mangunwijaya).”13

Salam HIKers,
Tuhan memberkati & Bunda merestui
Fiat Lux - Be the Light -
Jadilah Terang!
(Gen 1:3)

Catatan-catatan:
1. Biografi Romo Mangun ini disusun dari data yang ada, terutama dari Y.B.
Mangunwijaya. Saya Ingin Membayar Utang Kepada Rakyat. Yogyakarta:
Kanisius. 1999.
2. “Saya Ingin Membayar Utang Kepada Rakyat” dalam Y.B. Mangunwijaya.
Saya Ingin Membayar Utang Kepada Rakyat. Yogyakarta: Kanisius. 1999.
Hal. 59-60.
3. “Saya Tak Mau Jadi Godfather” dalam Y.B. Mangunwijaya. Saya Ingin
Membayar Utang Kepada Rakyat. Yogyakarta: Kanisius. 1999. Hal. 28.
4. YB. Mangunwijaya. Politik Hati Nurani. Jakarta: Grafiasri Mukti. 1997.
Halaman sampul bagian belakang.
5. “Bukan Sekadar Politik Rohaniwan Biasa” dalam Y.B. Priyanahadi et all.
Romo Mangun di Mata Para Sahabat. Yogyakarta: Kanisius. 1999. Hal.
318-319.
6. Jennifer Lindsey. “Y.B. Mangunwijaya Hati Nurani Bangsa” dalam Y.B.
Priyanahadi et all. Romo Mangun di Mata Para Sahabat. Yogyakarta:
Kanisius. 1999. Hal. 111.
7. A. Supratiknya dan A. Atmadi. “Romo Mangun sebagai Guru” dalam Y.B.
Priyanahadi et all. Romo Mangun di Mata Para Sahabat. Yogyakarta:
Kanisius. 1999. Hal. 161.
8. Bdk. A. Supratiknya dan A. Atmadi. Ibid. Hal. 171-172.
9. Y.B. Mangunwijaya. Politik Hati Nurani. Jakarta: Grafiasri Mukti. 1997.
Hal. xi-xii.
10. “Saya Ingin Membayar Utang Kepada Rakyat” dalam Y.B. Mangunwijaya.
Saya Ingin Membayar Utang Kepada Rakyat. Yogyakarta: Kanisius. 1999.
Hal. 61.
11. “Memuliakan Allah, Mengangkat Manusia” dalam Y.B. Mangunwijaya.
Memuliakan Allah, Mengangkat Manusia. Yogyakarta: Kanisius. 1999. Hal.
17-18.
12. “Anawim” dalam Y.B. Mangunwijaya. Memuliakan Allah, Mengangkat
Manusia. Yogyakarta: Kanisius. 1999. Hal. 30.
13. “Rohaniwan Tak Boleh Berpolitik?” dalam Y.B. Mangunwijaya. Politik
Hati Nurani. Jakarta: Grafiasri Mukti. 1997. Hal. 90-91. Cypriano

1.2.19

Misa Jumad Pertama 1 Pebruari 2019

VOXRATEWATI.Com.


Gambar Insert: diambil dari fanpage Keuskupan Jakarta

Renungan ini diposkan kembali Dari akun Facebook RD Hans Wijaya

Lentera Keluarga
Tahun C-1. Masa Biasa. PW. S. Yohanes Bosco.
Jumat, 01 Februari 2019
Jangan Melepaskan Kepercayaanmu
Bacaan: Ibr 10:32-39; Mzm 37:3-4.5-6.23-24.39-40; Mrk 4:26-34.

Renungan
Surat kepada orang Ibrani meneguhkan orang-orang yang percaya: "setelah kamu menerima terang, kamu banyak menderita karena kamu harus bertahan dalam perjuangan yang berat...jangalah melepaskan kepercayaanmu."  Karena kepercayaan memberikan kepada jaminan hidup.
Pilihan untuk mengikuti Kristus itu kadang lebih membawa resiko daripada sukacita. Kadang kita diberi iming-iming; atau kalau iming-iming tidak mempan, maka muncullah ancaman-ancaman dengan satu tujuan yaitu meninggalkan iman.  Namun godaan yang terbesar itu bukan berasal dari luar tetapi dari dalam diri kita sendiri: kita meragukan kebenaran iman kita sendiri. Dasar iman kita sendiri tidak kokoh karena kita kurang mengalami (bukan hanya memahami) apa yang kita imani. Tuhan mengajak kita untuk tekun dalam iman.
Banyak orang mengalami pemulihan hidup dari masa lalu tetapi kadang kurang mempunyai ketekunan untuk berbuat benar terlebih lagi ketika maksudnya dicuekin, ditolak, dianggap pura pura dlsb. Ketekunan setidaknya dapat membuat kita menang melawan kecenderungan buruk dalam hidup kita dan memulihkan relasi yang telah retak-rusak.

Kontemplasi
Gambarkan  bagaimana Surat kepada orang Kbrani memberikan semangat untuk setia pada iman denga  ketekunan?

Refleksi
Apakah aku melihat iman sebagai harta yang berharga dan memeliharanya dengan ketekunan?

Doa
Ya Bapa semoga aku senantisa setia kepadaMu dalam situasi apopub.

Perutusan
Bertekunlah dalam iman  (Morist MSF).

30.1.19

PORNOGRAFI

PORNOGRAFI

oleh: P. William P. Saunders *

Katekismus Gereja Katolik memberikan tiga alasan mengapa pornografi adalah salah dan dosa. PERTAMA, pornografi melanggar keutamaan kemurnian. Setiap umat Kristiani dipanggil untuk hidup murni, sebab itu ia wajib menghormati kekudusan seksualitas kemanusiaannya sendiri, yang meliputi integrasi jasmani dan rohani dari keberadaannya. Ia juga wajib menghormati kekudusan perkawinan. Dalam menanggapi pertanyaan kaum Farisi mengenai perceraian, Tuhan kita mengajarkan, “Tidakkah kamu baca, bahwa Ia yang menciptakan manusia sejak semula menjadikan mereka laki-laki dan perempuan? Dan firman-Nya: Sebab itu laki-laki akan meninggalkan ayah dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya itu menjadi satu daging. Demikianlah mereka bukan lagi dua, melainkan satu” (Mat 19:4-6). Sebab itu, cinta kasih suami isteri yang mencerminkan ikatan sakramental antara mereka, dan pengucapan janji perkawinan juga sakral. Ungkapan cinta kasih suami isteri haruslah mencerminkan cinta kasih yang setia, permanen, eksklusif, saling memberi diri dan saling menghidupi antara suami dan isteri.

Namun demikian, hormat terhadap perkawinan dan cinta kasih suami isteri tidak hanya terbatas pada ungkapan secara jasmani. Rasa hormat itu juga meliputi dimensi rohani. Yesus mengajarkan, “Kamu telah mendengar firman: Jangan berzinah. Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang memandang perempuan serta menginginkannya, sudah berzinah dengan dia di dalam hatinya.” (Mat 5:27-28). Sebab itu patutlah, “kemurnian menjamin sekaligus keutuhan pribadi dan kesempurnaan penyerahan diri” (Katekismus Gereja Katolik, No 2337). Sebaliknya, pornografi merupakan tindak perzinahan batin yang menghantar pada ketidakutuhan rohani orang dan dapat menghantar pada perzinahan fisik atau tindak seksual yang tidak sah lainnya.

KEDUA, pornografi sangat merusak martabat semua mereka yang ikut berperan (para aktor, pedagang dan penonton). Masing-masing dari mereka mengeksploitasi diri atau mengeksploitasi yang lain dengan suatu cara demi kenikmatan atau keuntungan pribadi. Secara keseluruhan, martabat manusia - baik ia yang berpose, ia yang memproduksi, ia yang memperdagangkan, ataupun ia yang menikmatinya - direndahkan.

KETIGA, mereka yang terlibat dalam pornografi membenamkan diri dalam suatu dunia semu, dunia khayalan, lepas dari dunia nyata. Cinta kasih sejati senantiasa menyangkut memberikan diri demi kebaikan yang lain, sedangkan pornografi menarik orang untuk masuk ke dalam suatu dunia semu yang menyesatkan dan egois, yang kemudian dapat dilakukan dalam dunia nyata hingga mencelakakan diri sendiri dan orang lain. Masalah pornografi telah meningkat drastis sejak internet menyajikan hubungan seksual “virtual reality”.

Dosa pornografi tidak sekedar menyangkut “suatu tindakan pada suatu saat”, melainkan dapat menjadi semacam kanker rohani yang merusak manusia.

Dr Victor Cline (1996) mengemukakan empat dampak progresif dari pornografi:

 (1) kecanduan, di mana hasrat untuk menikmati tayangan-tayangan pornografi membuat orang kehilangan penguasaan diri;

(2) meningkatnya nafsu liar, di mana orang menjadi kurang puas dengan hubungan seksual yang normal dan masuk ke dalam pornografi yang semakin dan semakin brutal, biasanya guna memperoleh tingkat sensasi dan gairah yang sama;

(3) hilangnya kepekaan moral, di mana ia tidak lagi memiliki kepekaan moral terhadap tayangan-tayangan yang tidak wajar, yang tidak sah, yang menjijikkan, yang menyesatkan, yang amoral, melainkan menikmatinya sebagai tayangan yang dapat diterima dan mulai memandang orang lain sebagai obyek;

(4) pelampiasan, di mana khayalan diwujudkan dalam tindakan nyata yang jahat.

Jelas dan nyata, pornografi menimbulkan dampak buruk yang merusak segenap masyarakat, teristimewa perempuan dan anak-anak. Pornografi mengajarkan bahwa perempuan menikmati “dipaksa” dan menikmati aktivitas seksual yang brutal; pornografi mendukung pelacuran, mendukung orang mempertontonkan aurat, mendukung voyeurism (  perilaku di mana orang mendapatkan kenikmatan dengan melihat secara tersembunyi orang lain menanggalkan busana atau melakukan hubungan seksual), dan menganggap semua itu sebagai perilaku yang wajar; pornografi menganggap perempuan sebagai obyek seks belaka yang dipakai guna mendatangkan kenikmatan diri. Pada sebagian pria, secara rutin menikmati tayangan pornografi membuat mereka menganggap normal serangan terhadap perempuan dalam hal seksual maupun dalam interaksi lainnya; pornografi meningkatkan toleransi atas serangan yang demikian terhadap perempuan dalam budaya yang lebih luas (Surrette, 1992). Yang sangat menyedihkan, dampak terburuk pornografi mungkin terjadi atas diri anak-anak, khususnya anak-anak lelaki berusia antara 12 hingga 17 tahun, oleh sebab pornografi menggambarkan aktivitas seksual di luar pernikahan sebagai hal yang wajar dan dapat diterima, tanpa menghiraukan ancaman AIDS atau penyakit-penyakit kelamin lainnya yang mengerikan, dan tanpa menghiraukan beban tanggung jawab terhadap kemungkinan hadirnya kehidupan manusia baru.

Sementara sebagian orang berusaha membenarkan penggunaan pornografi demi meningkatkan keintiman dalam hidup perkawinan mereka, sebagian besar dari orang-orang ini lebih mengkhayalkan aktor-aktor dan adegan-adegan dalam tayangan-tayangan pornografi tersebut daripada pasangan mereka. Keadaan yang demikian memerosotkan kesakralan cinta kasih suami isteri menjadi suatu tindak perzinahan - yang satu mempergunakan tubuh yang lain sebagai sumber kenikmatan seksual sementara “bersetubuh” dengan suatu figur khayalan. Dr Cline melaporkan, “Pasangan mereka hampir selalu mengeluh merasa dikhianati, dilecehkan, ditipu, diacuhkan, dianiaya dan tak mampu bersaing dengan khayalan.” Tak heran Asosiasi Psikiater Amerika mendapati bahwa 20% dari pecandu pornografi bercerai atau berpisah karena kecanduan mereka.

Pernyataan mengenai dampak buruk pornografi didukung pula oleh bukti-bukti kriminal. Terdapat bukti akan adanya hubungan langsung antara kasus-kasus pemerkosaan, pelacuran, penganiayaan anak dan penyiksaan fisik terhadap pasangan, dengan maraknya sajian / tayangan pornografi dan gaya hidup mesum dan bisnis yang berorientasi pada seksualitas dalam suatu komunitas (Uniform Crime Report, 1990). Beberapa contoh: Pada tahun 1991, Departemen Kepolisian Los Angeles mendapati bahwa dalam periode sepuluh tahun, pornografi terlibat dalam duapertiga dari seluruh kasus pelecehan terhadap anak-anak. Satu dari enam orang di penjara-penjara negara adalah pelaku kejahatan seks; kejahatan seks berada di urutan kedua setelah kejahatan obat-obatan terlarang. Pada tahun 1988, Federal Bureau of Investigation melaporkan bahwa 81 persen dari para pelaku kekerasan seksual secara rutin membaca atau menyaksikan tayangan kekerasan pornografi.

Sebagai umat Kristiani, haruslah kita waspada terhadap pornografi, bukan hanya menghindari penggunaannya saja, melainkan juga menolak gambar, bayangan atau pemikiran apapun yang muncul secara tak sengaja, seperti misalnya ketika secara kebetulan menyaksikannya saat menonton film. Haruslah kita bertindak amat bijaksana dalam memilah-milah apa yang hendak kita saksikan ataupun apa yang hendak kita dengarkan. Kita patut menentang segala sumber pornografi yang mencemarkan serta merendahkan masyarakat kita. Di samping itu, dalam doa-doa kita, patutlah kita mohon keutamaan kemurnian, mohon pada Tuhan rahmat agar kita senantiasa murni dan menghormati martabat setiap pribadi, teristimewa dari kalangan lawan jenis. Apabila kita jatuh, dan dengan sengaja kita ikut ambil bagian dalam suatu bentuk pornografi atau menerima suatu gambar, bayangan atau pemikiran pornografi yang tidak dengan sengaja dicari, namun demikian kita terima, kita patut bertobat, mengaku dosa dan menerima absolusi. Katekismus Gereja Katolik mengajarkan bahwa pornografi merupakan “satu pelanggaran berat,” artinya secara obyektif merupakan dosa berat. Jangan pernah kita menganggap remeh dosa ini dan membiarkannya berakar dalam hidup kita.

sumber : “Straight Answers: Dealing with Addictions to Pornography” by Fr. William P. Saunders; Arlington Catholic Herald, Inc; Copyright ©2004 Arlington Catholic Herald. All rights reserved; wwwcatholicheraldcom. “diterjemahkan oleh YESAYA: wwwindocellnet/yesaya atas ijin The Arlington Catholic Herald.”
#groupAgamaKatholik#. By Wara Cypriano

30.12.18

Merajut Komitmen Bersama Pada Lembaran Ke 11

VOXRATEWATI.ComVOXRATEWATI.Com. By Wara Cypriano

Foto insert: Momen komuni pertama putri sulung 14 September 2018 (RD Hanz Owa)

"Sebab itu laki-laki akan meninggalkan ayah dan ibunya dan bersatu dengan istrinya, sehingga keduanya itu menjadi satu daging.Demikianlah mereka bukan lagi dua melainkan satu, karena itu apa yang telah dipersatukan Allah tidak boleh diceraikan oleh manusia." (Mateus 19: 5-6)


Selamat Ulang Tahun Perkawinan ke 11 bagi kami: Siprianus Wara & Ermelinda Mau Lodo

Terima kasih tak terhingga kepada Bapak & Mama Saksi (Bapak Haryanto (+) & Ibu Lia) Rm Yoseph Utus, O Carm serta keluarga besar Ende Ekoae Tugasoki & Bajawa Soa Libunio) Tuhan Yesus memberkati kita semua.

Pemberkatan Nikah Di Gereja Hati Kudus Yesus Kayu Tangan Malang, 31-12-2007.

Inilah kisah kami, sengaja kuberbagi walau segelintir beranggapan itu hanyalah sikap memamerkan privasi. Namun kusadari, bukan kelewatan jika kisah ini kami  torehkan membingkai wadah bahtera keluarga yang telah diarungi selama 11 tahun.

Hari ini 31 Desember 2018 merupakan hari istimewa yang tak dapat ditakar dengan segepok uang atau segenggam emas atau pun berlian namun hanyalah seberkas asa yang terus dijaga menoreh angan dalam menata keutuhan bahtera hidup berumah tangga. Disadari bahwa setiap kisah tentu meninggalkan sejuta cerita. Kisah-kisah yang selalu menghampiri dalam setiap lika liku perjalanan biduk berumah tangga kami, mulai dari merangkak hingga kini berdiri kokoh dan tetap tegar berjuang untuk terus melangkah walau dihadang pelbagai rintangan. Itu semua bagi kami merupakan kisah hidup penuh inspiratif.

Kisah kami telah ditorehkan sejak 31 Desember 2007 di gereja Katholik Hati Kudus Yesus Kayu Tangan Malang. Disaksikan oleh para saksi dan umat Allah, kami telah dikukuhkan dalam sakramen perkawinan. Mulai saat itulah 2 insan mengikrarkan janji sehidup semati, saling menerima dalam kelebihan dan kekurangan, untung dan malang serta berkomitmen menjadi ayah dan ibu yang baik bagi anak-anak yang dipercayakan Tuhan kepada kami sebagai wujud penghayatan akan janji perkawinan yang telah diikrarkan bersama. Kisah itu pun terus berlalu dalam pelbagai rupa: kesederhanaan, kekurangan bahkan ketakberdayaan menghadapi tantangan hidup.  Namun semuanya  berlalu seiring waktu yang terus melaju sembari menyabut kisah-kisah baru. Kisah itu akan selalu dilandasi cinta yang besar dengan asa membara melalui sebuah komitmen. Komitmen yang dibangun membutuhkan pengorbanan dari masing-masing pribadi yang kini telah menjadi satu dalam kisah dan kasih bersama. 

Dari sekelumit kisah, Kami menyadari bahwa perkawinan merupakan membangun komitmen bersama. Komitmen hidup tersirat sejuta makna dan harus terus terjaga hingga akhir hayat. Komitmen bersama tersurat nyata dalam janji perkawinan. Dalam janji inilah, kami menunjukan sikap komit dan penyerahan diri seutuhnya akan penyelenggaraan kasih Tuhan Sang empunya kehidupan. Apa yang dipersatukan Allah tidak boleh diceraikan manusia (Mat:19:6).Perkawinan yang satu dan tak terceraikan. Inilah hukum Allah yang menjadi landasan utama bagi perkawinan Katolik.  Satu tak terceraikan. 

Komitmen itu juga tidak sekedar tidak terceraikan, namun bersatu dalam apa pun juga, artinya sebuah komitmen untuk berbagi kehidupan yang menghidupkan,  inilah yang menjadi dasar perkawinan yang membahagiakan satu terhadap yang lain.  Kalau hanya serumah tapi tidak menyatu itu hanya kemunafikan yang membawa pada penderitaan bahtin. Atau serumah tanpa ada komunikasi itu bukan kesatuan namun seatap saja, dua tetap dua bukan satu. Hanya kesatuan hati dan roh, maka kebahagiaan itu akan menghampiri dan hanya itu yang bisa didapat dalam kebersamaan yang lahir dari komitmen tanpa syarat. Kasih itu sabar, kasih itu murah hati, Ia tidak cemburu, Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong, ....(1 Korintus 13:4-7).

Kami menyadari akan ketidak patuhan kami dalam menghayati amanat kasih Tuhan. Namun kami selalu dan terus menghayati bahwa dari 2 pribadi untuk disatukan membutuhkan waktu dan komitmen yang kuat dan bermakna walau seringkali mengalami kendala. Sekali lagi menyatukan ke 2 insan perlu kesadaran mendasar bahwa berdua itu menguatkan, berdua itu mengokohkan. Ketika kesatuan karena komitmen kepada Tuhan tetap kokoh, maka nyala kasih dan cinta akan terus membara dan ini yang menghadirkan sukacita tak berkesudahan. Itulah sebabnya kami senantiasa mengulang kisah ini hingga  ke 11th Wedding Anniversary sebagai sebuah deklarasi iman bukan sekedar ritual belaka yang selalu membaharui komitmen kami hingga memasuki lembaran ke 11 di tahun 2018 ini. 

Maka kami pun memahami bahwa kisah yang dirajut tak lepas dari badai dan topan yang mewarnai setiap asa, namun atas kasih dan pengorbanan serta komitmen bersama kami selalu yakin bahwa setiap persoalab bukan untuk dihindari namun harus mencari solusi untuk diselesaikan bersama. Hingga kini semuanya berlalu seiring masa yang tak bertepi. Biarlah masa ini menjadi saksi untuk menoreh kisah kasih selanjutnya dalam goresan lepas yang membawa harapan besar bahwa kisah kami selalu bermakna.

Kini buah kasih kami telah bertumbuh menjadi pribadi yang kian beranjak matang: si sulung berusia 11 tahun, ke 2 berusia 7 tahun dan ke 3 memasuki 3 bulan (Read: Chindrian, Joe & Tristan) Claudya Chindriani Mude, Joanes Krisostomus Reda Lodo & Octaviano Tristando Kota). Tak terasa hari-hari kami dihiasi tiga mahkota yang tak tergantikan dengan apa pun. Hanya pada Tuhan kami berserah ke tiga buah cintaNya dan semoga mereka menjadi anak yang berbakti pada orang tua dan demi keluhuran kasih sang Ilahi.



Sekali lagi di masa satu dekade lebih usia perkawinan ini, kami menyadari bahwa hal demikian bukan menjadi sebuah ukuran jika tanpa dilandasi komitmen dan pengorbanan bersama.Komitmen terjalin dituntut kesediaan untuk memberi tanpa pamrih dari setiap pribadi yang selalu membina kesetiaan dan ketulusan untuk berbagi dan mencintai.





Happy Wedding Anniversary to us: Siprianus Wara & Ermelinda Mau Lodo, may the graces and blessings of our Lord Jesus Christ lead us unto the unity, now and forver...

Endless love.
Chindrian, Joe & Tristan

 (catatan lepas merayakan ulang tahun perkawinan ke 11 (Senin, 31 Desember 2018)

 By Wara Cypriano

Selamat hari natal 2018 dan tahun baru 2019 Damai Kristus menyertai kita sekalian.

20.12.18

Keindahan Natal Versi Paus Fransiskus

VOXRATEWATI.Com. By Wara Wara

*Keindahan - Paus Franciscus*

“Natal biasanya pesta yg berisik,
kita bisa menggunakan sedikit kesunyian,untuk mendengar suara cinta”.

*Natal adalah anda sendiri* ketika anda memutuskan utk dilahirkan kembali setiap hari dan membiarkan Tuhan masuk kedalam jiwa anda.

*Pinus Natal adalah anda* ketika anda menahan angin kencang dan kesulitan hidup.

*Dekorasi Natal* adalah anda, ketika kebaikanmu adalah warna yg menghiasi hidupmu.

*Lonceng Natal* adalah anda,ketika anda menelpon,
berkumpul dan berusaha utk bersatu.

*Anda juga adalah lampu Natal* ketika anda menerangi jalan orang lain dengan kehidupan anda berupa kebaikan, kesabaran, suka cita dan kemurahan hati.

*Para Malaikat Natal adalah anda*
ketika anda bernyanyi pesan perdamaian,keadilan dan cinta untuk dunia.

*Bintang Natal adalah anda*,ketika anda menuntun seseorang untuk bertemu dengan Tuhan.

*Anda juga orang bijak* ketika anda memberikan yang terbaik tanpa peduli kepada siapapun yang anda berikan.

*Musik Natal* adalah anda,ketika anda menaklukan harmoni di dalam dirimu.

*Hadiah Natal* adalah anda,ketika anda benar-benar teman dan saudara bagi setiap manusia.

*Kartu Natal adalah anda* ketika kebaikan tertulis di tanganmu.

*Ucapan Natal adalah anda* ketika anda memaafkan dan membangun kembali kedamaian bahkan sekalipun anda menderita.

*Makan malam Natal adalah anda*,ketika anda memuaskan dan memberi harapan kepada orang miskin yang adadi samping anda.

*Yah Anda adalah malam Natal*, ketika rendah hati dan sadar,anda menerima dalam keheningan malam *Sang Juru Selamat Dunia* tanpa suara atau perayaan besar.
*Anda adalah senyum dari kepercayaan dan kelembutan* dalam kedamaian batin dari *Natal Abadi* yang membangun kerajaan di dalam diri anda.


*Paus Franciscus*

1.12.18

Siapakah Isteri Itu?

VOXRATEWATI
.💑SEBENARNYA SIAPAKAH ISTERI????
💑👨‍👩‍👧‍👧👨‍👩‍👧‍👧👨‍👩‍👧‍👧👨‍👩‍👧‍👧
       
   
Orang selalu berkata, "ada bekas istri/suami, tapi tidak ada bekas anak atau bekas orangtua". Seorang Profesor melakukan riset kecil kepada mahasiswa2nya yang sudah berkeluarga.
Dia lalu meminta 1 orang mahasiswa untuk maju ke depan papan tulis.

Professor : "Tuliskan 10 nama orang yang paling dekat denganmu."
Lalu mahasiswa itu menulis 10 nama, ada nama tetangga, orgtua, teman kerja, istri, anaknya, saudara, dst.

Profesor : "Sekarang silahkan pilih 7 orang diantara 10 nama tsb yang kamu benar2 ingin hidup terus bersamanya."
Mahasiswa itu lalu mencoret 3 nama.

Profesor : "Silahkan coret 2 nama lagi." Tinggalah 5 nama tersisa.
Profesor : "Coret lagi 2 nama."
Tersisalah 3 nama yaitu nama ibu, istri & anak.
Suasana kelas jadi hening. Mereka mengira semuanya sudah selesai & tak ada lagi yang harus dipilih.

Tiba2 Profesor itu berkata : "Silahkan coret 1 nama lagi!"
Mahasiswa itu tertegun untuk sementara waktu.
 Lalu ia dengan perlahan mengambil pilihan yang amat sulit itu dan mencoret nama ibunya.

Profesor : "Silahkan coret 1 nama lagi!"
Hati sang mahasiswa makin bingung.
Suasana kelas makin tegang.
Mereka semua juga berpikir keras mencari pilihan yg terbaik.

Mahasiswa itu kemudian mengangkat spidolnya & dengan sangat lambat ia mencoret nama anaknya.
 Pada saat itulah sang mahasiswa tidak kuat lagi membendung air matanya, ia menangis.

Awan kesedihan meliputi seluruh sudut ruang kuliah.
Setelah suasana lebih tenang, Sang Professor akhirnya bertanya kepada mahasiswa itu, "Kamu tidak memilih orang tua yang membesarkanmu,
tidak juga memilih anak yang adalah darah dagingmu; kenapa kamu memilih istrimu?
 Toh istri bisa dicari lagi kan?"

Semua orang di dalam ruang kuliah terpana menunggu jawaban dari mulut mahasiswa itu. Lalu mahasiswa itu berkata lirih, "Seiring waktu berlalu, orang tua saya harus pergi & meninggalkan saya.
 Demikian juga anak saya. Jika dia sudah dewasa lalu menikah.

Artinya dia pasti meninggalkan saya juga. Akhirnya orang yang benar2 bisa menemani saya dalam hidup ini, bahkan yang dengan sabar dan setia mendampingi dan mensupport saya saat tertatih dan terseok2 berjalan menghadapi himpitan kehidupan untuk meraih karir hanyalah ISTRI saya".

Setelah nenarik nafas panjang dia melanjutkan, "Orangtua & anak bukanlah saya yang memilih, tapi Tuhan yang menganugerahkan. Sedangkan isteri? #Saya_sendirilah yang memilihnya dari sekian milyar wanita yang ada di dunia".
#copas#. By Wara Cypriano

29.11.18

Masa Adven: Makna, Pesan dan Tantangan

VOXRATEWATI.Com. By Wara Cypriano

Oleh P. William Saunders

MASA ADVEN (Makna, Pesan dan Tantangan)

Pengertian
Kata ‘adven’ berasal dari kata Latin ‘adventus’ yang berarti kedatangan. Maka  ‘masa adven’ berarti masa untuk menunggu kedatangan Tuhan Yesus. Masa adven berlangsung selama 4 minggu, yakni dari Minggu Adven I sampai dengan Minggu Adven IV. Pada awalnya tradisi adven sebenarnya tidak berasal dari Gereja Katolik Roma, tetapi merupakan tradisi Gereja Timur (Perancis)  untuk mempersiapkan  Epifani, yang jatuh pada tanggal 6 Januari. Pada peristiwa tersebut kanak-kanak Yesus dikunjungi oleh orang majus dari timur. Bagi Gereja Timur itulah Natal. Tradisi Katolik menghayati masa adven dengan melakukan ibadat bersama dan puasa. Selain itu juga mulai diciptakan simbol-simbol yang disebut dengan Korona Adven (lingkaran Adven). Kebiasaan membuat Korona Adven berasal dari Eropa Utara, khususnya dari Skandinavia.

Corona Adven
 Corona adven atau mahota selalu berbentuk lingkaran yang melambangkan Tuhan dan kasih-Nya yang abadi tidak ada akhir.  Lingkaran itu diuntai dengan daun-daun pinus atau cemara (avergreen) dan diatasnya dipasang empat lilin (tiga lilin berwarna ungu dan satu lilin berwarna merah); selain itu juga masih diberi asesoris lain seperti pita berwarna ungu dan merah.
 Dahan-dahan evergreen, sama seperti namanya “ever green” - senantiasa hijau, senantiasa hidup. Evergreen melambangkan Kristus, Yang mati namun hidup kembali untuk selamanya. Evergreen juga melambangkan keabadian jiwa kita. Kristus datang ke dunia untuk memberikan kehidupan yang tanpa akhir bagi kita.
 Empat batang lilin diletakkan sekeliling Lingkaran Adven, tiga lilin berwarna ungu dan yang lain berwarna merah muda. Lilin-lilin itu melambangkan keempat minggu dalam Masa Adven, yaitu masa persiapan kita menyambut Natal. Lilin ungu sebagai lambang pertobatan. Warna ungu mengingatkan kita bahwa Adven adalah masa di mana kita mempersiapkan jiwa kita untuk menerima Kristus pada Hari Natal. Lilin merah muda dinyalakan pada Hari Minggu Adven III yang disebut Minggu “Gaudete”. “Gaudete” adalah bahasa Latin yang berarti “sukacita”, melambangkan adanya sukacita di tengah masa pertobatan karena sukacita Natal hampir tiba. Saat memasuki Minggu Adven yang pertama dinyalakan lilin pertama, Minggu Adven kedua dinyalakan lilin yang kedua. Minggu III lilin ketiga dan keempat dinyalakan lilin yang terakhir. Terang itu sendiri melambangkan Kristus, yang datang ke dalam dunia untuk menghalau kuasa gelap kejahatan dan menunjukkan kepada kita jalan kebenaran.

Tujuan Masa Adven
 Masa Adven mempersiapkan Hari Raya Natal (Perayaan, persiapan batin) dan  mengarahkan hati umat untuk melakukan aksi konkrit (aksi sosial - karitatif  kemanusiaan). Maka yang paling utama ialah persiapan batin dan bukan persiapan fisik (jasmani). Banyak jemaat lebih dominan mempersiapan yang lahiriah saja (Performance) atau perayaan saja; Lagu, resepsi, sarana, pakaian dst dan lupa mempersiapkan hati. Jemaat tinggal pada level kulitnya saja. Maka pada masa Adven semua umat disadarkan untuk mempersiapkan batin dan melakukan aksi kasih. 

Tema-tema Pokok Masa Adven
 Minggu Adven I berkaitan dengan pewartaan kedatangan Tuhan kembali dan ajakan untuk berjaga-jaga. Bacaan Injil biasanya diambil  dari Lukas 21:25-28.34-35.   Minggu Adven II berkaitan dengan pewartaan tentang khotbah Yohanes Pembabtis mengenai ajakan untuk pertobatan (Lukas 3:1-6).  Minggu Adven III menampilkan kembali tokoh Yohanes Pembabtis sebagai perintis / pembuka jalan bagi kedatangan Tuhan Yesus, serta yang menunjukkan bahwa Yesus adalah Mesias yang dijanjikan. Minggu Adven III ini memiliki suasana kegembiraan (Minggu Gaudete). Injilnya Lukas 3:10-18 dan Minggu IV.  Injil dalam Minggu Adven IV mengisahkan peristiwa-peristiwa menjelang kelahiran Yesus. Di sini, tampil tokoh-tokoh: Maria, Yosef dan Elisabeth. Minggu Adven IV ini merupakan masa persiapan yang paling dekat dengan Hari Raya Kelahiran Tuhan. Bacaan Injil Lukas 1:39-45. 

Nyanyian Liturgi  Pada Masa Adven dan tangangan
 Pada Minggu Adven I dan II, nyanyian-nyanyian yang digunakan bertemakan pengharapan eskatologis (Kedatangan Kristus pada akhir jaman. Pada Minggu Adven III dan IV, nyanyian-nyanyian yang digunakan bertemakan kerinduan akan kelahiran Tuhan Yesus Kristus.

  Tantangan penghayatan masa Adven yakni Jemaat lebih fokus Persiapan jasmaniah (Perayaannya). Hampir sepenuh persiapan diarahkan untuk rapat penentuan panitia, latihan, pesta dan resepsinya. Tantangan lain Adanya persaingan antar grup atau kelompok. Maka akhirnya yang menonjol ialah performance (Sibuk) atau hanya seremonial saja sehingga makna dari Masa persiapan itu (Adven) tidak dirasakan karena jemaat lebih mengalami kecapekan daripada kagungan dari perayaan. 

Refleksi
Masa Adven mau menyadarkan kita agar sungguh mempersiapkanhati karena yang menjadi fokus bukan diri, bukan  juga perayaan namun Yesus Kristus sendiri. Ia mau mau kita nanti-nantikan dan kita rayakan. Karena itu aspek perayaan adalah sekunder. Hal lain yang menjadi refleksi kita ialah adanya pembaruan diri. Ini diwujudkan dengan sikap merendahkan diri, bertobar dan tergerak untuk memaafkan orang yang bersalah kepada kita. Baik kalau kita membersihkan hati dan perasaan yang mengganjal saat masa penantian ini sehigga saat puncak yakni Perayaan Natal (kelahiran Yesus) sungguh bermakna bagi kita, keluarga dan sesama kita. Mari kita dengan khidmat dan damai mempersiapkan hati kita kurang lebih satu bulan ini sehingga masa rohani dan berahmat ini sungguh membantu kita merayakan kelahiran Kristus sang juru selamat dan penebus kita. Para sahabat  terkasih, Selamat memasuki masa Adven

Berbagai Sumber; ( katolisitas.org, iman Katolik, Majalah Hidup dan artikel P SWilliam  Saunders )

1.11.18

Habit Of Mind

VOXRATEWATI.Com
#Repost from LPS
@Habit of Mind (Kebiasaan Berpikir)

Secara etimologis, “kebiasaan” berasal dari kata “biasa”, yang menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, kebiasaan adalah; (1) sesuatu yang biasa dikerjakan dan sebagainya, dan (2) pola untuk melakukan tanggapan terhadap situasi tertentu yang dipelajari oleh seorang individu dan yang dilakukannya secara berulang untuk hal yang sama. 

Dalam Bahasa Inggris disebut dengan habit, yaitu something you do regularly, almost without thinking about it. Yang berarti bahwa habit adalah sesuatu yang anda lakukan secara teratur, dalam melakukannya hampir anda tidak memikirkan tentang apa yang akan dilakukan. 

Konsep di atas sejalan dengan pendapat Djaali bahwa melakukan kebiasaan sebagai cara yang mudah dan tidak memerlukan konsentrasi dan perhatian yang besar. Berbagai konsep tentang kebiasaan atau habit di atas menunjukkan bahwa suatu kegiatan yang telah menjadi kebiasaan akan dengan mudah untuk diulanginya lagi, karena tidak memerlukan suatu konsentrasi atau aktivitas kognitif yang sukar. 

Hasil kegiatan belajar ditandai dengan adanya perubahan perilaku yang relatif permanen dan otomatis. Perubahan tersebut dapat berupa kebiasaan. Kebiasan merupakan salah satu manifestasi dari proses belajar. Lebih lanjut dikatakan bahwa kebiasaan itu terjadi karena pembiasaan selama proses belajar, meliputi pengurangan perilaku yang tidak diperlukan. Misalnya sebelum kegiatan belajar, siswa menulis dengan menggunakan kata-kata yang tidak sesuai secara gramatikal dan tidak koheren. 

Setelah melalui habituasi – adanya stimulus dari sekitarnya – maka peserta didik tersebut akan menulis sesuai dengan gramatika bahasa. Siswa tidak akan menggunakan bahasa yang salah, memenuhi kaidah menulis yang baik dan benar. Pembiasaan mengakibatkan pengurangan kekeliruan sehingga tercipta perilaku yang baik karena adanya stimulus. 

Russel mengatakan bahwa the great bulk of our knowledge is a habit. Yang berarti bahwa sebagian besar pengetahuan kita adalah kebiasaan. Oleh karena itu maka, tujuan pembelajaran seharusnya membangun kebiasaan berpikir siswa. Secara rinci dampak pendidikan membentuk kebiasaan berpikir sebagaimana ditunjukan pada Gambar 2.1.

Salah satu kebiasaan positif untuk dikembangkan adalah kebiasaan berpikir atau habit of mind. Banyak definisi yang diberikan oleh para pakar psikologi tentang berpikir. Belum ada defenisi yang final tentang berpikir atau mind. Namun beberapa pendapat dari pakar dapat dijadikan referensi tentang konsep berpikir itu sendiri. Berikut beberapa defenisi tentang berpiikir.

Berpikir atau mind menurut makna kamus adalah someone's memory or their ability to think, feel emotions, and be aware of things. Berarti bahwa mind atau berpikir adalah memori seseorang atau kemampuan untuk memberikan opini, mempertimbangkan suatu ide atau masalah, merasakan emosi dan menyadari tentang suatu hal. Morgan seperti dikutip oleh Moh. Ali dan Moh. Asrori mendefenisikan berpikir sebagai rangkaian proses kognitif yang bersifat pribadi atau pemrosesan informasi (information processing) yang berlangsung selama munculnya stimulus sampai dengan munculnya respon. Menurut Purwanto, berpikir adalah suatu keaktifan pribadi manusia yang mengakibatkan penemuan yang terarah kepada suatu tujuan. 

Beberapa pendapat di atas menunjukkan bahwa berpikir adalah proses kognitif untuk memperoleh suatu ide, gagasan, atau opini guna mencapai tujuan tertentu berdasarkan berbagai pertimbangan baik aspek fisik maupun non fisik. Proses tersebut terjadi di dalam otak manusia. Aktivitas berpikir ini akan terus mengembangkan pola kerja otak yang lebih baik dan lebih efektif melalui pengingkaran atau penghilangan aspek-aspek yang menghambat atau merintangi pencapai tujuan. 

Proses ini bermuara pada perkembangan ide dan konsep. Hal ini sejalan dengan konsep Bochenski yang dikutip Suriasumantri bahwa berpikir adalah perkembangan ide dan konsep. Menurut Costa dan Kallick, habits of mind as an internal compass to guide their thoughts, decision and action in their school learning as well as their daily lives. 

Berarti bahwa kebiasaan berpikir sebagai kompas internal untuk membimbing pikiran, keputusan dan tindakan dalam pembelajaran anak di sekolah maupun dalam kehidupan sehari-harinya. Kebiasaan berpikir adalah kerangka atau pola kognitif yang berguna sebagai pedoman seseorang dalam berpikir, bertindak, dan bertingkah laku daam merespon suatu situasi baik dalam konteks pembelajaran di sekolah maupun di lingkungan kesehariannya. Perilaku tersebut dilakukan dengan mudah dan tanpa konsentrasi khusus karena adanya pembiasaan. 

Kampus sebagai lembaga pembentukan karakter peserta didik, harus mampu mengembangkan potensi intelektual peserta didik. Sizer seperti dikutip oleh Johnson mengatakan, sekolah artinya belajar menggunakan pikiran dengan baik, berpikir kreatif menghadapi persoalan-persoalan serta menanamkan kebiasaan untuk berpikir. 

Dosen harus mampu mendorong pembentukan kebiasaan berpikir. Hal ini berarti konsep pembelajaran menekankan makna bahwa proses yang terjadi bukan pada penguasaan konten materi tetapi lebih pada pengembangkan potensi peserta didik. Tumbuh kembang potensi ini akan membimbing seorang peserta didik untuk terus belajar (long life education) sehingga mampu memecahkan persoalan kehidupannya. Inilah yang menjadi substansi pembelajaran. 

Berpikir memerankan peranan yang sangat membantu bahkan menentukan. Pendapat ini berarti bahwa pengembangan kemampuan berpikir merupakan hal yang penting dalam proses pembelajaran sebagai modalitas seorang anak menjalani kehidupannya.

Costa dan Kallick mengidentifikasi bahwa terdapat 16 gambaran kebiasaan berpikir (habit of mind) yakni;

(1) persisting, (2) managing impulsivity, (3) Listening with Understanding and Empathy, (4) Thinking Flexibly, (5) thinking about thinking, (6) Striving for Accuracy, (7) Questioning and Posing Problems, (8) applied past knowledge to new situation, (9) Thinking and Communicating with Clarity and Precision, (10) Gathering Data Through All Senses,(11) Creating, imagining,and innovating, (12) Responding with Wonderment and Awe, (13) Taking Responsible Risks, (14) finding humor, (15) Thinking Interdependently, (16) Remaining Open to Continuous Learning.

Pendapat di atas menunjukkan bahwa kebiasaan berpikir ditunjukan dengan kemampuan bertahan dalam arti seorang yang memiliki kebiasaan berpikir akan tetap bertahan dan fokus untuk menyelesaikan suatu tugas, tidakkan menyerah ketika menghadapi suatu hambatan untuk mencapai tujuan.

Seorang yang memiliki kebiasaan berpikir juga mampu mengatur sesuatu berdasarkan kata hatinya, mendengar dengan pengertian dan empati, berpikir fleksibel. Berpikir fleksibel berarti bahwa mampu menemukan alternatif cara tentang suatu hal, mampu mengubah perspektif serta mempertimbangkan pilihan-pilihan. Identifikasi kelima tentang kebiasaan berpikir adalah ditunjukan oleh berpikir tentang berpikir, yang berarti bahwa menyadari tentang pikirannya, strategi yang akan diterapkan, perasaan yang dialaminya, tindakan yang dilakukannya serta akibat yang ditimbulkan terhadap orang lain.

Seseorang yang memiliki kebiasaan berpikir akan melakukan sesuatu yang terbaik, sehingga hasil yang diperoleh juga tepat karena akan selalu melakukan koreksi atas apa yang telah dilakukannya, dan terus melakukan upaya peningkatan atas apa yang telah dicapainya. Oleh karena itu, seorang yang memiliki kebiasaan berpikir akan terus bertanya dan mengajukan masalah, menggunakan pengetahuan yang dimilikinya pada situasi baru.

Mampu mengkomunikasikan sesuatu dengan jelas dan tepat, mengumpulkan data dari berbagai sumber, mencipta, berimajinasi dan melakukan inovasi. Mersepson sesuatu dengan penuh kekaguman, berani mengambil risiko, humoris, berpikir saling ketergantungan dan terus melakukan upaya belajar secara terus menerus.

Keenambelas ciri kebiasaan berpikir yang diidentifikasi oleh Costa dan Kallick disintesis oleh Marzano, et. al. menjadi tiga ciri yakni (1) self regulation, (2) critical thinking, dan (3) creative thinking. Lebih lanjut dikatakan bahwa standar dari ketiga area tersebut adalah, regulasi diri meliputi; kesadaran akan pikiran sendiri, membuat rencana secara efektif, menyadari dan menggunakan sumber daya yang diperlukan, sensitif terhadap umpan balik, dan mengevaluasi efektivitas setiap tindakan.

Berpikir kritis mencakup; akurat dan selalu mencari ketepatan, jelas dan mecari kejelasan sesuatu, memiliki pikiran yang terbuka, mengendalikan kata hari, mengambil suatu peran atau posisi ketika situasi tertentu menuntutnya untuk turut serta, serta peka terhadap perasaan dan tingkat pengetahuan orang lain.

Sedangkan berpikir kreatif ditunjukan oleh secara intensif melakukan tugas meskipun jawaban atau solusi atas sesuatu tidak serta merta nampak, mendorong batas pengetahuan dan kemampuan, menghasilkan, mempercayai dan menjaga standar evaluasi, dan menghasilan cara baru dalam memandang situasi baru di luar batas standar yang telah disepakati.

Menurut Johnson berpikir kritis merupakan kemampuan untuk mengevaluasi secara sistematis bobot pendapat pribadi dan pendapat orang lain, sedangkan berpikir kreatif adalah kegiatan mental yang memupuk ide-ide asli dan pemahaman-pemahaman baru. Pendapat ini berarti bahwa berpikir kritis adalah kemampuan untuk mengevaluasi sesuatu berdasarkan kriteria-kriteria tertentu terhadap suatu obyek.

Kemampuan ini tentu saja berhubungan dengan pengetahuan awal seseorang terhadap variabel yang dievaluasi. Sedangkan berfikir kreatif berhubungan dengan kemampuan seseorang untuk melahirkan sesuatu yang baru. Dengan demikian maka kemampuan berpikir kritis merupakan aktivitas yang berada pada domain otak kiri sedangkan berpikir kreatif merupakan domain aktivitas otak kanan.

Berpikir kritis umumnya disebut juga dengan kemampuan analitis, sedangkan kemampuan berpikir kreatif juga dipahami sebagai kreativitas. Kemampuan berpikir ini berhubungan dengan kemampuan menganalisis dan mengevaluasi ide-ide atau suatu hal.

Kemampuan berpikir kreatif adalah kemampuan untuk melahirkan sesuatu hal yang baru dengan membangun hubungan antara berbagai hal yang tidak disadari oleh orang lain. Sering kali hasil pemikiran kreatif ini dianggap bodoh, janggal atau konyol oleh orang lain karena melawan status quo.

Kebanyakan orang menganggap bahwa yang baik dan benar itu adalah tidak bertentangan dengan hal-hal yang umum terjadi dalam kebiasaan. Hasil-hasil pemikiran seperti ini biasanya digunakan di dunia industri. Contohnya pada beberapa tahun yang lampa, ide menjual air dalam kemasan dianggap hasil pemikiran konyol karena bumi Indonesia yang kaya akan sumberdaya air tidak akan mungkin masyarakat akan membeli air dalam kemasan, karena pada hampir setiap rumah memiliki sumur air yang dapat diambil untuk dimasak dan siap untuk diminum.

Namun ide yang dianggap konyol ini, harga air dalam kemasan botol 1500ml pernah melebihi harga bahan bakar minyak di Indonesia. Namun patut disayangkan, potensi perkembangan pemikiran atau berpikir kreatif ini hanya banyak dijumpai pada anak-anak tetapi sulit dijumpai pada orang dewasa, karena potensi kreatif orang dewasa ditekan oleh dorongan penyesiakan intelektual masyarakatnya.

Pemikiran kritis hadir untuk menganalisis dan mengevaluasi berbagai hal seperti ide, gagasan, atau pemikiran yang ada. Tidak semua bentuk pemikiran yang lahir adalah pemikiran baik. Ada juga pemikiran yang buruk, sehingga hadirnya kemampuan berpikir kritis akan melakukan penilaian ide tersebut atas norma-norma yang berlaku atau kriteria-kriteria kebenaran lain.

Kemampuan berpikir kreatif akan mempertimbangkan implikasi yang ditimbulkan dari ide kreatif tersebut. Jika sesorang memiliki kebiasaan berpikir demikian berarti telah memiliki modalitas dalam melakukan berbagai aktivitas dalam kehidupannya sehari-hari termasuk dalam kegiatan menulis. By Wara Cypriano

30.10.18

Come and Visit "Golagagi" Waterfall

VOXRATEWATI.Com. By Wara Cypriano


Picture insert: A local visitot enjoy his bath.


One of the tourist destinations in Ende Regency,  East Nusa Tenggara. That is worth to explore is Golagagi Waterfall. The enchanment of this charming water tour is located in Tigasoki traditional village, Ekoae, Wewaria District. Entering the waterfall area, you have to walk down about 2 Km from Ekoae village.  The journey is quiet tiring but certainly paid off due to its charm. On the way to reach the main site you will see the Tugasoki traditional village and cultural heritage site. That place is as the central site of the traditional ceremonies of Ratewati tribe.

The "Golagagi" waterfall have a lot of rivers supported the main pool of "Golagagi" waterfall. The pure and fresh water reflects the harmony of nature. You will bring to an old period of time with the majesty panorama of rain forest. 

From a distance you are treated to panoramic views of "Jambu Mete" trees,  coconuts towering on the right and left sides. "Golagagi" waterfall does not offered a panoramic view of rainbow when viewed from a certain angle. The clear and cool water gives a ftesh sensation and attracts the awe of the visitors. The beautiful "Golagagi" waterfall,  come and visit.

#GolagagiWaterfall
#Tugasoki-Ratewati-Traditional-Village


22.10.18

VOXRATEWATI.Com. By Wara Cypriano

"Peran Sekolah Swasta Dalam Membangun Pendidikan di NTT

Peserta lomba Cerdas Cermat Bahasa Inggris SMA Regina Pacis Bajawa


1. Maria Faustina Veren Dika
2. Katarina Andriana Kabe
3. Maria Oktaviani Kartika Tua

Peserta Lomba Pidato dengan Tema: "Pendidikan Membentuk Karakter Anak Bangsa"

1.Prisko Leonardo Watu Sila