25.4.17

Pesona Pantai Ena Bara Maurole Menjadi Destinasi Wisata Baru di Kabupaten Ende


Pesona pantai Anabara menarik para wisatawan untuk menikmati keindahan pantai yang selama ini belum dikelolah secara baik. Seperti dilansir oleh @Rumah Terapi Lia RTL  digambarkan bahwa kondisi pantai Anabara perlu diperkenalkan secara luas baik oleh Dinas terkait maupun pemerintah kecamatan dan dess.

Pantai Anabara merupakan salah satu potensi wisata yang masih belum diketahui oleh banyak orang. Pantai tersebut terletak di Kecamatan Maurole, Kabupaten Ende - Flores, Nusa Tenggara Timur.

Keunikan dari pantai ini adalah ketika air laut surut pada sore hari, akan terlihat daratan sehingga pengunjung dapat berjalan hingga tengah laut.

Disuguhi pemandangan Gunung Rokatenda dan matahari terbenam yang sangat indah menjadikan Pantai Anabara merupakan salah satu investasi tempat wisata yang dapat diandalkan.

Sayang Pantai dengan potensi wisata ini masih kurang dipromosikan ditambah minimnya perhatian dari Pemda setempat.

Kalau kamu berkunjung ke Ende - Flores, jangan lupa mampir kesini yah. Tentunya foto dan postingan kamu juga ikut berkontribusi dalam mempromosikan potensi pariwisata di daerah Flores yang kebanyakan masih belum ter-expose baik oleh instansi setempat, media maupun wisatawan (traveler).

Ayo ke Flores! 🏃

Located: Pantai Anabara, kec.Maurole, kab.Ende - FLORES/NTT

#PantaiAnabara
#AnabaraBeach
#EndeUtara
#Maurole
#wonderfulindonesia
#pesonaindonesia
#ende
#floresisland
#pulauflores
#exploreflores 
#nusatenggaratimur 
#Indonesia

10.4.17

Selalu Bersyukur

#COPAS
KETIKA
Aku ingin hidup KAYA...
Aku lupa, bahwa HIDUP itu sendiri adalah sebuah KEKAYAAN.

KETIKA...
Aku takut MEMBERI...
Aku lupa, bahwa SEMUA yang aku miliki juga adalah PEMBERIAN.

KETIKA...
Aku ingin jadi yang TERKUAT...
Aku lupa, bahwa dalam KELEMAHAN.... Tuhan memberikan aku KEKUATAN.

KETIKA...
Aku takut RUGI...
Aku lupa, bahwa HIDUPKU... Adalah sebuah KEBERUNTUNGAN, karena Anugerah NYA.

Ternyata hidup ini sangat indah...
ketika kita selalu BERSYUKUR kepada NYA.

BUKAN..
karena hari ini INDAH kita BAHAGIA, tetapi karena kita BAHAGIA maka hari ini menjadi INDAH.

BUKAN..
karena tak ada RINTANGAN kita menjadi OPTIMIS, tetapi karena kita OPTIMIS maka RINTANGAN akan menjadi tak terasa.

BUKAN..
karena MUDAH kita YAKIN BISA, tetapi karena kita YAKIN BISA maka semuanya menjadi MUDAH.

BUKAN..
karena semua BAIK kita TERSENYUM, tetapi karena kita TERSENYUM maka semua menjadi BAIK.

Tak ada hari yang MENYULITKAN kita, kecuali kita SENDIRI yang membuat sulit..

6.4.17

Holy Week: Why is it called "Holy"?

HOLY WEEK: WHY IS IT CALLED "HOLY"?

Dear brethren in Christ, here you have an infographic which explains why the most important week in the liturgical year is called "holy".

It is called as such as it commemorates  the patent demonstration and summit of Our Lord's Holiest and Immense Love for the entire humanity, a love willing to suffer unto "death, death on the Cross" in order to save us from our sins, and a love which knows no end, conquering death itself with His Resurrection. 

Let us thank God not only with feelings and words, but also with works, taking advantage of the Holy Week to grow in our self-giving to Him, -and for Him-, to His Church and all souls.

Cordially inviting you to like and follow www.facebook.com/Catholicsstrivingforholiness and share our posts to help more people in their Catholic faith and life. Thanks and God bless! Fr. Rolly Arjonillo

N.B. The events described in each day are based on the Gospel of the Holy Mass for each day. The Gospel for the Holy Wednesday Mass recounts how Judas made  a deal with the chief priests to deliver Jesus to them for 30 pieces of silver. The betrayal is initiated and culminates to Jesus' arrest after the Last Supper.

Picture: Explaning why is it called "Holy" Week?



1.4.17

Warga Desa Ekoae Ende Di Serang "Segerombolan Sapi Liar" Inikah Kado 01 April 2017?


Gambar Ilustrasi: www.Google.Com.

Sumber: VOXRATEWATI.Com.
Info terkini: Mengutip Berita yang dilangsir oleh VOXRATEWATI.COM.
Headline Beritanya: Warga Desa Ekoae Diserang "Segerombolan Sapi Liar"...

Warga Desa Ekoae, Kec.Wewaria Kab.Ende Provinsi Nusa Tenggara Timur tepatnya  pukul 11.00 Wita,  pada 01 April 2017 dikejutkan dengan segerombolan "Sapi Liar" yang menyerang pemukiman warga. Begitu banyak korban luka - luka yang dirawat di puskesmas terdekat.

Hal ini dibenarkan oleh  ketua RT Fabianus Keli dan dipertegas oleh kepala Dusun Tugasoki  Bapak Siprianus Lima Raja via telepon yang dikonfirmasikan oleh salah satu  media lokal VOXRATEWATI.Com. Bapak Sipri mengatakan bahwa segerombolan "Sapi Liar" dalam jumlah yang cukup besar menyeruduk beberapa warga yang sedang melakukan aktivitas pertanian mereka.Tidak hanya warga, puluhan rumah pun tidak luput dari amukan ratusan ekor "Sapi Liar" tersebut.Warga yang menjadi korban sontak tidak berdaya karena banyak diantara  mereka adalah ibu - ibu.

Dalam insiden ini, ratusan penduduk desa setempat terpaksa mengungsi ke wilayah pegunungan terdekat yakni Wolopermabha, sementara warga lainnya harus bersusah payah mendaki gunung Mbotu Manu Lela yang merupakan gunung tertinggi di Desa itu dan sebagiannya lagi mengungsi ke gunung Kuru Fata Lalu.

Menanggapi keadaan darurat tersebut Kepala Desa Ekoae Bapak Benyamin Suba menghimbau, agar warga masyarakat Desa itu segera menertibkan hewan ternak mereka masing - masing. 

Hal utama yang menjadi penyebab kedatangan "Segerombolan Sapi Liar" ternyata begitu  banyak hewan ternak dalam hal ini Sapi milik warga yang tidak diikat dan dibiarkan berkeliaran mencari makan sendiri. Sehingga "Sapi Liar" turun gunung dan bergabung dengan hewan ternak milik warga setempat.

Oleh karenanya, Bapak Desa Benyamin Suba sekali lagi mempertegas bahwa pemerintah Desa dan semua elemen serta tokoh adat dan masyarakat dan dinas peternakan akan bersosialisasi tentang PERDES  2017 yang salah satu poinnya adalah akan dilakukan pendataan hewan ternak milik warga dalam waktu dekat. Apabila masih ada hewan ternak yang tidak diikat akan ditindak tegas, kata Kepala Desa berjenggot pirang itu.

Maka dengan kejadian ini, seperti dikatakan juga oleh salah seorang warga yang menjadi korban amukan "sapi liar" yakni Bapak Elias Dua Oro. Beliau sangat menyesalkan dan bahkan trauma dengan peristiwa yang menimpanya ini."Saya baru pulang dari kebun mencari rumput untuk beberapa ekor sapi milik saya, tiba - tiba ada "segerombolan sapi liar" menyeruduk saya dan kepala saya pun terseruduk ke tanah, syukur hanya luka ringan" Kata Dua sapaan akrabnya.

Semoga semua warga di Desa ini semakin sadar akan kepemilikan hewan ternak terutama sapi.Kita bukan hanya bangga dengan memiliki sapi dalam jumlah banyak namun semuanya dibiarkan berkeliaran seolah tak bertuan.Semua tanaman seperti pisang, kelapa, tanaman Jati putih bahkan sampai tanaman di pekarangan rumah habis dimakan oleh sapi kita sendiri, lanjut Bapak Dua dengan wajah cemberut.

Bapak Dua juga menambahkan bahwa "saya teringat dengan apa yang dikatakan oleh P. Frans Funan, SVD mantan Pastor Paroki Kristus Raja Mukusaki bahwa kita sangat keliru dengan memagari tanaman kita seperti kebun jagung atau sawah, sementara tanaman itu tidak bisa berjalan  - jalan sedangkan hewan peliharaan kita yang semestinya harus ditertibkan namun dibiarkan berkeliaran dan tidak diikat.  Maka kejadian ini kami sebagai warga masyarakat dan juga pemerintah Desa, Dinas Perternakan dan Perkebunan harus punya andil terutama menyadarkan masyarakat terkait masalah hewan ternak yang sudah berlangsung belasan tahun di Desa Ekoae. Ini  merupakan peringatan buat para warga semua bahwa kita memilih untuk menertibkan hewan ternak atau mendapat bencana karena kesalahan kita sendiri.

Sebagai bentuk kepedulian terhadap sesama, saat ini sudah banyak warga desa tetangga yang berdatangan untuk memastikan anggota keluarga mereka yang berada di wilayah Desa Ekoae, terutama anak sekolah seperti murid SMP dan SMK. Laporan terakhir yang diterima VOXRATEWATI.Com.""Gerombolan Sapi Liar" Masih berkeliaran di sekitar pemukiman warga.

Ulasan berita oleh Wara Cypriano
SELAMAT HARI SABTU 01 April 2017.
Terima kasih sudah membaca berita di atas maaf ini berita hasil imaginasi karena terobsesi menjadi seorang jurnalis tapi belum tercapai..Hehehhee...
Kado buat Desaku tercinta Desa Ekoae.

Pesan Moral:

Berita fiktif ini sengaja dibuat menanggapi maraknya dan bahkan menjadi suatu kebiasaan bagi warga masyarakat di Desa Ekoae Kec.Wewaria kab Ende NTT membiarkan hewan ternak dalam kondisi "liar" atau dalam keadaan tidak diikat. 

Hal ini dianggap sulit dan bahkan tidak ada upaya untuk menyelesaikan permasalahan soaial yakni terkait dengan hewan ternak terutama Sapi. Banyak ternak besar yang tidak diikat atau dikandangkan sehingga tidak sedikit warga pun yang mengeluhkan bahwa semua tanaman berupa pisang, kelapa, jati putih, jambu mete, kakao bahkan tanaman pekarangan di halaman rumah pun semuanya habis dimakan sapi milik warga sendiri.

Sapi - sapi itu  sengaja untuk tidak diikat dan dibiarkan berkeliaran seolah tak bertuan. Maka atas dasar keprihatinan inilah, saya mengulas sebuah berita fiktif ini. Saya menyadari bahwa hal ini tidak bermaksud untuk menyinggung pihak - pihak tertentu dan semata - mata sebagai wujud kepedulian akan keteraturan hidup sosial masyarakat yang seharusnya mengalami ketertiban, kenyamanan dalam melakukan usaha apapun di bidang pertanian sebagaimana yang dialami oleh masyarakat di desa - desa yang lain. Kondisi ini sebetulnya sudah terjadi belasan tahun yang silam. Entah apa yang menjadi kendala sehingga persoalan ini dibiarkan dan menjadikannya sebagai hal biasa dan terus terjadi.

Sesungguhnya, sebagai generasi muda yang terlahir dari rahim tanah leluhur yang sama yakni di Desa Ekoae, maka saya berani untuk menyuarakan ini walaupun dengan cara yang dianggap kurang memiliki esensi dan asas kemanfaatan.Tapi itulah suatu upaya dan mungkin kisah fiktif ini akan berdampak pada suatu kenyatan hidup. Itulah sesungguhnya pesan moral yang hendak disampaikan dari ulasan fiktif ini, dengan suatu keyakinan bahwa masalah ini pasti bisa diatasi terutama oleh Pemerintah Desa Ekoae sendiri.Semoga bermanfaat.

30.3.17

Traditional Hunting In Soa - Sub District (As A Local Tradition)



Illustration Picture:Courtesy from www. Google.com

The traditional hunting or (Rori Witu) in the local culture of Ngada Regency especially in Soa sub – district still came down to this day. The traditional hunting activities were usually placed in the calendar cycles based on the local culture of local agriculture. This tradition was closely related to people’s beliefs ritual existence being ability wild animal like board (Hui) or Deer (Kogha) that can be damaging for all plants that venture into the local communities to fulfillment their daily needs. This ceremony will be held every year as an annual ceremony. The indigenous hunting tradition in Soa includes several villages namely Mengeruda (Witu Menge), Lo’a (Witu Lo’a) Seso (Witu Welu) and also Libunio village (Witu Nio). This traditional hunting carried out in accordance with the local – based of the lunar calendar. It was usually carried out from June to October in the year. The traditional hunting was held of each village with have the different time. The traditional hunting activity was determined by the traditional leaders (Mori Raghu/Rawu Witu) in accordance with the lunar calendar customs. The traditional hunting had some equipment such as spear (Tuba), barbed spear (Bhou).The barbed spear shaped like a fishhook. The hunters came from all communities of Soa would do hunting and were not restricted to either children or adults. They   usually hunt by using horses (Zara) or on foot. In its effort to obtain the bluish animals the dogs were always accompanying the hunters. All the dogs were deployed to search the boars or deer (Hui no’o Kogha). The hunters were always scrambling by each other, so that no one is getting a whole body of an animal but they had partly such as the head, feet, or hands etc. The hunters scrambled the animals to show their knight stronger. Not all the hunters got the animals if they did not strength to scramble to the other hunters. But, it was always do in hospitality and the spirit of brotherhood.
In every villages, the stages of the traditional hunting (Rori Witu) as general were common. The different thing was the stages of the ritual at night that the next day will do the hunting. One village conducted the traditional hunting was in Libunio. In Libunio village had two main traditional ceremonies such traditional boxing (Sagi Adha) and also traditional hunting as known (Rori Witu Nio). There were several stages that became a series of major ritual that must be held before the implementation of the indigenous hunting. The implementation of the Rori Witu Nio started with cooking rice beans (Ka Nika Lebha). Lebha was a kind of bean as cooked with rice as an opening meal before the traditional hunting day. The next day was continued with the ritual of Pau. Pau ceremony was a ritual in which was of Nio tribal communities (Suku Nio). It was the time that forbidden to carry out agricultural activities such as cutting the trees, or burning of the garden. The people who were trespassed the rule will be penalized by the local leader. A few days later, all adults male go looking the shrimps (Ko Kuza) as the Heza ritual. After that, the next day was followed by the Bato ritual. It was the ritual of eating shrimps. A further ceremony was Sina Oro as the ritual to prepare a segment of bamboo that had been cleaned to be dipped in the river. 
If everything was prepared well, then continued with Bhore Tua. At the night, where the next day will do the hunting, the local leader (Mori Raghu Witu) held the ritual of Pepu. The Pepu ritual was conducted as last preparation of the traditional hunting day. The local leaders asked the rice of bamboo (Mama Toke), and collected the ginger (Pai Lea). The ginger was used to treat that hunters got wound as the traditional medicines. All the things were distributed to the girls who was who completed the ceremony of initiation into adulthood customary (Kiki Ngi’i/Bu’e Muzi) who participated in the day of traditional hunting.  The girls will redeem the existing bush meat on the hunters. In Pepu ritual was also the Mori Raghu prayed and pleaded to the ancestors and the forest watchman in order to collect the deer or boars (Pai Nitu Kogha no’o Hui) in the places that the hunters conducted the traditional hunting. The Pepu ritual was also to prohibit to all the tribal community were not to wash their face, or oiling their hair especially on the first day of hunting.    
When all phases as the series of the indigenous ritual before hunting has been carried out, finally the time of the hunting has come. The Mori Raghu and members gather in the center of village (Kisa Nua) doing the hunt commencement ceremony and marching toward the firebox place (Saka Api) by the traditional singing.  Arriving the Saka Api place, the fire arose by swiped (Pake Zoze) of the dried bamboo (Bheto Rogho) and alang – alang (Keri). This ignited a fire that has been used as a source of fire that used to burn the forest as the place to hunt. The traditional hunting conducted for three days. The hunters did not return to their village but lived in resting area (Loka) during the hunting took place. Returning from the hunting areas, the hunters sang the traditional singing. The meat as their hunting’s got to eat together with the family members of Nio tribal community and its blood smeared on Beso or the point of Mori Raghu (Basa Beso Mori Raghu).  


By Wara Cypriano

Note: This article was adapted from: An interview result conducted by Wara Cypriano with Bapak Adrianus Rato as the local leader of Libunio village)  
 

27.3.17

Merajut Keberagaman Di Negeri 1000 Pura (Sebuah Refleksi Kemajemukan)


Foto Insert: Arakan Ogoh - Ogoh Di Singaraja Bali 27 Maret 2017

   
       SELAMAT MERAYAKAN HARI RAYA NYEPI 2017
                                          1 SAKA 1939
Refleksi Pribadi Mengalami Hari Raya Nyepi di Bali

Hari raya Nyepi merupakan upacara keagamaan bagi sesama saudara kita yang beragama Hindu. Kekhasan upacara ini jelas terlihat dari berbagai rangkaian upacara, baik sebelum maupun sesudah perayaan Nyepi itu sendiri. Bagi umat beragama lain tentu hal ini tidak dipahami namun sangatlah perlu kita saling membangun sikap solidaritas dan toleransi kepada sesama saudara kita yang merayakannya. 

Hari raya Nyepi di Bali terasa sangat istimewa. Upacara keagamaan ini dikenal dengan "Silent Day", artinya  satu hari penuh tidak adanya aktivitas baik oleh umat Hindu maupun umat beragama lain. Sehingga semua aktivitas perkantoran atau unit usaha apapun baik instansi pemerintah, swasta, perbankan, dan juga penerbangan semuanya tutup. Hal inilah menjadi satu - satunya upacara keagamaan di dunia yang dilaksanakan dalam suasana keheningan tanpa terkecuali. Dengan demikian seluruh umatnya senantiasa khusuk dalam doa.

Dalam rangkaian upacara Nyepi tahun ini yang jatuhnya pada 28 Maret 2017 yakni 1 Saka 1939, tentunya memiliki harapan besar akan kedamaian, keamanan dan kemakmuran bagi penganutnya. Hal ini pula senantiasa menjadi refleksi mendalam juga bagi kondisi warga bangsa ini yang dari waktu ke waktu semakin mengalami kemerosotan akan sikap solidaritas dan toleransi antara para pemeluk agama yang satu dengan yang lainnya. Misalnya adanya kekerasan yang bertopeng agama, masalah ter up date yakni kekisruhan pendirian Gereja St.Clara di Bekasi, kasus penistaan agama yang dicampuradukan dengan politik dalam perhelatan pemilukada Di DKI dan masih banyak persoalan lain di negeri ini.

Semua persoalan itu selalu mengedepankan ketidakseimbangn dan saling sikut antara kaum minoritas dan mayoritas. Pertanyaannya, sampai kapan negeri ini mempersoalkan perbedaan? Bukankah kemajemukan itu suatu kekayaan bersama? Benar apa yang dikatakan oleh Kiai Adurahman Wahid sang tokoh pluralisme itu " jika anda Hindu jangan menjadi seperti orang India, Kristen jangan menjadi Yahudi, Islam jangan menjadi orang Arab".Itu semua mengingatkan kita, betapa kayanya bangsa ini dengan keberagaman yang dimiliki. Jika semuanya berada dalam solidaritas dan hidup yang rukun antara satu dengan yang lain tanpa mempersoalkan agama, suku, ras dan antaar golongan, Maka hal ini menunjukan kekuatan besar sebagai negara yang mengedepankan sikap toleransi antar warganya.

Oleh karenanya sebagai masyarakat yang menghargai perbedaan, maka solidaritas di Bali secara langsung menunjukan bahwa Bali menjunjung tinggi perbedaan dan kemajemukan antar warga masyarakat yang mendiami negeri 1000 pura ini. Kebersamaan yang dibangun atas landasan keberagaman terasa bermakna di hari perayaan Nyepi.

Maka dari itu, dalam nuansa keberagaman, pada kesempatan bernilai, salah satu bentuk sederhana merajut keberagaman dan kemajemukan yaitu adanya keterlibatan para penganut agama lain yakni kaum biarawati dari komunitas SSPS dan CIJ Singaraja Kabupaten Buleleng yang turut mengambil bagian dalam perarakan Ogoh - Ogoh. Tentu saja, tidak hanya para biarawati tapi juga para penganut agama lain yang turun ambil bagian dalam acara ini. Hal ini menunjukan bahwa untuk membangun solidaritas dan sikap saling menghormati antar umat beragama tidak mesti dengan hal - hal yang besar. Inilah sesungguhnya wujud solidaritas nyata seperti yang dilakukan para biarawati Katholik  (Foto insert). Dengan caranya Sendiri, mereka mau menunjukan sikap toleransi yang kerap diabaikan oleh kaum beragama di negeri ini. Seringkali kita hanya memaknai sikap toleransi yang sempit dan selalu mengarah pada perpecahan. 

Kita perlu berbangga sebagai bagian dari hari raya Nyepi. Walaupun kita tidak merayakannya namun turut mengalami suasana hening dan lengang dari hiruk pikuk duniawi yang seakan membuat kita lupa akan Sang Kuasa. Maka dalam keanekaragaman baik budaya, suku, ras dan agama, kita senantiasa merajut kebersamaan dalam perbedaan. Dari Negeri 1000 pura ini, kita wujudkan solidaritas antara umat beragama dalam bingkai keberagaman. Satu prinsip bahwa agamamu adalah agamamu dan agamaku adalah agamaku namun Indonesia adalah satu yakni kita satu dalam keberagaman. Mudah  - mudahan ini semua menjadi contoh dan juga sikap toleransi yang perlu dibangun di antara umat beragama di seluruh pelosok negeri NKRI tercinta ini. Selamat merayakan hari raya Nyepi bagi sesama saudara yang merayakannya, berkat dan cinta dari Sang Kuasa menyertai anda sekalian.

Foto Insert: Biarawati Katholik berpose bersama Bupati dan Wakil Bupati  Kabupaten Buleleng Singaraja Bali (Dari kanan Wakil Bupati, Bupati dan ibu)


Happy Silence Day 1 Saka 1939

By Wara Cypriano


LAGU ENDE LIO "LANDO" By SIPRI SEA


25.3.17

Mengenal Sejarah Nyepi Dalam Ajaran Hindu



Silent Day (Nyepi)  In Bali

Sejarah Asal Mula Hari Raya Nyepi
Nyepi berasal dari kata sepi yang artinya sunyi, senyap, lenggang, tidak ada kegiatan. kemudian Hari Raya Nyepi adalah Tahun Baru Hindu berdasarkan penanggalan/kalender Saka, yang dimulai sejak tahun 78 Masehi. Tidak seperti perayaan tahun baru Masehi (tiap 1 januari), Tahun Baru Saka di Bali dimulai dengan menyepi dan melaksanakan catur brata penyepian. Tidak ada aktivitas seperti biasa. Semua kegiatan ditiadakan, termasuk pelayanan umum, seperti Bandara Internasional Ngurah Rai pun tutup, namun tidak untuk rumah sakit. Tujuan utama Hari Raya Nyepi adalah memohon ke hadapan Tuhan Yang Maha Esa / Ida Sanghyang Widhi Wasa, untuk menyucikan Bhuana Alit (alam manusia/microcosmos) dan Bhuana Agung/macrocosmos (alam semesta).

Sejarah Nyepi
Kita semua tahu bahwa agama Hindu berasal dari India d engan kitab sucinya Weda. Di awal abad masehi bahkan sebelumnya, Negeri India dan wilayah sekitarnya digambarkan selalu mengalami krisis dan konflik sosial berkepanjangan. Pertikaian antar suku-suku bangsa, al. (Suku Saka, Pahiava, Yueh Chi, Yavana dan Malaya) menang dan kalah silih berganti. 

Gelombang perebutan kekuasaan antar suku menyebabkan terombang-ambingnya kehidupan beragama itu. Pola pembinaan kehidupan beragama menjadi beragam, baik karena kepengikutan umat terhadap kelompok-kelompok suku bangsa, maupun karena adanya penafsiran yang saling berbeda terhadap ajaran yang diyakini.

Dan pertikaian yang panjang pada akhirnya suku Saka menjadi pemenang dibawah pimpinan Raja Kaniskha I yang dinobatkan menjadi Raja dan turunan Saka tanggal 1 (satu hari sesudah tilem) bulan 1 (caitramasa) tahun 01 Saka, pada bulan Maret tahun 78 masehi.

Dari sini dapat diketahui bahwa peringatan pergantian tarikh saka adalah hari keberhasilan kepemimpinan Raja Kaniskha I menyatukan bangsa yang tadinya bertikai dengan paham keagamaan yang saling berbeda.
Sejak tahun 78 Masehi itulah ditetapkan adanya tarikh atau perhitungan tahun Saka, yang satu tahunnya juga sama-sama memiliki 12 bulan dan bulan pertamanya disebut Caitramasa, bersamaan dengan bulan Maret tarikh Masehi dan Sasih Kesanga dalam tarikh Jawa dan Bali di Indonesia. Sejak itu pula kehidupan bernegara,
bermasyarakat dan beragama di India ditata ulang.

Oleh karena itu peringatan Tahun Baru Saka bermakna sebagai hari kebangkitan, hari pembaharuan, hari kebersamaan (persatuan dan kesatuan), hari toleransi, hari kedamaian sekaligus hari kerukunan nasional. Keberhasilan ini disebar-luaskan keseluruh daratan India dan Asia lainnya bahkan sampai ke Indonesia.
Aji Saka

Kehadiran Sang Pendeta Saka bergelar Aji Saka tiba di Jawa di Desa Waru Rembang Jawa Tengah tahun 456 Masehi, dimana pengaruh Hindu di Nusantara saat itu telah berumur 4,5 abad. Dinyatakan Sang Aji Saka disamping telah berhasil mensosialisasikan peringatan pergantian tahun saka ini, juga dan peristiwa yang dialami dua orang punakawan, pengiring atau caraka beliau diriwayatkan lahirnya aksara Jawa onocoroko doto sowolo mogobongo padojoyonyo. Karena Aji Saka diiringi dua orang punakawan yang sama-sama setia, samasama sakti, sama-sama teguh dan sama-sama mati dalam mempertahankan kebenaran demi pengabdiannya kepada Sang Pandita Aji Saka.

Rangkaian peringatan Pergantian Tahun Saka
Peringatan tahun Saka di Bali dilakukan dengan cara Nyepi (Sipeng) selama 24 jam dan ada rangkaian acaranya antara lain :

1. Upacara melasti, mekiyis dan melis
Intinya adalah penyucian bhuana alit (diri kita masing-masing) dan bhuana Agung atau alam semesta ini. Dilakukan di sumber air suci kelebutan, campuan, patirtan dan segara. Tapi yang paling banyak dilakukan adalah di segara karena sekalian untuk nunas tirtha amerta (tirtha yang memberi kehidupan) ngamet sarining amerta ring telenging segara. Dalam Rg Weda II. 35.3 dinyatakan Apam napatam paritasthur apah (Air yang murni baik dan mata air maupun dan laut, mempunyai kekuatan yang menyucikan).

2. Menghaturkan bhakti/pemujaan
Di Balai Agung atau Pura Desa di setiap desa pakraman, setelah kembali dari mekiyis.

3. Tawur Agung/mecaru
Di setiap catus pata (perempatan) desa/pemukiman, lambang menjaga keseimbangan. Keseimbangan buana alit, buana agung, keseimbangan Dewa, manusia Bhuta, sekaligus merubah kekuatan bhuta menjadi div/dewa (nyomiang bhuta) yang diharapkan dapat memberi kedamaian, kesejahteraan dan kerahayuan jagat (bhuana agung bhuana alit).

Dilanjutkan pula dengan acara ngerupuk/mebuu-buu di setiap rumah tangga, guna membersihkan lingkungan dari pengaruh bhutakala. Belakangan acara ngerupuk disertai juga dengan ogoh-ogoh (symbol bhutakala) sebagai kreativitas seni dan gelar budaya serta simbolisasi bhutakala yang akan disomyakan. (Namun terkadang sifat bhutanya masih tersisa pada orangnya).

4. Nyepi (Sipeng)
Dilakukan dengan melaksanakan catur brata penyepian (amati karya, amati geni, amati lelungan dan amati lelanguan).

5. Ngembak Geni.
Mulai dengan aktivitas baru yang didahului dengan mesima krama di lingkungan keluarga, warga terdekat (tetangga) dan dalam ruang yang lebih luas diadakan acara Dharma Santi seperti saat ini. Yadnya dilaksanakan karena kita ingin mencapai kebenaran. Dalam Yajur Weda XIX. 30 dinyatakan : Pratena diksam apnoti, diksaya apnoti daksina. Daksina sradham apnoti, sraddhaya satyam apyate.Artinya : Melalui pengabdian/yadnya kita memperoleh kesucian, dengan kesucian kita mendapat kemuliaan. Dengan kemuliaan kita mendapat kehormatan, dan dengan kehormatan kita memperoleh kebenaran.

http://kb.alitmd.com/sejarah-asal-mula-hari-raya-nyepi/

Note: Artikel ini di ambil dari http://kb.alitmd.com/sejarah-asal-mula-hari-raya-nyepu/ tanpa menambahkan atau mengurangi isi artikel dan tujuannya sebagai referensi bacaan dalam blog ini.

22.3.17

Perlukah Kata "Rakat" Menjadi Kata Baku Dalam Bahasa Indonesia?


Hanya sebagai hiburan...
Komentar bebas dari aplikasi permainan testony.com dalam medsos FB..Apa nama Rakat sesuai kepribadianmu? Dan saya pun mencoba aplikasi permaina ini dengan hasil Wara nama Rakatnya Mose...hehhee..

RAKAT....Moses menjadi Mose..Oh Rakat ganteng maksimal..kata Valentino..
Pasti pakar ITnya orang Timur...Alias Masyarakat Kat.. Kat...

Namun hal ini bagiku menarik dan perlu dikomentari secara bebas seperti di bawah ini:

"Rakat" Merupakan sebuah kata dalam bahasa Indonesia yakni dari kata "Masyarakat". Walaupun saat ini bukan sebuah kata baku dalam bahasa Indonesia bisa saja suatu saat akan dibakukan bahwa kata "Rakat" memiliki arti sebutan untuk orang Timur bukan untuk orang Timor saja heheee..Maklum cucu Goris Keraf bukan Kera Gori ya hehheh

Kata "Rakat" kian populer di kalangan para mahasiswa atau pun para perantau dari wilayah Timur Indonesia. Kata ini selalu dipakai sebagai sebutan bagi sesama saudara yang berasal dari Timur. 

Sebutan "Rakat" akan digunakan misalnya ketika orang Timur  yang berada di sebuah tempat di Jawa, ketika melihat seseorang atau sekelompok orang dari Timur lagi duduk atau sedang jalan - jalan namun mereka tidak saling kenal, maka hal yang paling pertama dibicarakan yakni "Itu Rakat" artinya sama - sama orang dari Timur.

Sebenarnya secara kewilayaan bahwa wilayah Timur Indonesia mencakupi Maluku dan Irian (Papua) sedangkan NTT dan Makasar berada di wilayah Indonesia bagian tengah.

Namun bagi sesama saudara kita yang berasal dari suku Jawa, Bali, Sumatera sangat sulit untuk membedakan letak wilayah antara NTT dan Makasar atau Papua sehingga sama - sama menyebutnya dengan sebutan "Orang Timur" maka dari itu... ya..kita ikhlaskan sajalah...karena bagi mereka "hitam kulit, keriting rambut itu identik orang timur. 

Akan tetapi dari semuanya itu benar juga bahwa sebutan itu ditujukan pada ciri fisik baik warna kulit dan tipe rambut yang memiliki kesamaan walaupun ada yang putih, hitam eksotis, hitam pekat, hitam manis, demikian juga ada yang berambut lurus, ombak, kribo, kerinting pekok, dan sebagainya, sehingga sebutan orang Timur atas dasar ciri fisik bukan secara kewilayaan.

Kita kembali ke kata "Rakat". Jadi bagi sesama masyarakat dari Timur menyebut sesama saudaranya dengan sebutan "Rakat" Itu hal yang biasa dan tidak merasa terusik atau tersinggung. Entah kapan dan siapa serta dimana awal mula penggunaan kata "rakat" untuk saat ini belum kita ketahui. Jelasnya kata "rakat" identik dan menjadi julukan bagi orang Timur.

Sapaan atau sebutan "Rakat" sering kita dengar ketika para mahasiswa atau para perantau yang berada di Jawa, Bali namun di daerah asalnya kata tersebut jarang  digunakan. Ini sesungguhnya hanya sebagai sapaan akrab di antara orang atau mahasiswa yang berasal dari Timur.

Entah apa alasannya, yang jelas untuk membangun suatu keakraban dan kesadaran pribadi dan kelompok bahwa kita satu, dan sama yakni "Masyarakat atau Rakat" atau orang yang berasal dari Timur.

Sesungguhnya sebutan "Rakat" bukan bermaksud mengarah pada suatu tindakan rasis atau merendahkan terhadap suku atau ras tertentu. Akan tetapi hanya menunjukan keakraban, sehingga tidak saling mencederai antara satu dengan yang lain oleh karena menggunakan kata Rakat tersebut.

Ada alasan lain hingga terciptanya sebuah kat "Rakat", mungkin saja dari kebiasaan orang Timur yang selalu berbicara cepat dan menghilangkan huruf terakhir dalam menyebutkan sebuah kata, baik kata kerja, benda ataupun kata sifat.Misalanya nama orang Nus hanya disapa Nu maka huruf 'S' hilang jadinya Nu..atau kata Kudus maka diucapkan menjadi 'kudu'.

Atau juga mengucapkan kata bahasa Indinesia dipengaruhi bahasa daerah seperti "Kamu pergi ke mana jadinya kamu pi mana? Saya sudah makan jadinya saya su makan. Kebiasaan seprti inilah  Sehingga kata "Masyarakat"Jadinya "Rakat". 

Ya mungkin saja begitu..atau ada kemungkinan lainnya..tergantung para Rakat menafsir sesuai dengan pemahamannya.Maka dengan kebiasaan semacam inilah maka trend kata rakat sudah mewabah hingga seantero nusantara bahkan dunia karena "ada rakat-rakat jenius yang membawanya ke sana...hahahha..asyik juga..bisa jadi sebuah artikel..

Sehingga fenomena ini dimanfaatkan oleh para penggila IT dengan menciptakan aplikasi berbasis web yang ramai digunakan di jejaringan sosial Facebook..maka aplikasi permainan seperti  nametes atau id testony.com memasukan kata "Rakat"..Maka akan muncul nama - nama  orang Timur yang menjadi ciri sebutan "Rakat".

By Wara Cypriano

Selamat mencoba para rakatsku yang budiman...hahahhhhaa..
#effectrevisianthesis

Note: Maaf tulisan ini hanya bersifat menghibur